Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Secangkir Optimisme Teh Indonesia

Kompas.com, 5 Februari 2026, 07:37 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Artinya, ada peluang peningkatan nilai hingga 20 kali lipat yang selama ini terbuang jika teh hanya dijual sebagai komoditas mentah. Dengan hilirisasi, nilai ekonomi yang tercipta dapat dinikmati pelaku dalam negeri, sekaligus membuka peluang merebut kembali pasar domestik yang kini dikuasai produk impor.

Namun, hilirisasi tak akan berkelanjutan tanpa pembenahan serius di sisi hulu. Kualitas bahan baku adalah fondasi utama. Tekanan harga rendah selama ini mendorong praktik petik kasar demi mengejar volume, yang justru menurunkan mutu dan merusak produktivitas tanaman.

Petani yang memetik pucuk halus berkualitas tinggi harus mendapat insentif harga, sementara petikan yang mencampur daun tua dan batang diberi harga lebih rendah. Selain itu, perlu pelarangan pemetikan hingga ke stalk atau batang kayu karena tidak memberi nilai cita rasa dan merusak tanaman.

Kebijakan semacam ini, sebagaimana dipraktikkan di negara produsen besar seperti Kenya, terbukti memberi kepastian pendapatan sekaligus mendorong peningkatan kualitas.

Upaya peningkatan mutu ini diperkuat dengan rintisan Standar Teh Indonesia (STI) yang mencakup praktik budidaya dan pengolahan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Sertifikasi yang kredibel akan membuka kembali akses teh Indonesia ke pasar premium global yang menuntut kualitas dan ketertelusuran.

Di sisi hilir, tantangan berikutnya adalah pemasaran. Indonesia memiliki kekayaan varian teh, dari teh hitam pegunungan Jawa, teh melati, hingga teh putih dan oolong local, yang bisa diangkat melalui branding dan storytelling berbasis budaya dan asal-usul.

Munculnya startup teh, kafe teh modern, serta wisata kebun teh menunjukkan bahwa teh bisa tampil relevan dan “kekinian”. Dengan dukungan promosi, pembiayaan, dan kolaborasi lintas pelaku, hilirisasi berbasis perkebunan rakyat berpeluang menjadi motor kebangkitan industri teh nasional.

Tren hidup sehat global juga mendorong permintaan teh hijau dan teh herbal, sebuah ceruk yang bisa diisi Indonesia melalui kekayaan biodiversitasnya, mulai dari rosella hingga krisan, asalkan mutu dan konsistensi terjaga.

Di pasar ekspor, peluang pun tetap ada. Alih-alih bertarung di pasar volume dengan teh murah, Indonesia dapat membidik segmen niche bernilai tinggi.

Namun, kebangkitan teh nasional hanya mungkin terwujud melalui kerja kolektif yang berkesinambungan. Pemerintah perlu memastikan kebijakan pro-petani dan pro-hilirisasi berjalan nyata. Industri dituntut berani berinvestasi pada inovasi dan teknologi, sementara petani sebagai ujung tombak harus diberdayakan lewat peremajaan kebun, praktik petik yang baik, dan kemitraan yang saling menguntungkan.

Peningkatan produksi di hulu harus diiringi kesiapan sektor tengah dan hilir agar seluruh rantai bergerak seirama. Dengan mengusung kualitas, nilai tambah, dan keberlanjutan, teh Indonesia berpeluang menghidupkan kembali kejayaannya.

Baca juga: Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau