Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KELAPA telah lama menjadi pilar ekonomi pedesaan Indonesia. Dengan luas perkebunan mencapai 3,32 juta hektare dan sekitar 98 persen dikelola petani kecil, komoditas ini menopang penghidupan lebih dari dua juta keluarga.
Indonesia juga menempati posisi kedua produsen kelapa dunia dengan produksi sekitar 2,86 juta ton (setara kopra) pada tahun 2025, serta mencatat nilai ekspor kelapa dan turunannya sebesar USD 1,4 miliar (sekitar Rp24 triliun) atau setara dengan 38,3 persen ekspor kelapa global.
Namun di balik capaian tersebut, produktivitas nasional masih relatif rendah, hanya sekitar 1,1 ton kopra per hektare, jauh di bawah potensi genetik tanaman. Di tengah tekanan perubahan iklim dan dinamika pasar global, kondisi ini menegaskan bahwa pengembangan kelapa tidak bisa lagi berjalan biasa-biasa saja, melainkan membutuhkan strategi yang lebih terarah agar petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Secara nasional, produksi kelapa dalam lima tahun ke depan diproyeksikan relatif stagnan. Pusdatin Kementan memperkirakan produksi setara kopra berfluktuasi di kisaran 2,82–2,86 juta ton pada 2023–2028, dengan rata-rata pertumbuhan hanya sekitar 0,38 persen per tahun.
Tanpa intervensi signifikan, tren ini menunjukkan bahwa keunggulan Indonesia berisiko terjebak pada volume semata, bukan nilai tambah. Karena itu, prospek kelapa menuju 2026 sangat ditentukan oleh keberhasilan hilirisasi, peremajaan kebun, adopsi teknologi, serta sinergi pendanaan dan pasar bagi UMKM.
Jika agenda ini dijalankan secara konsisten, Indonesia bukan hanya mempertahankan posisinya sebagai produsen utama, tetapi juga mampu tampil sebagai pemain kunci industri kelapa global yang memberikan kesejahteraan lebih besar bagi petani dan kontribusi ekonomi yang lebih optimal bagi negara.
Baca juga: Hilirisasi Kelapa: Berebut Bahan Baku, Mengejar Nilai Tambah
Ekspor nilai komoditas kelapa meningkat dalam satu dekade terakhir, dengan laju sekitar 4,48% per tahun. Perdagangan kelapa Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, meskipun nilai dan komposisi produknya masih bergantung pada beberapa jenis komoditas.
Data resmi menunjukkan nilai ekspor kelapa Indonesia terus tumbuh, mencerminkan permintaan global yang meningkat terhadap buah dan produk turunan kelapa Indonesia. Tren positif ini berlanjut di tahun 2025 dengan ekspor kelapa bulat dan produk turunannya naik signifikan, didorong terutama oleh permintaan dari pasar Asia seperti China, Vietnam, dan Malaysia.
Produk ekspor utama tetap didominasi oleh kelapa utuh dan produk minyak kelapa, meskipun proporsinya bervariasi antar periode. Sektor minyak kelapa (termasuk fraksi dan variasinya) masih menyumbang bagian besar nilai ekspor manufaktur kelapa, sementara komoditas lain seperti serat (sabut) dan produk kreatif turunannya masih relatif kecil kontribusinya dibanding potensi pasarnya.
Selain itu, ekspor arang tempurung dan produk hilir lain menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan, meski belum setara dengan kontribusi utama minyak dan buah kelapa. Kondisi ini mencerminkan pergeseran dinamika pasar dari produk primer ke produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Secara tujuan ekspor, China masih menjadi pasar utama kelapa Indonesia, mengambil sebagian besar nilai dan volume ekspor pada sepanjang 2025. BPS mencatat nilai ekspor kelapa bulat Indonesia sepanjang Januari–Oktober 2025 mencapai sekitar USD 208,2 juta, dengan China menyerap sekitar USD 171,3 juta dari total tersebut, jauh di atas negara tujuan lain seperti Vietnam dan Malaysia.
Hal ini menunjukkan ketergantungan yang kuat pada satu pasar besar, yang sekaligus membuka peluang dan risiko strategis jika permintaan global berubah di masa depan.
Sementara itu, sisi domestik juga menghadapi tantangan dan peluang baru. Lonjakan ekspor, khususnya kelapa utuh ke pasar Asia, mendorong harga kelapa lokal dan berdampak pada industri pengolahan dalam negeri yang berjuang bersaing mendapatkan bahan baku. Kondisi ini memicu wacana kebijakan pengaturan ekspor, termasuk kemungkinan pengenaan levi ekspor untuk menyeimbangkan ketersediaan bahan baku domestik dan stabilitas harga di pasar lokal, meskipun kebijakan finalnya masih dalam pembahasan pemerintah.
Melihat potensi produk hilir premium seperti minyak kelapa murni (VCO), air kelapa, santan dan serat kelapa, penguatan rantai nilai hilirisasi menjadi kunci agar Indonesia bisa menangkap nilai ekonomi yang lebih tinggi di pasar global.
Inisiatif ekspor produk olahan seperti eksport pertama santan beku dan air kelapa dari Kepulauan Riau ke China menunjukkan peluang besar untuk memperluas pangsa pasar produk bernilai tambah.
Upaya ini, jika dipadukan dengan peningkatan kapasitas produksi, standar mutu ekspor, dan diversifikasi tujuan pasar, dapat memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai pengekspor volume, tetapi sebagai pemain utama produk kelapa bernilai tinggi di dunia.
Baca juga: Hasil Survei: Harga Kelapa Mahal Karena Diekspor, Perlu Aturan DMO
Pemerintah kian menyadari bahwa hilirisasi kelapa harus didorong secara lebih masif dan terstruktur. Kementerian Pertanian beserta seluruh jajaran pemerintah tentu menjadi motor penggerak utama. Direktorat Jenderal Perkebunan melalui program hilirisasi perkebunan dan kelapa sebagai salah satu komoditas utama juga bermaksud mengejar ketertinggalan sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Kementan bersama Kementerian Investasi/BKPM mendorong pembangunan fasilitas pengolahan skala besar di sentra-sentra produksi. Pada 2025–2026, sedikitnya tiga pabrik pengolahan dibangun di Maluku Utara, disusul rencana pabrik senilai sekitar US$100 juta di Morowali, Sulawesi Tengah, yang diproyeksikan menyerap hingga 10.000 tenaga kerja dan mengolah sekitar 500 juta butir kelapa per tahun.
Sejalan dengan arahan Presiden agar komoditas perkebunan tidak berhenti di hulu, Kementan juga menargetkan pengembangan 220 ribu hektare kawasan kelapa hingga 2027, penyiapan pabrik-pabrik pengolahan di berbagai daerah, serta program peremajaan varietas unggul untuk memperkuat fondasi industri hilir kelapa nasional. Transformasi ini mulai menarik minat investor, baik nasional maupun asing.
Di Maluku Utara, pelaku usaha lokal telah mengembangkan industri minyak kelapa murni (VCO) dan olahan air kelapa yang menembus pasar ekspor, termasuk ke China. Di Sulawesi Tengah, investasi besar dari China tengah membangun pabrik pengolahan kelapa bernilai ratusan juta dolar AS, menandai meningkatnya kepercayaan investor terhadap potensi industri kelapa Indonesia.
Tren global terhadap produk “superfood” seperti VCO, santan instan, dan produk berbasis sabut membuka peluang baru bagi pengolahan modern. Kementan mencatat ekspor VCO, arang tempurung, dan serat kelapa menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan, mengubah limbah menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Kehadiran jaringan industri hilir ini tidak hanya menciptakan ribuan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat rantai nilai kelapa dari kebun hingga pasar global. Namun, sektor kelapa tentu dihadapkan pada dinamika pasar global yang tidak ringan. Karena itu, hilirisasi dan penguatan rantai pasok menjadi keharusan strategis.
Dengan industri pengolahan yang kuat di dalam negeri, Indonesia tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, tetapi juga menstabilkan harga, memperbaiki posisi tawar petani, dan memastikan manfaat ekonomi kelapa terdistribusi lebih adil.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya