Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global

Kompas.com, 10 Maret 2026, 07:33 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Negara seperti Pakistan, Rusia, dan Malaysia yang selama ini menjadi pembeli penting teh Indonesia mulai mengalihkan impor mereka ke pemasok lain. Padahal secara global konsumsi teh justru terus meningkat, dengan pertumbuhan permintaan diperkirakan sekitar 3 persen per tahun.

Artinya peluang pasar masih terbuka, tetapi Indonesia kesulitan memanfaatkannya karena kalah bersaing dalam harga, kualitas, dan kontinuitas pasokan. Selain tekanan persaingan, hambatan teknis perdagangan juga menjadi tantangan serius bagi ekspor teh Indonesia.

Negara tujuan ekspor kini semakin ketat menerapkan standar keamanan pangan, terutama terkait batas residu pestisida. Salah satu contoh yang pernah berdampak besar adalah kebijakan Uni Eropa mengenai batas residu anthraquinone yang sangat rendah. Kebijakan tersebut menyebabkan sebagian teh Indonesia tidak memenuhi persyaratan ekspor sehingga volume pengiriman ke pasar Eropa sempat turun hingga ribuan ton setiap tahun.

Kasus ini menunjukkan bahwa daya saing ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan memenuhi standar mutu internasional yang semakin ketat.

Persoalan lain yang sering luput dari perhatian adalah rendahnya tingkat hilirisasi industri teh di dalam negeri. Hingga kini lebih dari 90 persen ekspor teh Indonesia masih berupa teh curah atau daun teh kering yang memiliki nilai tambah relatif rendah.

Padahal produk olahan seperti teh celup, minuman teh siap minum, ekstrak teh, maupun teh organik memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasar global.

Sayangnya kontribusi produk hilir dalam ekspor teh Indonesia diperkirakan baru sekitar 6 persen dari total ekspor. Ketergantungan pada ekspor bahan baku membuat nilai ekspor sulit meningkat meskipun produksi tetap berjalan.

Dampaknya tidak hanya terasa pada perdagangan internasional, tetapi juga pada kehidupan masyarakat di daerah penghasil teh. Perkebunan teh yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi ribuan petani perlahan kehilangan perannya.

Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan salah satu warisan agrarisnya yang telah bertahan sejak masa kolonial.

Baca juga: Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan

Agenda Penyelamatan Industri Teh

Situasi ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Industri teh nasional masih memiliki potensi besar untuk bangkit jika ditangani dengan strategi yang tepat dan konsisten. Langkah mendesak yang perlu dilakukan adalah program peremajaan kebun teh secara besar-besaran, mengganti tanaman tua dengan varietas unggul yang lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Di saat yang sama, modernisasi sistem budidaya dan pengolahan harus dipercepat melalui mekanisasi pertanian, penguatan riset varietas baru, serta peningkatan kapasitas petani. Standar mutu produksi juga perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi persyaratan pasar internasional, termasuk melalui pendampingan penggunaan pestisida yang aman serta perluasan sertifikasi mutu dan keamanan pangan.

Di sisi hilir, pemerintah perlu mendorong investasi pada pengolahan teh bernilai tambah tinggi, mulai dari teh kemasan premium hingga produk pangan fungsional berbasis teh. Promosi dan diplomasi perdagangan sangat dibutuhkan untuk membuka pasar baru di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, maupun Amerika Utara.

Baca juga: Menguatkan Posisi Teh Indonesia di Pasar Global

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau