Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Membuat Pestisida dan Pupuk Alami dari Rumput Bandotan

Kompas.com - 03/03/2023, 14:18 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

Ilustrasi gulma bandotan atau babandotan.WIKIMEDIA COMMONS/RANJITHSIJI Ilustrasi gulma bandotan atau babandotan.

di cincang, kemudian masukan ke dalam wadah yang berasal dari plastik tambahkan air 85 liter, ditutup dan diperam selama 24 jam. Setelah diperam, saring dulu sebelum dimasukkan ke tangki semprot.

Pada setiap tangki semprot isian 14 liter ditambahkan deterjen sebanyak 10 gram, lalu dikocok rata.

Semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang pada pagi dan sore hari. Yang terbaik dilakukan penyemprotan pada sore hari.

Baca juga: Cara Membuat Pestisida dari Pacar Cina dan Cara Aplikasinya

Hama sasaran adalah hama serangga secara umum.

Cara membuat pupuk organik cair dari gulma babandotan

Daun bandotan atau babandotan adalah daun yang kaya unsur N (Nitrogen), yang biasa terkandung dalam pupuk urea. Namun, perlu diketahui, gulma bandotan juga kaya kandungan nitrogen, yang sangat dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar.

Berikut cara membuat pupuk organik cair dari gulma babandotan.

Pertama, cincang atau potong gulma babandotan hingga menjadi kecil-kecil. Kemudian, masukkan cincangan daun ke botol hingga mencapai setengah isinya.

Baca juga: Cara Membuat Pestisida Nabati dari Akar Kamboja

Tambahkan air dan berikan ruang kosong untuk udara. Tambahkan 3 sendok makan MOL dan 3 sendok gula putih, lalu kocok sampai merata dan tercampur.

Pupuk bisa digunakan jika sudah beraroma tape. Pupuk organik cair ini sudah jadi dalam waktu tujuh hari hingga tiga minggu.

Semakin lama proses fermentasi, akan bertambah banyak pula kandungan nitrogen yang dihasilkan. Setiap pagi, bukalah tutup supaya gas dapat kelur dan kocok botol sebentar dengan menggoyangkannya.

 

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau