Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Riza Rahman Hakim, S.Pi, MSc
Dosen

Dosen Prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang dan Research Fellow PKSPL IPB University

Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global

Kompas.com, 14 Januari 2026, 07:53 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BARU saja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis capaian sektor kelautan dan perikanan Indonesia Tahun 2025. Salah satunya adalah data tentang total produksi perikanan Tahun 2025 yang mencapai 18,64 juta ton (hingga Tri Wulan III). Produksi ini meningkat 2,19ri periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika ditotal hasil produksi dari perikanan budidaya termasuk rumput laut adalah 13,21 juta ton dan perikanan tangkap 5,43 juta ton. Tentu ini sebuah capaian yang baik, disaat ancaman krisis iklim dan menyusutnya lahan daratan, dunia mulai menoleh ke arah samudera/laut.

Kemudian muncul sebuah konsep pangan masa depan yang disebut sebagai Blue Food (pangan biru). Diantara sumber Blue Food lokal yang dimiliki Indonesia adalah ikan bandeng (Chanos chanos), yang jumlah produksinya di Tahun 2024 mencapai 792.863,87 ton untuk budidaya pembesaran (KKP, 2025).

Selama ini bandeng dicitrakan sebagai komoditas yang ‘merakyat’ dan tradisional, namun di sinilah terdapat peluang besar untuk memimpin revolusi pangan Indonesia, dengan satu syarat bandeng harus ‘naik kelas’.

Mengapa Blue Food? Konsep Blue Food merujuk pada pangan yang berasal dari sumber daya perairan, baik laut, sungai, maupun danau, yang diproduksi secara berkelanjutan. Keunggulan pangan biru diantaranya adalah memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan protein hewani di darat, namun kaya akan nutrisi esensial seperti Omega-3, protein tinggi, dan mikronutrien yang krusial untuk mencegah stunting.

Bagi Indonesia, bandeng bisa menjadi salah satu kandidat utama dalam peta jalan Blue Food nasional. Ikan ini memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap perubahan lingkungan dan penyakit, terutama sifatnya yang euryhaline yakni memilki kemampuan hidup pada kisaran salinitas yang luas (0-45 ppt).

Sayangnya, citra bandeng seringkali terjebak dalam batas-batas tambak pesisir yang konvensional. Begitu pula terdapat faktor penghambat untuk bersaing di pasar global, seperti bau lumpur, kontaminasi limbah di pesisir, hingga alih fungsi lahan mangrove. Di sinilah perlunya teknologi Keramba Jaring Apung (KJA) laut hadir sebagai solusi transformatif.

Baca juga: Bandeng Asap, Oleh-Oleh Kuliner Khas Sidoarjo Tanpa Bau Lumpur

Transformasi dari Tambak ke KJA Laut

Memindahkan budidaya bandeng dari tambak pesisir ke laut lepas menggunakan sistem KJA adalah langkah besar untuk membuat bandeng naik kelas. Keunggulan budidaya bandeng di KJA laut adalah kualitas lingkungan hidup yang lebih baik karena sirkulasi air terjadi secara alami dan berkelanjutan dari arus laut, bisa padat tebar tinggi hingga 125 ekor per m3 sampai panen, tanpa daya listrik, serta tanpa perlu treatment air secara khusus seperti pemupukan maupun pemberian probiotik.

Hasilnya juga cukup signifikan. Pertama, masalah klasik bau lumpur/tanah yang sering dikeluhkan konsumen bisa hilang sepenuhnya, karena ikan tidak lagi bersentuhan dengan substrat dasar tambak.

Kedua, kandungan nutrisi bandeng laut cenderung lebih baik karena mereka hidup di air dengan salinitas yang stabil dan kaya oksigen. Hal ini diperkuat oleh hasil riset Hakim et al. (2025), yang menyebutkan bahwa kandungan protein bandeng dari budidaya di KJA laut sebesar 40,96%. Kadar protein ini lebih tinggi dari bandeng hasil budidaya di tambak sebesar 24,18% (Malle et al, 2019).

Ketiga, densitas atau padat tebar yang lebih tinggi namun tetap higienis. Ini berarti meningkatkan efisiensi produksi tanpa merusak ekosistem mangrove pesisir. Agar tetap dalam bingkai keberlanjutan, maka perlu diperhatikan juga daya dukung (carrying capacity) dari setiap perairan tempat KJA.

Baca juga: Cara Mengeluarkan Tulang Bandeng dengan Mudah

Ilustrasi Keramba Jaring Apung Sebagai Wadah Budidaya IkanKompas.com/Rahma Atillah Ilustrasi Keramba Jaring Apung Sebagai Wadah Budidaya Ikan

Strategi Ekonomi dan Target Pasar Global

Bagaimana agar benar-benar bandeng naik kelas? Jawaban singkatnya adalah bandeng tidak boleh hanya berakhir di pasar tradisional dengan harga rendah. Dengan sistem KJA laut mestinya bisa menaikkan citra bandeng, yang dulunya bandeng kualitas biasa menjadi bandeng premium.

Kelebihan bandeng premium laut, seperti rasa yang lebih gurih dan tanpa bau lumpur, kandungan protein yang tinggi, sisik lebih bersih, ukuran seragam, dan tekstur daging yang lebih padat, bisa dijadikan standar untuk memenuhi pasar ekspor.

Selama ini, pasar internasional juga sangat ketat mengenai standar keamanan pangan dan keberlanjutan. Budidaya di laut lepas bisa memberikan kendali lebih baik terhadap kebersihan produk. Jika dibarengi dengan sertifikasi budidaya berkelanjutan, bandeng KJA laut Indonesia bisa bersaing dengan komoditas ikan ekspor lainnya.

Ini bukan sekadar mimpi, namun ini adalah peluang ekonomi yang bisa meningkatkan devisa negara sekaligus mengangkat derajat hidup para pembudidaya ikan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau