Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Mencegah Serangan Kutu Beras Pakai 3 Bumbu Dapur Ini

Kompas.com - 06/02/2023, 13:25 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam penanganan pascapanen padi, beras harus disimpan di tempat yang bersih dan tertutup rapat untuk menghindari serangan hama dan jamur. Akan tetapi, sering kali beras masih terkontaminasi oleh hama kutu beras.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Senin (6/2/2023), kutu beras adalah serangga hama dari marga Tenebrio yang dikenal gemar menghuni biji-bijian atau serealia yang disimpan.

Tidak hanya menyerang beras, tetapi juga dapat menyerang bulir jagung, biji kacang-kacangan, jewawut dan sorgum. Melihat dari sisi siklus hidupnya yang begitu cepat, maka mencegah kutu beras dirasa akan lebih mudah daripada mengendalikannya.

Baca juga: Simak, Ini Cara Mengolah Gabah Menjadi Beras

Ilustrasi kutu beras. SHUTTERSTOCK/CHERDCHAI CHAIVIMOL Ilustrasi kutu beras.

Kutu beras sebenarnya sudah terbawa saat masih dalam bentuk gabah. Jadi, saat gabah masih dalam penyimpanan, kutu beras telah menginfeksi gabah dengan memasukkan telurnya ke dalam bulir gabah.

Telur tersebut berada pada posisi dorman, sehingga ketika dilakukan penjemuran dan penggilingan kondisi telur masih baik-baik saja dan tidak akan mengalami perubahan.

Setelah gabah digiling menjadi beras dan disimpan pada suhu kelembapan yang cenderung stabil, telur kutu beras akan menetas.

Kemudian, larva mulai menggerogoti beras hingga mengakibatkan adanya gumpalan-gumpalan akibat bercampurnya air liur larva dengan kotorannya.

Baca juga: Cara Membuat Jamur Jakaba dari Air Cucian Beras

Telur kutu beras yang aktif akan menetas menjadi larva setelah tiga hari. Larva akan hidup pada lubang beras selama 18 hari.

Setelah itu akan menjadi pupa selama lima hari lalu bermetamorfosis menjadi kutu.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau