
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
HAMPARAN kebun teh di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, merekam denyut penting industri teh nasional. Di tengah dinamika global yang kian bergejolak, perkebunan teh rakyat justru tampil sebagai tulang punggung produksi teh Indonesia.
Namun, tantangannya nyata. Di berbagai negara produsen utama, harga teh dunia sedang tertekan. Di India, harga lelang teh anjlok lebih dari 10% hanya dalam sebulan hingga pertengahan Januari 2026. Bangladesh mengalami stagnasi harga di awal tahun, sementara petani di Afrika Timur ikut merasakan dampaknya.
Kenya bahkan harus menaikkan harga beli daun teh segar mulai Februari 2026 sebagai langkah darurat melindungi pendapatan petani setelah bonus tahunan mereka merosot. Sinyalnya sangat jelas, pasar global sedang lesu, dan petani berada di garis terdepan tekanan tersebut.
Di saat bersamaan, peta permintaan teh dunia juga tengah bergeser. Konsumen global makin meninggalkan teh curah dan beralih ke produk bernilai tambah seperti teh kemasan ritel, kantong celup, teh instan, hingga teh hijau yang dianggap praktis dan premium. Di Sri Lanka, lebih dari separuh ekspor tehnya kini berupa produk siap seduh, bukan lagi teh curah dalam karung besar.
Tren ini menegaskan satu hal, daya saing industri teh tidak lagi ditentukan oleh volume semata, melainkan oleh inovasi dan hilirisasi.
Baca juga: Cara Menyeduh Teh agar Sempurna, Beda Jenis Beda Caranya
Tekanan pasar global ikut membebani industri teh Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, kinerja ekspor teh nasional terus menurun tajam. Pada 2024, volume ekspor hanya sekitar 34 ribu ton senilai US$52,8 juta, turun dari 35,9 ribu ton (US$69 juta atau sekitar Rp1,16 triliun) pada 2023, dan merosot jauh dibandingkan 2005 yang masih mencapai 102 ribu ton.
Ironisnya, di saat ekspor melemah, impor teh justru meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada 2024 mencapai 13 ribu ton senilai US$31 juta (Rp.520 miliar), melonjak dari 9,6 ribu ton setahun sebelumnya.
Paradoks ini menegaskan problem struktural industri teh nasional, produksi dan ekspor kian menyusut, sementara konsumsi domestik tumbuh sehingga pasar dalam negeri justru disuplai produk impor.
Data BPS menunjukkan luas areal perkebunan teh menyusut dari 114,9 ribu hektare satu dekade lalu menjadi hanya 97,5 ribu hektare pada 2024. Produksi teh kering pun turun menjadi 118,9 ribu ton, dari 132,6 ribu ton pada 2015.
Rendahnya harga pucuk teh segar menekan kelayakan usaha petani, memaksa penghematan perawatan kebun yang berdampak pada turunnya produktivitas. Rantai efeknya panjang, yaitu pasokan bahan baku berkurang, pabrik teh tutup, ekspor melemah, dan celah pasar diisi impor. Siklus negatif ini, jika dibiarkan, berisiko makin menggerus posisi teh Indonesia.
Namun, di balik tekanan tersebut, peluang justru terbuka lebar. Konsumsi teh domestik terus tumbuh. Secara global, teh merupakan minuman terpopuler kedua setelah air putih dengan pertumbuhan konsumsi 5–6% per tahun.
Ketua Dewan Teh Indonesia, Iriana Ekasari, menegaskan bahwa narasi kemunduran kerap hanya melihat sisi hulu, padahal di hilir trennya berlawanan. Produksi turun, konsumsi naik, menandakan adanya celah pasar besar yang belum dimanfaatkan industri nasional.
Peluang ini diperkuat oleh pergeseran struktur produksi. Perkebunan rakyat kini menjadi tulang punggung industri teh, menguasai porsi terbesar luas areal dan output. Di saat gaya hidup milenial dan Gen Z mendorong konsumsi teh di kafe dan minuman siap saji, tantangannya adalah merebut kembali pasar domestik yang kini dipenuhi produk impor.
Kualitas teh lokal, khususnya teh hitam dari Jawa, sejatinya mampu bersaing. Kuncinya terletak pada hilirisasi, inovasi produk, dan kolaborasi rantai nilai agar keunggulan teh Indonesia kembali berdaulat di negeri sendiri.
Baca juga: Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Potensi nilai tambah dari hilirisasi sangat besar dan nyata. Di tingkat petani, harga pucuk teh basah berkisar Rp2.500 per kg. Setelah diolah menjadi teh kering dengan rendemen sekitar 20%, nilainya setara Rp12.500 per kg. Namun ketika produk tersebut diproses lebih lanjut menjadi teh bermerek dengan kemasan menarik atau specialty tea, harganya bisa melonjak hingga Rp250.000 per kg.
Artinya, ada peluang peningkatan nilai hingga 20 kali lipat yang selama ini terbuang jika teh hanya dijual sebagai komoditas mentah. Dengan hilirisasi, nilai ekonomi yang tercipta dapat dinikmati pelaku dalam negeri, sekaligus membuka peluang merebut kembali pasar domestik yang kini dikuasai produk impor.
Namun, hilirisasi tak akan berkelanjutan tanpa pembenahan serius di sisi hulu. Kualitas bahan baku adalah fondasi utama. Tekanan harga rendah selama ini mendorong praktik petik kasar demi mengejar volume, yang justru menurunkan mutu dan merusak produktivitas tanaman.
Petani yang memetik pucuk halus berkualitas tinggi harus mendapat insentif harga, sementara petikan yang mencampur daun tua dan batang diberi harga lebih rendah. Selain itu, perlu pelarangan pemetikan hingga ke stalk atau batang kayu karena tidak memberi nilai cita rasa dan merusak tanaman.
Kebijakan semacam ini, sebagaimana dipraktikkan di negara produsen besar seperti Kenya, terbukti memberi kepastian pendapatan sekaligus mendorong peningkatan kualitas.
Upaya peningkatan mutu ini diperkuat dengan rintisan Standar Teh Indonesia (STI) yang mencakup praktik budidaya dan pengolahan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Sertifikasi yang kredibel akan membuka kembali akses teh Indonesia ke pasar premium global yang menuntut kualitas dan ketertelusuran.
Di sisi hilir, tantangan berikutnya adalah pemasaran. Indonesia memiliki kekayaan varian teh, dari teh hitam pegunungan Jawa, teh melati, hingga teh putih dan oolong local, yang bisa diangkat melalui branding dan storytelling berbasis budaya dan asal-usul.
Munculnya startup teh, kafe teh modern, serta wisata kebun teh menunjukkan bahwa teh bisa tampil relevan dan “kekinian”. Dengan dukungan promosi, pembiayaan, dan kolaborasi lintas pelaku, hilirisasi berbasis perkebunan rakyat berpeluang menjadi motor kebangkitan industri teh nasional.
Tren hidup sehat global juga mendorong permintaan teh hijau dan teh herbal, sebuah ceruk yang bisa diisi Indonesia melalui kekayaan biodiversitasnya, mulai dari rosella hingga krisan, asalkan mutu dan konsistensi terjaga.
Di pasar ekspor, peluang pun tetap ada. Alih-alih bertarung di pasar volume dengan teh murah, Indonesia dapat membidik segmen niche bernilai tinggi.
Namun, kebangkitan teh nasional hanya mungkin terwujud melalui kerja kolektif yang berkesinambungan. Pemerintah perlu memastikan kebijakan pro-petani dan pro-hilirisasi berjalan nyata. Industri dituntut berani berinvestasi pada inovasi dan teknologi, sementara petani sebagai ujung tombak harus diberdayakan lewat peremajaan kebun, praktik petik yang baik, dan kemitraan yang saling menguntungkan.
Peningkatan produksi di hulu harus diiringi kesiapan sektor tengah dan hilir agar seluruh rantai bergerak seirama. Dengan mengusung kualitas, nilai tambah, dan keberlanjutan, teh Indonesia berpeluang menghidupkan kembali kejayaannya.
Baca juga: Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang