
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Artinya, ada peluang peningkatan nilai hingga 20 kali lipat yang selama ini terbuang jika teh hanya dijual sebagai komoditas mentah. Dengan hilirisasi, nilai ekonomi yang tercipta dapat dinikmati pelaku dalam negeri, sekaligus membuka peluang merebut kembali pasar domestik yang kini dikuasai produk impor.
Namun, hilirisasi tak akan berkelanjutan tanpa pembenahan serius di sisi hulu. Kualitas bahan baku adalah fondasi utama. Tekanan harga rendah selama ini mendorong praktik petik kasar demi mengejar volume, yang justru menurunkan mutu dan merusak produktivitas tanaman.
Petani yang memetik pucuk halus berkualitas tinggi harus mendapat insentif harga, sementara petikan yang mencampur daun tua dan batang diberi harga lebih rendah. Selain itu, perlu pelarangan pemetikan hingga ke stalk atau batang kayu karena tidak memberi nilai cita rasa dan merusak tanaman.
Kebijakan semacam ini, sebagaimana dipraktikkan di negara produsen besar seperti Kenya, terbukti memberi kepastian pendapatan sekaligus mendorong peningkatan kualitas.
Upaya peningkatan mutu ini diperkuat dengan rintisan Standar Teh Indonesia (STI) yang mencakup praktik budidaya dan pengolahan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Sertifikasi yang kredibel akan membuka kembali akses teh Indonesia ke pasar premium global yang menuntut kualitas dan ketertelusuran.
Di sisi hilir, tantangan berikutnya adalah pemasaran. Indonesia memiliki kekayaan varian teh, dari teh hitam pegunungan Jawa, teh melati, hingga teh putih dan oolong local, yang bisa diangkat melalui branding dan storytelling berbasis budaya dan asal-usul.
Munculnya startup teh, kafe teh modern, serta wisata kebun teh menunjukkan bahwa teh bisa tampil relevan dan “kekinian”. Dengan dukungan promosi, pembiayaan, dan kolaborasi lintas pelaku, hilirisasi berbasis perkebunan rakyat berpeluang menjadi motor kebangkitan industri teh nasional.
Tren hidup sehat global juga mendorong permintaan teh hijau dan teh herbal, sebuah ceruk yang bisa diisi Indonesia melalui kekayaan biodiversitasnya, mulai dari rosella hingga krisan, asalkan mutu dan konsistensi terjaga.
Di pasar ekspor, peluang pun tetap ada. Alih-alih bertarung di pasar volume dengan teh murah, Indonesia dapat membidik segmen niche bernilai tinggi.
Namun, kebangkitan teh nasional hanya mungkin terwujud melalui kerja kolektif yang berkesinambungan. Pemerintah perlu memastikan kebijakan pro-petani dan pro-hilirisasi berjalan nyata. Industri dituntut berani berinvestasi pada inovasi dan teknologi, sementara petani sebagai ujung tombak harus diberdayakan lewat peremajaan kebun, praktik petik yang baik, dan kemitraan yang saling menguntungkan.
Peningkatan produksi di hulu harus diiringi kesiapan sektor tengah dan hilir agar seluruh rantai bergerak seirama. Dengan mengusung kualitas, nilai tambah, dan keberlanjutan, teh Indonesia berpeluang menghidupkan kembali kejayaannya.
Baca juga: Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang