Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Simak, Cara Tanam Sayur Kol di Dataran Rendah

Kompas.com - 02/01/2023, 16:03 WIB
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kubis atau kol merupakan salah satu sayuran yang nilai jualnya tinggi. Kol biasanya tumbuh di dataran tinggi yang udaranya sejuk.

Akan tetapi, seiring berkembangkan ilmu pengetahuan, kini kol sudah bisa dibudidayakan di dataran rendah. Dikutip dari buku Teknologi Budidaya Kubis (Brassica oleracea L.) Dataran Rendah, Senin (2/1/2023), berikut ini cara tanam sayur kol di dataran rendah agar panennya melimpah.

Baca juga: Cara Budidaya Kubis dari Biji yang Benar

Persemaian

Benih kol dapat disemai pada bedengan yang tanahnya sudah dicampur dengan pupuk kandang atau kompos. Setelah benih disebar, tutup bedengan semai dengan daun pisang selama 2 hingga 3 hari.

Ilustrasi kubis, menanam kubis.PIXABAY/UTROJA0 Ilustrasi kubis, menanam kubis.

Bedengan tersebut juga sebaiknya diberi naungan atau atap. Setelah berumur 7 sampai 8 hari, bibit dipindahkan ke dalam polybag kecil yang sudah diisi dengan tanah dan pupuk kandang.

Lakukan penyiraman secara rutin. Bibit sayur kol baru bisa dipindah ke lahan budidaya setelah berumur 3 hingga 4 minggu atau ketika memiliki 4 sampai 5 daun.

Baca juga: Catat, Ini Cara Menanam Kubis yang Benar

Mengolah lahan

Lahan yang akan digunakan untuk menanam kubis perlu diolah terlebih dahulu sampai gembur. Saat pengolahan lahan juga perlu diberi kapur pertanian, apabila pH-nya terlalu asam. Pengapuran dilakukan 2 hingga 3 minggu sebelum tanam.

Pemasangan mulsa

Penggunaan mulsa sebenarnya tidak wajib, akan tetapi dengan memasang mulsa pertumbuhan gulma pada bedengan bisa dikendalikan. Selain itu, penggunaan mulsa juga membuat perawatan tanaman lebih mudah. Setelah mulsa terpasang dengan mulsa, buat lubang tanam dengan jarak tertentu.

Penanaman

Cara tanam sayur kol cukup mudah. Anda hanya perlu meletakkan bibit pada lubang tanam yang sudah dibuat.

Setelah itu, tutup lubang tanam dengan tanah sembari dipadatkan. Kemudian, lakukan penyiraman secukupnya agar bibit yang baru dipindah tanam tidak layu.

Baca juga: Cara Budidaya Sawi Putih, Bisa Panen dalam 25 Hari

Penyulaman

Kegiatan penyulaman bisa dilakukan saat tanaman berumur 7 hingga 14 hari setelah tanam (HST). Penyulaman berguna untuk mengganti bibit yang mati atau pertumbuhannya kurang baik.

Tanaman kol atau kubisShutterstock/Natalia Garidueva Tanaman kol atau kubis

Penyiraman

Kegiatan penyiraman dilakukan secara rutin agar tanaman tidak layu. Di awal pindah tanam, lakukan penyiraman setiap hari.

Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara dalam tanah dan menyediakan nutrisi tambahan untuk tanaman. Sebaiknya, berikan pupuk untuk kol yang mengandung unsur hara lengkap. Dosis pupuk bisa disesuaikan dengan kondisi tanaman maupun fase pertumbuhan tanaman tersebut.

Baca juga: Simak, Cara Menanam Sawi Putih agar Panennya Melimpah

Penyiangan

Kegiatan penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma, tanaman sakit, maupun daun yang kering. Kegiatan penyiangan dapat dilakukan dua kali yakni saat tanaman berumur 3 minggu setelah tanam (MST) dan 6 MST. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan mencabut tanaman liar menggunakan tangan atau dengan mengaplikasikan herbisida.

Pembumbunan

Kegiatan pembumbunan hanya dilakukan pada tanaman kol yang dibudidayakan tanpa mulsa. Kegiatan perawatan tanaman ini bertujuan untuk memperkuat batang dan akar tanaman.

Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman bisa dilakukan secara mekanis, biologi, maupun kimiawi. Kegiatan pengendalian sebaiknya dilakukan sedini mungkin akan tanaman tumbuh dengan sehat dan normal.

Panen

Tanaman kubis umumnya sudah bisa dipanen saat tanaman berumur 65 hingga 70 HST. Kol yang siap panen sudah memiliki krop besar, penuh, dan padat.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau