
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
BARU saja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis capaian sektor kelautan dan perikanan Indonesia Tahun 2025. Salah satunya adalah data tentang total produksi perikanan Tahun 2025 yang mencapai 18,64 juta ton (hingga Tri Wulan III). Produksi ini meningkat 2,19ri periode yang sama tahun sebelumnya.
Jika ditotal hasil produksi dari perikanan budidaya termasuk rumput laut adalah 13,21 juta ton dan perikanan tangkap 5,43 juta ton. Tentu ini sebuah capaian yang baik, disaat ancaman krisis iklim dan menyusutnya lahan daratan, dunia mulai menoleh ke arah samudera/laut.
Kemudian muncul sebuah konsep pangan masa depan yang disebut sebagai Blue Food (pangan biru). Diantara sumber Blue Food lokal yang dimiliki Indonesia adalah ikan bandeng (Chanos chanos), yang jumlah produksinya di Tahun 2024 mencapai 792.863,87 ton untuk budidaya pembesaran (KKP, 2025).
Selama ini bandeng dicitrakan sebagai komoditas yang ‘merakyat’ dan tradisional, namun di sinilah terdapat peluang besar untuk memimpin revolusi pangan Indonesia, dengan satu syarat bandeng harus ‘naik kelas’.
Mengapa Blue Food? Konsep Blue Food merujuk pada pangan yang berasal dari sumber daya perairan, baik laut, sungai, maupun danau, yang diproduksi secara berkelanjutan. Keunggulan pangan biru diantaranya adalah memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan protein hewani di darat, namun kaya akan nutrisi esensial seperti Omega-3, protein tinggi, dan mikronutrien yang krusial untuk mencegah stunting.
Bagi Indonesia, bandeng bisa menjadi salah satu kandidat utama dalam peta jalan Blue Food nasional. Ikan ini memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap perubahan lingkungan dan penyakit, terutama sifatnya yang euryhaline yakni memilki kemampuan hidup pada kisaran salinitas yang luas (0-45 ppt).
Sayangnya, citra bandeng seringkali terjebak dalam batas-batas tambak pesisir yang konvensional. Begitu pula terdapat faktor penghambat untuk bersaing di pasar global, seperti bau lumpur, kontaminasi limbah di pesisir, hingga alih fungsi lahan mangrove. Di sinilah perlunya teknologi Keramba Jaring Apung (KJA) laut hadir sebagai solusi transformatif.
Baca juga: Bandeng Asap, Oleh-Oleh Kuliner Khas Sidoarjo Tanpa Bau Lumpur
Memindahkan budidaya bandeng dari tambak pesisir ke laut lepas menggunakan sistem KJA adalah langkah besar untuk membuat bandeng naik kelas. Keunggulan budidaya bandeng di KJA laut adalah kualitas lingkungan hidup yang lebih baik karena sirkulasi air terjadi secara alami dan berkelanjutan dari arus laut, bisa padat tebar tinggi hingga 125 ekor per m3 sampai panen, tanpa daya listrik, serta tanpa perlu treatment air secara khusus seperti pemupukan maupun pemberian probiotik.
Hasilnya juga cukup signifikan. Pertama, masalah klasik bau lumpur/tanah yang sering dikeluhkan konsumen bisa hilang sepenuhnya, karena ikan tidak lagi bersentuhan dengan substrat dasar tambak.
Kedua, kandungan nutrisi bandeng laut cenderung lebih baik karena mereka hidup di air dengan salinitas yang stabil dan kaya oksigen. Hal ini diperkuat oleh hasil riset Hakim et al. (2025), yang menyebutkan bahwa kandungan protein bandeng dari budidaya di KJA laut sebesar 40,96%. Kadar protein ini lebih tinggi dari bandeng hasil budidaya di tambak sebesar 24,18% (Malle et al, 2019).
Ketiga, densitas atau padat tebar yang lebih tinggi namun tetap higienis. Ini berarti meningkatkan efisiensi produksi tanpa merusak ekosistem mangrove pesisir. Agar tetap dalam bingkai keberlanjutan, maka perlu diperhatikan juga daya dukung (carrying capacity) dari setiap perairan tempat KJA.
Baca juga: Cara Mengeluarkan Tulang Bandeng dengan Mudah
Ilustrasi Keramba Jaring Apung Sebagai Wadah Budidaya IkanBagaimana agar benar-benar bandeng naik kelas? Jawaban singkatnya adalah bandeng tidak boleh hanya berakhir di pasar tradisional dengan harga rendah. Dengan sistem KJA laut mestinya bisa menaikkan citra bandeng, yang dulunya bandeng kualitas biasa menjadi bandeng premium.
Kelebihan bandeng premium laut, seperti rasa yang lebih gurih dan tanpa bau lumpur, kandungan protein yang tinggi, sisik lebih bersih, ukuran seragam, dan tekstur daging yang lebih padat, bisa dijadikan standar untuk memenuhi pasar ekspor.
Selama ini, pasar internasional juga sangat ketat mengenai standar keamanan pangan dan keberlanjutan. Budidaya di laut lepas bisa memberikan kendali lebih baik terhadap kebersihan produk. Jika dibarengi dengan sertifikasi budidaya berkelanjutan, bandeng KJA laut Indonesia bisa bersaing dengan komoditas ikan ekspor lainnya.
Ini bukan sekadar mimpi, namun ini adalah peluang ekonomi yang bisa meningkatkan devisa negara sekaligus mengangkat derajat hidup para pembudidaya ikan.