Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Masa Depan Industri Tembakau Indonesia

Kompas.com, 19 Juni 2025, 10:59 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Misalnya, tekanan dari Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan kampanye antirokok yang masif telah membatasi pasar dan menurunkan minat merokok di banyak negara.

Baca juga: WCTC 2025 dan Paradoks Pengendalian Tembakau di Indonesia

Ketentuan kesehatan baru, seperti larangan tambahan bahan adiktif dan potensi plain packaging, juga mengancam kelangsungan kreasi lokal yang selama ini berakar kuat.

Di era digital, muncul pula substitusi berupa produk vape dan e-cigarette. Peralihan konsumsi generasi muda ke rokok elektrik menimbulkan implikasi ganda: meredam permintaan tembakau konvensional dan mengikis basis cukai negara.

Tren ini juga menimbulkan risiko baru, karena regulasi terhadap vape di Indonesia belum sejelas rokok tradisional.

Padahal, selain menimbulkan persoalan kesehatan baru, peredaran produk ilegal (tanpa cukai) juga mengikis lahan pasar tembakau legal.

Di tingkat produksi, efisiensi budidaya tembakau kita relatif rendah. Produktivitas rata-rata nasional sekitar 1.124 kg per hektar (bandingkan dengan 3.189 kg/ha di Italia), menunjukkan masih banyak ruang peningkatan.

Proses pascapanen yang masih manual dan teknik pengolahan tradisional menyebabkan kualitas daun sering kali menurun. Keterbatasan infrastruktur pengeringan dan penyimpanan juga mengakibatkan kerugian mutu.

Hilirisasi dan inovasi nilai tambah

Untuk menyongsong masa depan, industri tembakau Indonesia perlu melakukan hilirisasi dan diversifikasi produk. Pengembangan pabrik pengolahan hulu-hilir tembakau harus diperkuat, sehingga nilai tambah tidak hanya berhenti di daun kering.

Salah satu peluang besar adalah menambah jenis produk non-rokok. Misalnya, penelitian dan pengembangan tembakau untuk keperluan farmasi dan kesehatan (seperti ekstraksi nikotin untuk terapi, atau protein antitumor dari senyawa tembakau) sedang digarap.

Secara serupa, industri pestisida nabati dari tembakau memiliki potensi menjanjikan. Kelompok tani di Indonesia seperti Tani Punik Mitra berhasil memanfaatkan limbah batang tembakau menjadi bio-oil insektisida berbasis nikotin.

Baca juga: Industri Tembakau Tertekan, Serikat Pekerja Desak Revisi Aturan

Larutan nikotin alami ini ampuh mengendalikan hama tanaman dan merupakan contoh konkret bagaimana produk tembakau bisa diolah kembali menjadi panganan baru ekonomi.

Diversifikasi ke produk lain juga mencakup pemanfaatan gliserol tembakau untuk esens rokok elektrik berizin atau pembuatan pupuk organik.

Pemerintah dan peneliti sudah menyoroti peluang tembakau sebagai bahan baku organik dalam pupuk atau pakan ternak setelah fermentasi, sehingga sebagian limbah petani bisa dimaksimalkan.

Inovasi seperti penggunaan vermikompos (pupuk fermentasi cacing) telah terbukti meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kesuburan lahan.

Dengan metode ini, petani dapat mereduksi biaya pupuk kimia dan memelihara ekosistem lahan tembakau.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau