Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Muhammad Irvan Mahmud Asia
Pengamat dan Penulis

Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Agraria dan Sumber Daya Alam (PPASDA); Wasekjen DPP Pemuda Tani HKTI

Revitalisasi Kebun Teh

Kompas.com, 4 Juni 2025, 21:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Strategi pertama pembuatan peta jalan (roadmap) yang di dalamnya sudah termasuk perlindungan kebun produktif eksiting, kelembagaan dan kerangka kerja pembangunan teh.

Kedua, percepatan peremajaan dengan tanaman baru berbasis varietas unggul, pembiayaan lunak, dan insentif terutama bagi PR.

Standar teknis yang telah ditetapkan pemerintah bahwa dalam 1 ha mesti terisi 10.000 pohon teh mesti dijalankan. Langkah ini sebagai jawaban rendahnya produktivitas PR dan memastikan kesinambungan suplai.

Ketiga, modernisasi teknologi budidaya dan pendampingan diperluas terutama pelatihan pengolahan pascapanen yang outputnya akan meningkatkan efisiensi dan kualitas produk sehingga dapat memenuhi kualifikasi pasar internasional.

Pelatihan juga menyasar proses pemetikan yang sesuai Standard Operating Procedure (SOP) untuk mengurangi dampak penurunan mutu teh selain faktor proses pengolahan.

Di sisi pemasaran, pengembangan produk teh olahan seperti teh celup, teh herbal, dan teh organik disertai merek yang kuat dan sertifikasi organik akan menjadi solusi daya saing teh Indonesia.

Sebagai pembanding merek teh asal China bernama “Chagee” berhasil mencatatkan 6.000 gerai di seluruh dunia dengan pendapatan mencapai 12 miliar dollar AS.

Chagee sering disebut sebagai “Starbucks-nya teh” karena strateginya mirip: menjual pengalaman, bukan cuma produk.

Menariknya, Chagee sangat efisien. Mereka punya sistem supply chain yang ketat, inventory turnover hanya 5,3 hari, dan satu minuman bisa disiapkan dalam 8 detik. Bahkan, waktu dari pemesanan hingga minuman diterima cuma butuh 40 detik.

Baca juga: Akankah Harga Emas Terus Naik?

Di beberapa cabang, mereka sudah menggunakan mesin semi-otomatis dan teknologi AI. Kunci kesuksesan Chagee sendiri hanya ada tiga: sederhana, tersistem, dan mudah dikembangkan.

Indonesia punya banyak brand teh lokal, tetapi sebagian besar pemain F&B teh di Indonesia masih main di ranah harga murah dan gimmick tren musiman, bukan di experience dan konsistensi kualitas.

Keempat, koperasi dan kemitraan dengan pelaku industri swasta perlu diperkuat agar rantai nilai teh lebih adil dan menguntungkan petani.

Jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ditambah daya dukung agroklimat, maka sangat ideal untuk pertumbuhan produksi dan produktifitas teh dalam jangka panjang. Lebih dari itu, akan menjadi warisan budaya yang lebih kuat.

Artinya revitalisasi teh bukan soal urusan ekonomi saja, tetapi menjadi ruang pemulihan dan pelestarian identitas lokal.

Dengan strategi yang tepat, teh Indonesia tidak hanya bisa kembali berjaya di pasar dunia, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau