Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Kelapa Kopyor: Potensi Komoditas Unggulan Indonesia

Kompas.com, 6 Desember 2024, 15:17 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KELAPA kopyor adalah salah satu varietas kelapa yang memiliki keistimewaan genetik dengan ciri khas yang tidak dimiliki kelapa lain.

Adanya mutasi genetik secara alami, menyebabkan daging buahnya, atau endosperma, memiliki tekstur yang remah dan mudah terlepas dari batoknya. Sehingga memberikan pengalaman unik, baik secara visual maupun sensorial.

Daging buah ini tidak hanya menarik untuk dilihat, tetapi juga menawarkan rasa luar biasa: lebih manis, gurih, dan lezat dibandingkan kelapa biasa, menjadikannya pilihan istimewa untuk berbagai keperluan kuliner.

Eksotisme dan keistimewaan rasa kelapa kopyor telah mengukuhkannya sebagai The Delights of Indonesia Fruit, julukan yang mencerminkan identitasnya sebagai salah satu kekayaan hayati asli Indonesia.

Varietas ini tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga karena eksklusivitasnya, yang hingga saat ini hanya ditemukan di wilayah Indonesia. Fakta ini semakin mengukuhkan kelapa kopyor sebagai simbol keanekaragaman hayati Nusantara yang patut dibanggakan.

Keunikan kelapa kopyor juga membuatnya memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama dalam industri makanan dan minuman.

Dari bahan minuman segar hingga inovasi makanan penutup premium, kelapa kopyor telah mencuri perhatian pasar lokal dan internasional.

Di balik eksotismenya, kelapa kopyor bukan hanya menjadi komoditas dengan cita rasa unik, tetapi juga cerminan budaya agraris Indonesia yang kaya akan inovasi dan keberagaman.

Pengembangan Kelapa Kopyor

Sejak tahun 2000, penelitian mengenai kelapa kopyor terus dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan, seperti pengadaan bahan tanaman, peningkatan produksi, pelestarian plasma nutfah, dan optimalisasi pemanfaatan kelapa kopyor.

Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat posisi kelapa kopyor sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia di masa depan.

Salah satu fokus penelitian adalah mengatasi keterbatasan produksi, khususnya di sentra-sentra utama seperti Pati, Jawa Tengah, Kalianda, Lampung Selatan, dan juga di daerah Banten.

Produksi dari daerah tersebut masing-masing hanya mencapai 3.000–5.000 butir dan 300–500 butir per minggu, jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, terutama di Jakarta.

Upaya pengembangan varietas kelapa kopyor terus dilakukan oleh Pusat Standarisasi Instrument Perkebunan melalui balainya BSIP Palma, yang dulu bernama Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma).

Pada periode 2007–2010, Balit Palma bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pati melepas varietas kelapa Genjah Kopyor asal Pati.

Upaya ini dilakukan agar benih kelapa kopyor dapat disebarkan secara meluas di luar Provinsi Jawa Tengah secara legal.

Penelitian lanjut dilakukan dengan pengembangan produksi benih true to type melalui embryo rescue dengan teknologi in vitro.

Tanaman kelapa dengan metode tersebut dapat berpotensi menghasilkan buah kopyor 100 persen. Dua jenis kelapa kopyor yang umum ditemukan adalah Tipe Dalam (Tall), yang berbuah setelah 5 tahun, dan Tipe Genjah (Dwarf), yang mulai berbuah dalam waktu 3 tahun.

Penelitian awal yang dilakukan oleh Balit Palma dan institusi terkait telah memberikan kontribusi signifikan dalam mengidentifikasi kelapa kopyor di berbagai wilayah Indonesia, seperti Jawa Tengah, Banten, Lampung Selatan, dan Jawa Timur.

Pada tahun 2010, hasil kolaborasi ini membuahkan pelepasan tiga varietas unggul kelapa Genjah Kopyor Kuning, Genjah Kopyor Hijau, dan Genjah Kopyor Coklat, dengan potensi produksi buah kopyor rata-rata mencapai 40 persen per tandan.

Kemudian pada 2016 menyusul dilepas varietas kelapa kopyor tipe Dalam, yaitu kelapa Puan Kalianda. Tahapan ini menandai langkah penting dalam pengembangan kelapa kopyor sebagai komoditas strategis.

Periode 2015–2020 membawa fokus penelitian ke level yang lebih spesifik dengan penekanan pada tiga aspek utama.

Pertama, evaluasi bibit true-to-type untuk memastikan kualitas dan keaslian genetik bibit kelapa kopyor.

Kedua, pengembangan hibrida yang tahan terhadap berbagai kondisi melalui persilangan antarvarietas unggul.

Ketiga, perbaikan teknologi budidaya, termasuk metode pengendalian hama, optimalisasi produksi, dan upaya meningkatkan persentase buah kopyor pada kopyor alami, yang bertujuan meningkatkan hasil panen dan mendukung keberlanjutan industri kelapa kopyor.

Hasil dari penelitian yang berlangsung lebih dari dua dekade ini menunjukkan bahwa kelapa kopyor memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia di pasar global.

Keunikan genetiknya yang menghasilkan daging buah dengan tekstur remah dan cita rasa khas menjadikannya produk premium dengan daya tarik tersendiri di pasar internasional.

Dalam konteks perdagangan global, kelapa kopyor dapat berperan sebagai duta eksotisme Indonesia, memperkuat citra negara sebagai penghasil produk berkualitas tinggi yang berbasis pada kekayaan hayati.

Nilai ekonomi dan pemanfaatan

Kelapa kopyor memiliki nilai ekonomi yang luar biasa tinggi, menjadikannya salah satu komoditas unggulan yang sangat menguntungkan.

Setiap pohon kelapa kopyor mampu menghasilkan 75–120 butir buah per tahun, dengan kandungan buah kopyor per tandan mencapai tingkat optimal 97–100 persen pada tanaman hasil kultur embrio dan di atas 30 persen untuk kopyor alami.

Keunikan dan kelangkaan ini membuat harga kelapa kopyor melambung, mencapai lebih dari 10 kali lipat harga kelapa biasa.

Fakta ini menunjukkan potensi besar kelapa kopyor sebagai sumber pendapatan yang signifikan bagi para petani dan pelaku industri agribisnis.

Pemanfaatan kelapa kopyor sangat beragam, terutama dalam sektor makanan dan minuman. Daging buahnya yang lembut dan bercita rasa khas sering digunakan untuk menciptakan produk-produk unggulan seperti es kelapa kopyor, berbagai jenis kue, es krim premium, hingga aneka minuman segar.

Produk berbasis kelapa kopyor tidak hanya diminati di pasar lokal, tetapi juga memiliki daya tarik besar di pasar internasional, menciptakan peluang ekspor yang menjanjikan.

Selain itu, produk kelapa kopyor memiliki daya tarik tersendiri, baik untuk industri makanan dan minuman berskala besar maupun usaha kecil dan menengah (UKM).

Dalam skala rumah tangga, kelapa kopyor sering digunakan sebagai bahan dasar inovasi kuliner yang dapat meningkatkan nilai jual produk.

Di sisi lain, industri besar memanfaatkan kelapa kopyor untuk menciptakan produk bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Komoditas kelapa kopyor memerlukan pengelolaan yang berkelanjutan, mencakup pelestarian plasma nutfah, pengembangan bibit unggul, dan inovasi teknologi budidaya.

Pelestarian plasma nutfah penting untuk menjaga keanekaragaman genetik kelapa kopyor, sehingga memungkinkan adaptasi terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan pasar.

Sementara itu, pengembangan bibit unggul dan teknologi budidaya dapat meningkatkan produktivitas serta efisiensi pengelolaan lahan dan sumber daya.

Lebih jauh, keberhasilan dalam menjadikan kelapa kopyor sebagai komoditas unggulan dapat memberikan dampak positif yang luas. Hal ini mencakup peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pendapatan yang lebih stabil, pengembangan infrastruktur pendukung, dan akses pasar yang lebih baik.

Dengan meningkatnya kesadaran global terhadap produk organik dan berbasis keanekaragaman hayati, kelapa kopyor memiliki peluang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Varietas Tanaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Varietas Tanaman
Halusinasi Negara Agraris
Halusinasi Negara Agraris
Tips
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Tips
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Varietas Tanaman
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Varietas Tanaman
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Varietas Tanaman
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Varietas Tanaman
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Varietas Tanaman
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Varietas Tanaman
Mengandaikan Generasi Z Menjadi Agripreneurship
Mengandaikan Generasi Z Menjadi Agripreneurship
Tips
Transformasi Kelapa: Dari Komoditas Tradisional ke Industri Bernilai Tinggi
Transformasi Kelapa: Dari Komoditas Tradisional ke Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Aroma Kopi Jawa Timur: Potensi dari Lereng Ijen hingga Lembah Argopuro
Aroma Kopi Jawa Timur: Potensi dari Lereng Ijen hingga Lembah Argopuro
Varietas Tanaman
Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah
Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah
Varietas Tanaman
Masa Depan Pala Banda
Masa Depan Pala Banda
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau