
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
ASAP tipis mengepul dari dapur sederhana di sudut desa. Di atas tungku kayu, nira aren dimasak perlahan hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat pekat. Prosesnya tidak tergesa-gesa. Ada ritme yang dijaga, ada pengalaman yang diwariskan.
Bagi sebagian orang, ini sekadar tradisi lama. Namun bagi banyak desa, gula aren kini menjelma menjadi tanda kebangkitan ekonomi berbasis alam. Di tengah berbagai tantangan pertanian, dari perubahan iklim hingga naiknya biaya input, aren justru menawarkan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak tumbuh dalam sistem monokultur luas yang rentan, melainkan dalam bentang kebun campuran yang lebih alami. Di sinilah letak kekuatannya: aren bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari sistem agroforestri yang menyatu dengan lingkungan desa.
Baca juga: Gula Aren Organik Pacitan Tembus Belanda hingga Australia, Ekspor Perdana Dilepas Menteri Desa
Selama bertahun-tahun, aren sering dipandang sebagai tanaman pelengkap. Ia tumbuh di lereng, di tepi hutan, atau di kebun campuran tanpa banyak intervensi. Namun belakangan, pasar mulai melihat potensi yang selama ini terlewat. Tren konsumsi gula alami dan produk pangan minim proses, mendorong permintaan gula aren baik di pasar domestik maupun ekspor.
Indikasi itu tercermin dalam data ekspor nasional yang juga mencatat kenaikan nilai dan volume. Menandakan komoditas ini mulai menemukan ceruk pasarnya di perdagangan internasional. Data BPS yang diolah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mencatat nilai ekspor gula aren Indonesia naik sekitar 9,8 persen menjadi USD 58,01 juta dengan volume sekitar 31,41 ribu ton sepanjang Januari–Oktober 2024, mencerminkan tren positif dalam penetrasi pasar global komoditas ini.
Yang menarik, sebagian besar proses produksi gula aren masih berbasis rumah tangga. Artinya, nilai ekonomi yang tercipta tidak berhenti di tingkat pedagang besar, melainkan langsung mengalir ke dapur-dapur produksi di desa.
Baca juga: Mengapa Tren Kopi Gula Aren Bisa Bertahan Hampir 10 Tahun?
Berbeda dengan tanaman semusim, aren adalah tanaman tahunan yang dapat produktif selama puluhan tahun. Ia tumbuh berdampingan dengan pohon kayu, buah-buahan, dan tanaman sela lain. Sistem ini membentuk agroforestri alami, model pertanian yang memadukan pepohonan dengan tanaman budidaya dalam satu hamparan.
Secara ekologis, pola ini memiliki banyak keunggulan. Tajuk pohon membantu menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, dan memperbaiki struktur lahan. Akar yang dalam membantu menyimpan air, sementara keberagaman vegetasi meningkatkan ketahanan terhadap hama dan perubahan cuaca ekstrem.
Dalam konteks perubahan iklim, sistem seperti ini menjadi semakin relevan. Ketika pertanian monokultur rentan terhadap fluktuasi cuaca, agroforestri cenderung lebih adaptif. Aren, dengan sifatnya yang relatif tahan dan tidak memerlukan input kimia tinggi, menjadi bagian penting dari sistem tersebut.
Baca juga: Ingin Berbisnis Gula Aren? Simak Tips dari Owner Asa Palm Sugar Preanger Ini
Keunggulan lain aren adalah hampir tidak ada bagian yang terbuang. Nira diolah menjadi gula cetak, gula semut, atau sirup. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana. Seratnya digunakan untuk sapu atau kerajinan. Bahkan limbahnya bisa menjadi bahan bakar atau kompos.
Model ini memperlihatkan satu hal penting: nilai ekonomi desa tidak selalu bertumpu pada hasil utama saja, tetapi pada kemampuan mengelola seluruh potensi yang ada. Dalam konteks ekonomi sirkular, aren memberi contoh konkret bagaimana sisa produksi dapat kembali dimanfaatkan tanpa menciptakan limbah berarti.
Bagi rumah tangga desa, diversifikasi ini penting. Ketika harga satu produk turun, masih ada produk turunan lain yang bisa diandalkan. Dengan demikian, risiko ekonomi dapat ditekan.
Baca juga: Gula Aren Cair Sumut Kian Berjaya, Raih Omzet Ratusan Juta hingga Tembus Pasar Ekspor Global
Produksi gula aren juga membuka ruang partisipasi sosial yang luas. Di banyak desa, perempuan memegang peran penting dalam proses pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran. Aktivitas ini tidak hanya menambah pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat posisi ekonomi perempuan di tingkat rumah tangga.
Lebih jauh, ketika pengolahan mulai dikemas dalam bentuk usaha kecil atau koperasi, muncul peluang bagi generasi muda untuk terlibat. Penggunaan kemasan modern, pemasaran digital, hingga pengembangan merek lokal menjadi pintu masuk anak muda desa untuk kembali melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan. Ini penting di tengah isu regenerasi petani yang kerap menjadi sorotan.
Ketika sektor pertanian mampu menghadirkan nilai tambah dan identitas produk yang kuat, persepsi terhadap profesi di sektor ini pun perlahan berubah.
Baca juga: Kisah Sukses Petani Milenial di Pacitan, Ekspor Gula Aren ke Kanada dengan Omzet Belasan Juta Rupiah
Meski potensinya besar, pengembangan gula aren berbasis agroforestri tidak lepas dari tantangan. Standarisasi mutu, konsistensi kualitas, dan akses pasar masih menjadi PR. Banyak produsen skala kecil belum memiliki sertifikasi yang dibutuhkan untuk menembus pasar modern atau ekspor.
Selain itu, proses produksi tradisional sering menghadapi keterbatasan teknologi. Tungku yang kurang efisien, pengemasan sederhana, dan minimnya akses pembiayaan dapat membatasi skala usaha.
Namun tantangan ini bukan hambatan permanen. Dengan pendampingan yang tepat, pelatihan, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha kecil, rantai nilai gula aren dapat diperkuat. Penguatan koperasi, kemitraan dengan pelaku industri pangan, serta promosi berbasis identitas geografis menjadi langkah strategis yang bisa ditempuh.
Di Desa Pasigitan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, aren bukan sekadar pohon pelengkap. Masyarakat desa mengelola nira aren menjadi gula aren curah melalui industri rumah tangga, yang produktivitasnya cukup menjanjikan dan potensial masuk ke pasar lebih luas.
Untuk membantu para pelaku usaha ini memenuhi standar pangan modern, pendampingan produksi diarahkan agar produk mereka mengantongi sertifikasi PIRT (Izin Produksi Industri Rumah Tangga) — sebuah langkah strategis agar produk gula aren dapat dipasarkan lebih luas, bahkan kepada pemasok gula untuk pasar ekspor.
Baca juga: Kisah Keluarga Karyanto, Turun Temurun Produksi Gula Aren di Desa Gunung Wangi
Yang membuat aren istimewa bukan hanya potensi ekonominya, tetapi juga kesesuaiannya dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Ia tidak menuntut pembukaan lahan besar-besaran. Ia tumbuh dalam sistem yang menjaga tutupan vegetasi. Ia menghasilkan produk bernilai tanpa harus mengorbankan lingkungan.
Di tengah dorongan hilirisasi dan penguatan UMKM berbasis desa, gula aren memberi contoh bahwa industrialisasi tidak selalu harus berskala besar, tetapi bisa berangkat dari kebun-kebun kecil yang dikelola dengan visi jangka panjang. Ketika dunia berbicara tentang ekonomi hijau dan pangan berkelanjutan, gula aren sesungguhnya telah lama mempraktikkannya dalam skala desa.
Asap tipis dari tungku itu mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, tersimpan cerita tentang ketekunan, adaptasi, dan harapan. Aren mengajarkan bahwa kebangkitan ekonomi tidak selalu datang dari sesuatu yang baru, melainkan dari cara baru memandang yang sudah lama ada.
Jika dikelola dengan visi yang tepat, gula aren bukan sekadar pemanis dalam secangkir minuman. Ia bisa menjadi penopang masa depan ekonomi desa, berakar kuat di tanahnya sendiri, dan tumbuh selaras dengan alam yang menjaganya.
Baca juga: Menyimak Pembuatan Gula Aren Organik oleh Produsen di Sukabumi
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang