Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gejala Penyakit Busuk Akar Singkong dan Cara Mengendalikannya

Kompas.com, 4 Desember 2022, 16:21 WIB
Add on Google
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Singkong atau ubi kayu merupakan tanaman pangan yang mudah ditanam. Meskipun demikian, dalam budidaya singkong tetap ada kendala yang berisiko menyebabkan kerugian hingga gagal panen.

Salah satu kendalanya yaitu serangan patogen penyebab penyakit busuk akar. Dilansir dari Cybext Kementerian Pertanian, Minggu (4/12/2022), penyakit busuk akar pada singkong dapat berkembang pada lahan dengan kelembapan tinggi atau saat musim hujan tiba.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa jamur patogen seperti Botryodiplodia sp., Fusarium spp. Sclerotium rolfsii, Colletotrichum sp., Aspergillus spp, dan Cladosporium sp. berasosiasi yang akhirnya menyebabkan penyakit tersebut. Adapun penjelasan seputar gejala dan cara mengatasi penyakit ini, seperti berikut.

Baca juga: Simak, 5 Cara Meningkatkan Produksi Tanaman Singkong

Gejala penyakit busuk akar singkong

Ilustrasi busuk akar singkongShutterstock/DAwee Ilustrasi busuk akar singkong

Apabila tanaman singkong yang masih muda terserang penyakit ini, maka akan ditemukan gejalanya pada bagian perakaran, umbi, dan pangkal batang. Pada bagian tersebut akan muncul kerusakan jaringan atau busuk.

Selain itu, pada umbi dan tanah di sekitar perakaran juga akan ditemukan miselium maupun badan jamur. Penyakit busuk akar juga akan membuat tanaman layu, daun menguning dan mudah gugur, hingga menyebabkan tanaman mati.

Cara mengatasi penyakit busuk akar singkong

Untuk mengurangi risiko gagal panen akibat penyakit ini, maka upaya pengendalian penyakit busuk akar harus dilakukan sedini mungkin. Cara pengendalian penyakit busuk akar singkong dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan, memilih lokasi tanam yang tepat, pengolahan tanah dengan baik, serta pengelolaan tanaman dan pemupukan yang berimbang.

1. Varietas tahan

Penggunaan varietas tahan merupakan tindakan pengendalian preventif yang paling mudah dan cukup efektif untuk mencegah serangan penyakit busuk akar. Beberapa varietas singkong yang diketahui tahan penyakit, antara lain; UJ-5, Malang-4, Adira-4, dan Litbang UK-2.

Baca juga: Cara Menanam Singkong Gajah yang Benar

2. Pemilihan lokasi tanam yang baik

Singkong merupakan tanaman yang mudah ditumbuhkan di mana saja. Akan tetapi, sebaiknya tidak menanam ubi kayu di lahan yang tergenang air maupun pernah terinfeksi penyakit busuk akar. Pilihlah lahan yang drainasenya baik dan belum pernah terinfeksi patogen penyebab penyakit busuk akar.

Tanaman singkongPixabay/Amytril Tanaman singkong

3. Mengolah lahan dengan benar

Persiapan lahan tanam merupakan langkah awal dalam budidaya tanaman singkong. Pengolahan lahan harus dilakukan dengan benar agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan sehat.

Lahan yang akan digunakan untuk menanam singkong harus diberikan terlebih dahulu dari gulma maupun batang tanaman sebelumnya yang mungkin masih berada di lahan.

Baca juga: Cara Menanam Singkong yang Benar agar Produktivitasnya Melimpah

4. Pengolahan tanaman dan pemupukan yang tepat

Untuk mencegah serangan patogen pada stek singkong, maka stek singkong atau ubi kayu perlu dicelupkan terlebih dahulu dalam air hangat. Selain itu, pemberian pupuk yang tepat dan berimbang juga dinilai efektif untuk mencegah penyakit busuk akar pada singkong.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau