Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global

Kompas.com, 10 Maret 2026, 07:33 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI tengah meningkatnya tren konsumsi teh dunia, Indonesia justru menghadapi ironi yang memprihatinkan. Kinerja ekspor teh hitam nasional terus merosot dalam dua dekade terakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan TradeMap menunjukkan bahwa pada periode 2006–2010 Indonesia masih mampu mengekspor sekitar 70–80 ribu ton teh hitam per tahun. Bahkan pada 2010 nilai ekspor sempat mencapai sekitar US$178 juta (setara Rp3 triliun).

Namun setelah itu grafiknya terus menurun. Pada 2023 nilai ekspor hanya tercatat sekitar US$139,6 juta (Rp2,3 triliun), turun 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara pada 2024 kondisinya semakin memprihatinkan, dimana volume ekspor tinggal sekitar 34 ribu ton dengan nilai hanya US$52,8 juta (Rp892 miliar).

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, penurunan ini terasa semakin dramatis. Pada 2005 Indonesia masih mampu mengekspor lebih dari 102 ribu ton teh ke pasar dunia. Kini volumenya tinggal sekitar sepertiganya.

Ironisnya, negara yang dulu dikenal sebagai salah satu eksportir teh penting di dunia kini justru mulai mengimpor teh hitam untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pada 2024 impor teh hitam bahkan mencapai sekitar 13 ribu ton.

Fakta ini menunjukkan bahwa penurunan ekspor teh bukan sekadar fluktuasi perdagangan biasa, melainkan cerminan melemahnya daya saing industri teh Indonesia secara struktural.

Baca juga: Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan

Kinerja Industri Teh Nasional

Salah satu akar persoalan utama melemahnya industri teh nasional adalah menyusutnya luas lahan tanaman teh. Dalam satu dekade terakhir, banyak kebun teh beralih fungsi menjadi lahan hortikultura, kawasan permukiman, atau penggunaan lain yang dianggap lebih menguntungkan dalam jangka pendek.

Data menunjukkan bahwa luas areal perkebunan teh turun dari sekitar 114,9 ribu hektare pada 2014 menjadi hanya sekitar 97,5 ribu hektare pada 2024. Penyusutan ini secara langsung mengurangi kapasitas produksi nasional dan mempersempit ruang bagi industri teh untuk berkembang.

Persoalan semakin kompleks karena sebagian besar tanaman teh di Indonesia telah berusia sangat tua, bahkan lebih dari 50 tahun. Tanaman yang menua cenderung memiliki produktivitas rendah dan membutuhkan biaya perawatan yang lebih tinggi.

Akibatnya, produktivitas rata-rata kebun teh Indonesia hanya sekitar 1,2 ton per hektar, jauh tertinggal dibandingkan negara produsen utama seperti India atau Kenya yang mampu mencapai 2 hingga 2,5 ton per hektare.

Kondisi ini membuat produksi nasional sulit bersaing, baik dari sisi volume maupun efisiensi biaya. Di tingkat petani, tekanan ekonomi juga semakin berat. Kenaikan biaya tenaga kerja, pupuk, dan pengolahan membuat margin usaha teh semakin tipis, sementara harga jual daun teh di tingkat petani relatif rendah.

Akibatnya, banyak petani kesulitan merawat kebun secara optimal sehingga kualitas daun dan hasil panen ikut menurun. Siklus ini menjadi lingkaran yang sulit diputus: harga rendah membuat perawatan minim, perawatan minim menurunkan produksi, dan produksi rendah semakin melemahkan daya saing.

Tidak sedikit petani akhirnya mengganti tanaman teh dengan komoditas lain seperti sayuran yang dianggap lebih cepat menghasilkan. Fenomena ini terlihat jelas di beberapa sentra teh di Jawa Barat, seperti Pangalengan, di mana kebun teh yang dulu menjadi sumber penghidupan masyarakat kini banyak berubah menjadi lahan sayuran, perlahan menghilangkan lanskap perkebunan yang selama ini menjadi identitas daerah.

Baca juga: Secangkir Optimisme Teh Indonesia

Ilusrasi daun teh di acara Jakarta Tea Passport 2022.DOK. KOMPAS.COM/ SUCI WULANDARI PUTRI CHANIAGO Ilusrasi daun teh di acara Jakarta Tea Passport 2022.

Persaingan Global dan Standar Internasional

Di tengah dinamika perdagangan global, pasar teh dunia kini semakin kompetitif. Negara-negara produsen besar seperti Kenya, India, China, dan Vietnam terus memperkuat posisinya dengan menawarkan harga yang lebih kompetitif sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk. Akibatnya, posisi Indonesia dalam peta perdagangan teh dunia terus merosot.

Dua dekade lalu Indonesia masih termasuk dalam tiga besar eksportir teh global, namun kini turun hingga sekitar peringkat ketujuh. Beberapa pasar utama juga mulai berkurang permintaannya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau