
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI TENGAH sorotan terhadap komoditas pangan strategis, ada satu komoditas perkebunan rakyat yang kerap luput dari percakapan besar ekonomi nasional, yaitu mete atau yang dalam nomenklatur perdagangan internasional dikenal sebagai cashew nuts.
Padahal, data perdagangan terbaru menunjukkan kabar yang patut dibanggakan. Pada 2024, ekspor mete Indonesia melonjak tajam menjadi sekitar 67.000 ton dengan nilai mencapai 126,38 juta dollar AS (sekitar Rp 2 triliun).
Setahun sebelumnya, 2023, nilainya “baru” sekitar 54,76 juta dollar AS dengan volume 35.217 ton. Artinya, hanya dalam satu tahun, nilai ekspor kita naik lebih dari dua kali lipat, sementara volumenya meningkat hampir 90 persen.
Ini bukan kenaikan kecil. Ini lompatan dan menegaskan satu hal, mete Indonesia masih berjaya di pasar internasional.
Namun, kebanggaan ini tidak boleh berhenti pada angka ekspor. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, siapa yang paling menikmati kejayaan ini?
Dan bagaimana agar kejayaan tersebut tidak sekadar mencerminkan besarnya volume yang keluar dari pelabuhan, tetapi juga besarnya nilai tambah yang tinggal di desa-desa sentra produksi?
Secara global, perdagangan mete dibedakan antara mete gelondongan (in shell) dan mete kupas/kernel (shelled).
Indonesia selama ini kuat sebagai pemasok bahan baku. Struktur pasar 2023 menunjukkan bahwa lebih dari separuh ekspor mete Indonesia mengalir ke Vietnam, disusul India, Malaysia, Thailand, dan Jerman. Lima negara ini menyerap sekitar 90 persen ekspor mete Indonesia.
Vietnam dikenal sebagai raksasa pengolahan dan eksportir mete kupas dunia. Artinya, sebagian besar mete yang kita kirim kemungkinan diproses kembali di sana sebelum dijual sebagai produk bernilai tambah lebih tinggi ke pasar global.
Di sinilah paradoksnya. Kita berjaya sebagai pemasok, tetapi sebagian nilai tambah justru dinikmati di luar negeri.
Kenaikan harga rata-rata ekspor dari sekitar 1,55 dollar AS per kilogram pada 2023 menjadi sekitar 1,89 dollar AS per kilogram pada 2024 memang memberi sinyal positif.
Namun, dibandingkan dengan harga produk mete olahan bermerek di rak ritel internasional, angka tersebut masih menyisakan ruang nilai tambah yang besar. Produk mete kita kuat di hulu, tetapi belum sepenuhnya naik kelas di hilir.
Indonesia memproduksi sekitar 163.000 ton mete pada 2022. Sebagian besar berasal dari kebun rakyat di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, dan sebagian wilayah Bali serta NTB.
Karakteristiknya khas, petani kecil dengan luas lahan terbatas, teknologi budidaya yang beragam, dan ketergantungan tinggi pada kondisi cuaca.
Produktivitas rata-rata nasional masih relatif rendah, sekitar 350 kilogram per hektar. Angka ini menunjukkan bahwa ruang perbaikan masih sangat besar.
Banyak kebun yang sudah tua, belum diremajakan, dan belum sepenuhnya menerapkan praktik budidaya baik (Good Agricultural Practices/GAP).
Pascapanen pun kerap menjadi titik lemah, di mana pengeringan tidak seragam, kadar air tinggi, dan sortasi belum standar.
Jika produktivitas stagnan dan kualitas tidak konsisten, maka lonjakan ekspor bisa bersifat sementara, bergantung pada siklus harga global, bukan pada kekuatan struktural daya saing.
Hilirisasi sering terdengar sebagai jargon besar. Namun, dalam konteks mete, hilirisasi bisa dimulai dari langkah yang sangat konkret dan realistis.
Tentunya hal pertama yang harus dilakukan adalah penguatan unit pascapanen di dekat sentra produksi. Perlu dipastikan ketersediaan rumah pengering bersama, fasilitas sortasi dan grading, serta penyimpanan yang memadai. Kualitas yang konsisten adalah tiket masuk pasar premium.
Selanjutnya, investasi bertahap dalam pengolahan seperti pemecahan kulit, produksi kernel, roasting, hingga pengemasan siap konsumsi.
Tidak semua sentra harus langsung memiliki pabrik besar. Model koperasi atau kemitraan dengan industri pengolahan dapat menjadi jembatan.
Kemudian standardisasi mutu dan keterlacakan. Di pasar global, pembeli tidak hanya melihat harga, tetapi juga keamanan pangan dan konsistensi grade. Sistem pencatatan lot produksi, pelabelan, dan sertifikasi dapat meningkatkan posisi tawar.
Konsentrasi ekspor ke satu atau dua negara utama memang efisien dalam jangka pendek, tetapi berisiko dalam jangka panjang.
Jika pasar utama mengalami perlambatan ekonomi, perubahan standar teknis, atau kebijakan perdagangan baru, dampaknya akan langsung terasa hingga tingkat petani.
Karena itu, diversifikasi pasar menjadi penting. Pemerintah, melalui diplomasi dagang dan promosi ekspor, perlu membuka akses yang lebih luas ke Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Utara, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai produsen mete olahan.
Agar kejayaan mete tidak semu, negara harus hadir secara utuh dari hulu hingga hilir. Di tingkat hulu, agenda peremajaan kebun, distribusi bibit unggul, penguatan penyuluhan Good Agricultural Practices (GAP), hingga adaptasi terhadap perubahan iklim tidak bisa ditunda.
Produktivitas yang stagnan dan mutu yang tidak seragam akan menjadi batu sandungan bagi ambisi hilirisasi.
Tanpa bahan baku yang stabil dan berkualitas, industri pengolahan dalam negeri hanya akan menjadi wacana.
Karena itu, investasi terbesar justru harus dimulai dari kebun-kebun rakyat, tempat nilai awal komoditas ini diciptakan.
Di tengah rantai nilai, pemerintah perlu mendorong transformasi struktural. Insentif fiskal untuk investasi pengolahan, kemudahan akses pembiayaan melalui KUR dan skema penjaminan, serta penguatan koperasi dan UMKM agar mampu memenuhi standar ekspor merupakan kunci agar nilai tambah tidak “bocor” ke luar negeri.
Hilirisasi mete tidak harus langsung melompat menjadi merek global, tapi bisa dimulai dari konsistensi grading, pengolahan kernel, hingga pengemasan yang memenuhi standar keamanan pangan internasional.
Bersamaan dengan itu, diplomasi perdagangan dan promosi merek nasional harus diperkuat agar mente Indonesia dikenal bukan sekadar sebagai bahan baku murah, melainkan produk berkualitas dengan cerita asal-usul yang kuat.
Tata kelola data perdagangan dan produksi pun perlu dibenahi, karena kebijakan yang presisi hanya mungkin lahir dari statistik yang akurat dan transparan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah angka ekspor semata, melainkan dampaknya pada kesejahteraan petani.
Lonjakan nilai dan volume ekspor memang membuktikan bahwa mete Indonesia masih kompetitif dan diminati pasar global.
Namun, kejayaan itu baru utuh jika peningkatan nilai per kilogram benar-benar diterjemahkan menjadi harga yang lebih baik di tingkat kebun, akses pembiayaan yang lebih adil, serta peluang kerja baru di sektor pengolahan lokal.
Kita mungkin belum sebesar negara-negara eksportir utama dunia, tetapi kita bukan pemain kecil. Kita sudah berada di radar global.
Kini saatnya memastikan bahwa kejayaan mete tidak berhenti di pelabuhan, melainkan mengalir hingga ke rumah tangga petani dan menjadi simbol bahwa pertanian rakyat Indonesia mampu naik kelas dan mengelola masa depannya sendiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang