Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Menanam Jagung Manis agar Tahan Hama dan Penyakit

Kompas.com, 20 November 2022, 20:31 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Jagung manis adalah salah satu varietas jagung yang banyak digemari dan dikonsumsi masyarakat. Akan tetapi, budidaya jagung manis lebih rentan dari penyakit dan serangan hama jika dibandingkan jagung biasa.

Namun, untuk nilai jual, jagung manis mempunyai harga jual yang lebih tinggi. Dengan demikian, animo untuk menanam budidaya jagung manis tak pernah lekang oleh waktu.

Jika Anda ingin membudidayakan jagung manis, berikut cara menanam jagung manis agar tahan hama dan penyakit, seperti dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Minggu (20/11/2022).

Baca juga: Simak, Cara Menanam Jagung Tanpa Pupuk Kimia

Ilustrasi tanaman jagung Shutterstock/ANEK SANGKAMANEE Ilustrasi tanaman jagung

1. Media tanam

Menanam jagung manis bisa dilakukan di kisaran iklim yang luas. Pasalnya, tanaman ini mempunyai mempunyai sifat adaptif yang cukup bagus.

Di Indonesia, banyak orang membudidayakan jagung manis baik di kawasan pegunungan yang mencapai ketinggian 1.800 mdpl ataupun di dataran rendah. Bahkan, jagung juga bisa tumbuh di kawasan dengan ketinggian tanah 3.000 mdpl.

Untuk suhu yang cocok agar jagung manis dapat tumbuh secara optimal berkisar antara 21 hingga 27 derajat celcius dan 23 hingga 27 derajat celcius saat masa perkecambahan.

Untuk tingkat keasaman atau pH, jagung manis bisa tumbuh dalam kisaran 5 hingga 8.

Baca juga: Catat, Ini Cara Mengendalikan Gulma Tanaman Jagung

Menanam jagung manis menjanjikan hasil yang memuaskan jika kebutuhan hara tercukupi. Tanaman ini umumnya membutuhkan unsur nitrogen dalam jumlah yang cukup besar.

Namun, saat memberikan pupuk juga harus memperhatikan keseimbangan antara pospat, kalium, dan nitrogen.

Ilustrasi tanaman jagung, menanam jagung, budidaya jagung.SHUTTERSTOCK/ZELJKO RADOJKO Ilustrasi tanaman jagung, menanam jagung, budidaya jagung.

2. Pengolahan lahan

Untuk cara menanam jagung manis agar berbuah besar, sebaiknya tanah diolah secara organik. Cara menanam secara organik bisa dilakukan di lahan bekas sawah ataupun membuat bedengan terlebih dahulu.

Jika Anda menggunakan lahan bekas sawah, pastikan bahwa tidak ada genangan air. Anda juga bisa menggunakan bedengan yang berfungsi untuk lebih mudah mengatur saluran pengairan atau drainase.

Baca juga: Hama dan Penyakit yang Menyerang Tanaman Jagung, Apa Saja?

Untuk bedengan, Anda bisa membuatnya dengan lebar 1 meter dan tinggi sekitar 20 hingga 30 cm. Jarak antar bedeng adalah 30 cm.

Biasanya, dalam satu bedeng dapat ditanami hingga dua larik tumbuhan.

Pemupukan dasar dalam hal menyiapkan lahan untuk budidaya jagung manis bisa menggunakan perbandingan 1 : 1 untuk tanah dan pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kambing, atau ayam. Pupuk kandang dari kotoran ayam akan memberikan kadar nitrogen yang banyak juga cepat terurai.

Adapun untuk pupuk kotoran kambing atau sapi lebih banyak mengandung fosfat dan kalium. Jika Anda ingin membudidayakan jagung manis dengan cara organik, anda akan membutuhkan sekitar 5 ton pupuk untuk setiap hektarnya.

Baca juga: Cara Menanam Jagung Komposit agar Hasil Panen Maksimal

3. Penanaman

Cara yang paling efektif untuk menanam jagung manis adalah dengan ditugal. Cara efektif menanam jagung manis ini dapat dilakukan dengan terlebih dulu membuat lubang dengan kedalaman 2 hingga 3 cm.

Kemudian benih jagung dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Anda bisa memasukkan masing-masing dua butir jagung.

Tutuplah dengan menggunakan kompos dan tanah. Siram masing-masing lubang supaya tanah tetap terjaga kelembapannya. Biasanya, kebutuhan bibit jagung manis mencapai 8 kg untuk tiap hektarnya.

Cara menanam jagung manis antar bibit mempunyai jarak sekitar 60 hingga 75 cm. Jika Anda merawat dan memeliharanya dengan baik, panen untuk tiap hektarnya bisa mencapai 34.000 hingga 37.000 tanaman.

Baca juga: Metode Jejer Manten pada Budidaya Jagung, Apa Itu?

Ilustrasi tanaman jagung.UNSPLASH/KATHERINE VOLKOVSKI Ilustrasi tanaman jagung.

4. Pengendalian dan pencegahan hama

Hama merupakan salah permasalahan yang sering dihadapi bagi anda yang membudidayakan jagung manis. Hama yang familiar di antaranya adalah penggerek tongkol, penggerek, tikus, kutu daun, dan belalang.

Untuk menangani hama yang menyerang, Anda bisa menggunakan pestisida yang sesuai dengan jenis hama atau menggunakan bahan-bahan organik.

Selain hama, cara menanam dan merawat jagung manis juga harus mencegah adanya serangan penyakit yang disebabkan oleh virus, cendawan, ataupun bakteri.

5. Proses panen

Jagung manis biasanya akan berbunga setelah berumur sekitar 50 hari. Pada 10 hari sebelum dilakukan panen utama, Anda juga bisa memanen jagung muda.

Baca juga: 5 Tips Menanam Jagung Saat Musim Hujan agar Bebas Penyakit

Selama masa ini, tumbuh 2 tongkol jagung, petiklah tongkol yang berada di bagian paling bawah. Panen yang dilakukan pada tongkol muda merupakan salah satu cara menanam jagung manis yang bertujuan agar asupan nutrisi pada tongkol utama bisa terpenuhi.

Sehingga, tongkol utama akan berbuah secara maksimal. Disamping memetik tongkol muda, daun bagian bawah sebaiknya juga dipapas hingga 2 atau tiga helai.

Jika muncul kembali beberapa tunas buah muda sebelum dilakukan panen utama, Anda bisa memetiknya sebagai panen tambahan. Untuk panen utama biasanya dilakukan saat tanaman berumur sekitar 65 hingga 75 hari.

Metode panen seperti yang dijelaskan di atas cocok dilakukan bagi mereka yang membudidayakan varian jagung manis satu tongkol. Varian ini banyak digunakan oleh para petani yang ada di Indonesia.

Selain tongkol satu, varietas lain yang juga terkenal adalah dua tongkol. Untuk varietas ini, 2 tongkol jagung akan dibiarkan hingga dilakukan panen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Varietas Tanaman
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Varietas Tanaman
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Varietas Tanaman
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau