Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Dari Kebun ke Pasar Dunia: Kelapa Indonesia di Tengah Gelombang Harga

Kompas.com - 21 April 2025, 19:32 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LONJAKAN harga kelapa bulat sepanjang 2024 hingga awal 2025 seolah menjadi harapan dan tantangan bagi jutaan petani kelapa yang selama ini terpuruk dalam harga rendah dan keterbatasan akses pasar.

Namun, di balik senyum petani yang kini mendapat harga layak, industri pengolahan dalam negeri justru menghadapi tekanan berat akibat pasokan yang menyusut dan harga bahan baku yang meroket.

Agribisnis kelapa Indonesia kini berada di titik kritis, di mana keseimbangan antara kepentingan petani dan keberlanjutan industri menjadi tuntutan yang tak bisa dihindari.

Selama 2024, harga kelapa bulat meningkat tajam, terutama di sentra produksi utama seperti Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Jawa Timur.

Di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, jantung produksi kelapa nasional, harga di tingkat petani melonjak dari Rp 2.911 per kg pada 2023 menjadi sekitar Rp 8.000 per kg pada Maret 2025.

Di Sulawesi Utara, meski tidak sefantastis Riau, harga juga meningkat dari Rp 987 menjadi lebih dari Rp 4.000 per kg.

Kenaikan harga ini memberikan angin segar, apalagi bagi petani yang bertahun-tahun hanya menerima Rp 1.000 – Rp2.000 per kg, angka yang bahkan tak cukup menutup biaya produksi.

Baca juga: Membawa Gambir ke Pasar Global

Pendorong utama kenaikan harga ini adalah lonjakan permintaan ekspor, terutama dari China.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan bahwa ekspor kelapa bulat mencapai 431.915 ton sepanjang 2024. Dalam dua bulan pertama 2025 saja, sebanyak 71.000 ton telah dikapalkan ke luar negeri, dengan 68.000 ton diserap oleh pasar China.

Di tengah tekanan pasokan kelapa global akibat perubahan iklim dan kebijakan proteksionis beberapa negara produsen lain, kelapa Indonesia menjadi primadona baru.

Namun, keberhasilan ekspor ini membawa konsekuensi serius bagi pasokan domestik. Provinsi seperti Kepulauan Riau, yang bukan daerah penghasil, tetapi memiliki industri pengolahan besar, hanya mampu memenuhi 60 persen kebutuhan bahan baku harian.

Kelangkaan ini menyebabkan lonjakan harga di hilir, di mana harga eceran di Jakarta pada April 2025 menyentuh Rp 21.000 per kg, lebih dari empat kali lipat harga di kebun petani Riau.

Disparitas ini membuka tabir panjangnya rantai pasok dan lemahnya transmisi harga dari konsumen ke produsen.

Infrastruktur dan ketimpangan pasar

Kesenjangan harga antardaerah menunjukkan ketimpangan akses terhadap pasar ekspor dan logistik domestik.

Riau yang memiliki pelabuhan ekspor langsung, jalur dagang ke China, dan dukungan kelembagaan kuat, mampu menyalurkan hasil panen dengan harga tinggi.

Sebaliknya, daerah timur seperti Sulawesi Utara dan Maluku Utara, meskipun memiliki potensi produksi besar, terhambat biaya logistik yang tinggi dan keterbatasan infrastruktur. Kondisi ini mengungkap urgensi pembangunan sistem logistik terintegrasi.

Industri pengolahan santan dan VCO di Kepri, misalnya, terpaksa mengurangi kapasitas produksi karena bahan baku lebih mengalir ke eksportir daripada ke pasar domestik.

Baca juga: Randu: Serat Emas Putih yang Terlupakan

Hal serupa juga terjadi di Jawa Timur dan Sumatera Utara, yang meskipun memiliki akses industri, tetap mengalami tekanan akibat pasokan terbatas dari luar daerah.

Pemerintah pusat telah mengakui bahwa masalah utama bukan pada produksi kelapa, yang tetap stabil di angka 2,8 juta ton pada 2024, melainkan distribusi.

Produksi kelapa Indonesia masih surplus, tetapi tidak tersebar merata dan belum didukung sistem distribusi efisien.

Artinya, yang dibutuhkan bukan larangan ekspor semata, tetapi perbaikan menyeluruh pada sistem logistik, integrasi pasar, dan insentif distribusi antardaerah.

Di tengah tingginya harga pasar, kondisi petani tidak serta-merta membaik secara struktural. Banyak petani masih menjual hasil panen melalui tengkulak atau pengepul desa dengan sistem ijon, di mana mereka sudah menerima pembayaran jauh sebelum panen.

Alhasil, saat harga melonjak pun, keuntungan penuh tidak mereka nikmati. Di sisi lain, industri pengolahan seperti produsen santan, minyak kelapa, VCO, dan briket arang kelapa menghadapi biaya produksi yang melonjak drastis.

Rantai nilai kelapa juga masih timpang. Dari kelapa bulat seharga Rp 8.000 di kebun, nilai tambah bisa melonjak hingga 11 kali lipat bila diolah menjadi VCO.

Namun, sebagian besar petani belum mampu memproduksi VCO karena keterbatasan teknologi, permodalan, dan sertifikasi.

UMKM yang mengolah kelapa menjadi produk bernilai tinggi seperti minyak kelapa murni, nata de coco, gula kelapa, dan cocopeat masih menghadapi kendala akses pasar, dukungan peralatan, dan literasi digital.

Meski demikian, sejumlah inisiatif menunjukkan harapan. Di Sulawesi Utara, beberapa koperasi petani mulai mengolah kopra dan menjual langsung ke pabrik minyak kelapa dengan harga Rp 14.000–16.000 per kg.

Di Lampung dan Bali, UMKM penghasil VCO mulai menembus pasar ekspor dengan bantuan fasilitasi dari pemerintah daerah dan kementerian. Langkah-langkah seperti ini perlu diperluas dan direplikasi di seluruh sentra produksi.

Hilirisasi dan arah kebijakan

Dalam konteks ini, pemerintah perlu membuat kebijakan yang tidak sekadar reaktif, tetapi strategis dan inklusif.

Pertama, mendorong hilirisasi kelapa di tingkat lokal melalui insentif fiskal bagi industri pengolahan yang membangun pabrik di dekat sentra produksi.

Kedua, menyusun kebijakan pajak ekspor progresif, bukan pelarangan, untuk mendorong ekspor olahan dan mengendalikan pengurasan bahan baku mentah.

Ketiga, memperkuat kelembagaan petani agar mereka mampu bernegosiasi langsung dengan industri atau eksportir, memotong rantai tengkulak.

Penting pula untuk membangun sistem pemantauan harga berbasis digital di tiap daerah. Dengan aplikasi sederhana yang bisa diakses petani, informasi harga pasar, jadwal ekspor, dan permintaan industri bisa diketahui real time.

Teknologi dapat memangkas asimetri informasi dan memperkuat posisi tawar petani dalam ekosistem agribisnis yang sehat dan efisien.

Baca juga: Dinamika Industri Kopi Indonesia

Kisah kelapa Indonesia adalah kisah tentang potensi yang belum sepenuhnya tergarap. Indonesia adalah produsen kelapa terbesar kedua di dunia, namun kontribusinya pada ekspor olahan masih kecil.

Sebagian besar ekspor masih berupa produk mentah atau primer, seperti kelapa bulat, kopra, dan minyak kasar.

Sementara negara seperti Filipina telah melangkah jauh dalam produk hilir bernilai tinggi seperti kosmetik berbasis kelapa, suplemen kesehatan, dan bioenergi.

Maka, lonjakan harga kelapa bulat kali ini harus dibaca sebagai sinyal penting untuk pembenahan mendasar.

Bila hanya disambut dengan euforia sesaat tanpa reformasi sistemik, maka yang terjadi adalah siklus klasik, harga naik, petani senang sesaat, industri tercekik, dan ketika harga turun, semuanya limbung.

Keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keberlanjutan industri adalah keniscayaan yang harus diwujudkan melalui kebijakan yang cerdas dan kolaboratif.

Pemerintah, pelaku usaha, petani, dan masyarakat sipil harus duduk bersama mencari jalan tengah.

Dengan demikian, kelapa tidak hanya menjadi “pohon kehidupan” secara retoris, tapi sungguh menjadi pilar ekonomi desa dan simbol kedaulatan pangan dan ekonomi Indonesia di masa depan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Varietas Tanaman
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Varietas Tanaman
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Varietas Tanaman
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Varietas Tanaman
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Varietas Tanaman
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Varietas Tanaman
Mengandaikan Generasi Z Menjadi Agripreneurship
Mengandaikan Generasi Z Menjadi Agripreneurship
Tips
Transformasi Kelapa: Dari Komoditas Tradisional ke Industri Bernilai Tinggi
Transformasi Kelapa: Dari Komoditas Tradisional ke Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Aroma Kopi Jawa Timur: Potensi dari Lereng Ijen hingga Lembah Argopuro
Aroma Kopi Jawa Timur: Potensi dari Lereng Ijen hingga Lembah Argopuro
Varietas Tanaman
Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah
Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah
Varietas Tanaman
Masa Depan Pala Banda
Masa Depan Pala Banda
Varietas Tanaman
Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan
Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan
Varietas Tanaman
Pasar Organik dan Produk Perkebunan
Pasar Organik dan Produk Perkebunan
Varietas Tanaman
DNA Petani Kita, Tangguh di Era Modernisasi
DNA Petani Kita, Tangguh di Era Modernisasi
Perawatan
Menikmati Renyahnya Potensi Kenari Ternate
Menikmati Renyahnya Potensi Kenari Ternate
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau