Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Liberika dan Excelsa: Jejak Eksotisme Kopi Nusantara

Kompas.com, 4 Juli 2025, 17:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Liberika kerap disebut “kopi nangka” atau “kopi nongko” karena aroma panggangannya mengingatkan pada buah nangka. Sedangkan sebagian petani di Sumedang menyebut keduanya “kopi Afrika” atau bahkan “kopibuhun” (kopi leluhur).

Penamaan ini menandai penghormatan terhadap warisan nenek moyang sekaligus cara membedakan rasa dan karakter mereka dari kopi lain di pasaran.

Di Kendal, Jawa Tengah, petani masih merawat rumpun Liberika yang konon telah berusia ratusan tahun, membuktikan nilai historis yang melekat pada tiap batang kopi.

Secara geografis, Liberika tumbuh paling baik pada lahan gambut ber-pH rendah dan kondisi tergenang musiman.

Baca juga: Kopi Artisanal dan Evolusi Selera Konsumen Modern

Jambi dan Bengkulu menjadi sentra utama, diikuti Kepulauan Meranti (Riau) yang menjadikan Liberika sebagai “penjaga” ekosistem gambut karena perakarannya mampu menahan erosi.

Jawa pun punya kantong produksi, dari Kendal hingga Jember, meski kepadatan pohonnya lebih jarang akibat ukuran batang yang tinggi dan besar.

Popularitasnya di kalangan pegiat specialty coffee terus menanjak, sementara kafe-kafe setempat berlomba menawarkan “Liberika aroma nangka” sebagai daya tarik kuliner sekaligus produk wisata agro.

Excelsa, di sisi lain, lebih adaptif pada dataran rendah tropis ber-pH tanah relatif tinggi. Budi dayanya terkonsentrasi di Tanjung Jabung Barat (Jambi) dan sebagian kawasan Riau, namun kini merambat hingga Temanggung dan Sumedang.

Cita rasa Excelsa yang masam gurih dan body yang tebal membuatnya kian diminati kompetisi kopi internasional.

Ketika barista Ryan Wibawa menyajikannya di panggung "World Brewers Cup 2024" di Chicago, ia menegaskan bahwa Liberika, Excelsa, dan Arabika merefleksikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, mewakili keragaman rasa sekaligus budaya Indonesia di mata dunia.

Kehadiran Liberika dan Excelsa, dengan segala keragaman nama, sejarah, dan persebarannya, menegaskan bahwa kopi tidak hanya soal ekonomi, melainkan juga narasi kebudayaan.

Di tengah tren kopi spesialti global, kedua varietas ini menjadi simbol kekayaan hayati yang mengangkat citra daerah asal sekaligus membuka peluang wisata, riset, dan inovasi kuliner.

Mempertahankan pohon kopi “buhun”, melestarikan praktik tanam tradisional, serta mengemas cerita di balik tiap cangkir adalah ikhtiar menjaga warisan leluhur dan memastikan bahwa kopi eksotis Nusantara tetap lestari serta diakui dunia.

Keunggulan kompetitif bagi petani kopi

Kopi Liberika dan excelsa tidak hanya hadir sebagai komoditas pertanian, tetapi juga telah menyatu dengan identitas budaya masyarakat di sejumlah wilayah penghasil kopi di Indonesia.

Sejak diperkenalkan pada akhir abad ke-19, kedua varietas ini bertahan lewat tradisi tutur, kebiasaan minum kopi, hingga seremoni panen yang diwariskan secara turun-temurun.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Varietas Tanaman
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Varietas Tanaman
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
Varietas Tanaman
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Varietas Tanaman
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau