
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Negara seperti Pakistan, Rusia, dan Malaysia yang selama ini menjadi pembeli penting teh Indonesia mulai mengalihkan impor mereka ke pemasok lain. Padahal secara global konsumsi teh justru terus meningkat, dengan pertumbuhan permintaan diperkirakan sekitar 3 persen per tahun.
Artinya peluang pasar masih terbuka, tetapi Indonesia kesulitan memanfaatkannya karena kalah bersaing dalam harga, kualitas, dan kontinuitas pasokan. Selain tekanan persaingan, hambatan teknis perdagangan juga menjadi tantangan serius bagi ekspor teh Indonesia.
Negara tujuan ekspor kini semakin ketat menerapkan standar keamanan pangan, terutama terkait batas residu pestisida. Salah satu contoh yang pernah berdampak besar adalah kebijakan Uni Eropa mengenai batas residu anthraquinone yang sangat rendah. Kebijakan tersebut menyebabkan sebagian teh Indonesia tidak memenuhi persyaratan ekspor sehingga volume pengiriman ke pasar Eropa sempat turun hingga ribuan ton setiap tahun.
Kasus ini menunjukkan bahwa daya saing ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan memenuhi standar mutu internasional yang semakin ketat.
Persoalan lain yang sering luput dari perhatian adalah rendahnya tingkat hilirisasi industri teh di dalam negeri. Hingga kini lebih dari 90 persen ekspor teh Indonesia masih berupa teh curah atau daun teh kering yang memiliki nilai tambah relatif rendah.
Padahal produk olahan seperti teh celup, minuman teh siap minum, ekstrak teh, maupun teh organik memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasar global.
Sayangnya kontribusi produk hilir dalam ekspor teh Indonesia diperkirakan baru sekitar 6 persen dari total ekspor. Ketergantungan pada ekspor bahan baku membuat nilai ekspor sulit meningkat meskipun produksi tetap berjalan.
Dampaknya tidak hanya terasa pada perdagangan internasional, tetapi juga pada kehidupan masyarakat di daerah penghasil teh. Perkebunan teh yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi ribuan petani perlahan kehilangan perannya.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan salah satu warisan agrarisnya yang telah bertahan sejak masa kolonial.
Baca juga: Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan
Situasi ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Industri teh nasional masih memiliki potensi besar untuk bangkit jika ditangani dengan strategi yang tepat dan konsisten. Langkah mendesak yang perlu dilakukan adalah program peremajaan kebun teh secara besar-besaran, mengganti tanaman tua dengan varietas unggul yang lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Di saat yang sama, modernisasi sistem budidaya dan pengolahan harus dipercepat melalui mekanisasi pertanian, penguatan riset varietas baru, serta peningkatan kapasitas petani. Standar mutu produksi juga perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi persyaratan pasar internasional, termasuk melalui pendampingan penggunaan pestisida yang aman serta perluasan sertifikasi mutu dan keamanan pangan.
Di sisi hilir, pemerintah perlu mendorong investasi pada pengolahan teh bernilai tambah tinggi, mulai dari teh kemasan premium hingga produk pangan fungsional berbasis teh. Promosi dan diplomasi perdagangan sangat dibutuhkan untuk membuka pasar baru di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, maupun Amerika Utara.
Baca juga: Menguatkan Posisi Teh Indonesia di Pasar Global
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang