
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Strategi pertama pembuatan peta jalan (roadmap) yang di dalamnya sudah termasuk perlindungan kebun produktif eksiting, kelembagaan dan kerangka kerja pembangunan teh.
Kedua, percepatan peremajaan dengan tanaman baru berbasis varietas unggul, pembiayaan lunak, dan insentif terutama bagi PR.
Standar teknis yang telah ditetapkan pemerintah bahwa dalam 1 ha mesti terisi 10.000 pohon teh mesti dijalankan. Langkah ini sebagai jawaban rendahnya produktivitas PR dan memastikan kesinambungan suplai.
Ketiga, modernisasi teknologi budidaya dan pendampingan diperluas terutama pelatihan pengolahan pascapanen yang outputnya akan meningkatkan efisiensi dan kualitas produk sehingga dapat memenuhi kualifikasi pasar internasional.
Pelatihan juga menyasar proses pemetikan yang sesuai Standard Operating Procedure (SOP) untuk mengurangi dampak penurunan mutu teh selain faktor proses pengolahan.
Di sisi pemasaran, pengembangan produk teh olahan seperti teh celup, teh herbal, dan teh organik disertai merek yang kuat dan sertifikasi organik akan menjadi solusi daya saing teh Indonesia.
Sebagai pembanding merek teh asal China bernama “Chagee” berhasil mencatatkan 6.000 gerai di seluruh dunia dengan pendapatan mencapai 12 miliar dollar AS.
Chagee sering disebut sebagai “Starbucks-nya teh” karena strateginya mirip: menjual pengalaman, bukan cuma produk.
Menariknya, Chagee sangat efisien. Mereka punya sistem supply chain yang ketat, inventory turnover hanya 5,3 hari, dan satu minuman bisa disiapkan dalam 8 detik. Bahkan, waktu dari pemesanan hingga minuman diterima cuma butuh 40 detik.
Baca juga: Akankah Harga Emas Terus Naik?
Di beberapa cabang, mereka sudah menggunakan mesin semi-otomatis dan teknologi AI. Kunci kesuksesan Chagee sendiri hanya ada tiga: sederhana, tersistem, dan mudah dikembangkan.
Indonesia punya banyak brand teh lokal, tetapi sebagian besar pemain F&B teh di Indonesia masih main di ranah harga murah dan gimmick tren musiman, bukan di experience dan konsistensi kualitas.
Keempat, koperasi dan kemitraan dengan pelaku industri swasta perlu diperkuat agar rantai nilai teh lebih adil dan menguntungkan petani.
Jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ditambah daya dukung agroklimat, maka sangat ideal untuk pertumbuhan produksi dan produktifitas teh dalam jangka panjang. Lebih dari itu, akan menjadi warisan budaya yang lebih kuat.
Artinya revitalisasi teh bukan soal urusan ekonomi saja, tetapi menjadi ruang pemulihan dan pelestarian identitas lokal.
Dengan strategi yang tepat, teh Indonesia tidak hanya bisa kembali berjaya di pasar dunia, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang