Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Kluwek: Rahasia Kepayang pada Kuliner Nusantara

Kompas.com, 2 November 2025, 15:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

KLUWEK (juga dikenal sebagai keluak/klewek atau picung/pucung) adalah biji dari pohon kepayang (Pangium edule) yang menjadi kunci citarasa dan warna hidangan khas tradisional Nusantara. Biji berwarna hitam legam ini memberikan warna cokelat kehitaman dan aroma sedap pada masakan seperti rawon dan brongkos, dua kuliner legendaris yang tak terpisahkan dari identitas Jawa Timur.

Rawon, sup daging sapi berkuah hitam, mendapatkan warna khas dan rasa gurihnya berkat kluwek. Demikian pula brongkos, semur kacang berkuah pekat, memanfaatkan kluwek untuk memperkaya rasa. Tanpa kluwek, kuah rawon takkan sehitam manis dan sedalam citarasanya yang kita kenal.

Tak hanya di Jawa Timur, penggunaan kluwek juga sejak lama meluas di Nusantara. Beragam daerah memiliki masakan berbumbu kluwek, seperti gabus pucung di Betawi, sup konro di Sulawesi, hingga ayam buah keluak di komunitas Peranakan. Bumbu tradisional ini membuktikan bahwa keunikan lokal bisa menjadi nyawa hidangan yang mendunia.

Baca juga: Benarkah Bumbu Dapur Kluwek Mengandung Sianida?

Nilai Budaya Kluwek

Istilah “mabuk kepayang” barangkali akrab di telinga kita, digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tergila-gila oleh cinta sampai hilang akal. Ungkapan ini ternyata berakar dari pengalaman dengan buah kepayang (sumber kluwek) yang dapat menyebabkan efek memabukkan bila dikonsumsi mentah. Konon pada masa lampau, orang yang nekat memakan buah kepayang tanpa diolah akan teler seperti orang mabuk, karena racunnya mengganggu saraf.

Salah satu daerah penghasil kepayang, Kepahiang di Bengkulu, bahkan diyakini terkait dengan asal-usul ungkapan tersebut, “mabuk kepahiang” lama-lama berubah lafal menjadi “mabuk kepayang”.

Secara sejarah, kluwek bukan pendatang baru dalam khazanah kuliner. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa sejak akhir zaman Pleistosen (ribuan tahun silam), manusia di Nusantara telah mengenal cara mengolah biji kepayang agar aman dimakan. Di Gua Niah, Serawak, arkeolog menemukan sisa kluwek yang dipendam dengan abu, pertanda teknologi detoksifikasi tradisional sudah dikuasai manusia purba Nusantara, sekaligus bukti bahwa kluwek telah lama menjadi bagian dari pola makan dan kearifan lokal di kawasan kita.

Tak heran berbagai suku memiliki nama sendiri untuk kepayang, orang Jawa menyebutnya pucung, Sunda bilang picung, Minangkabau menyebut simiang, Toraja mengenal pamarrasan. Keberagaman penamaan ini mencerminkan penyebaran luas dan pentingnya kluwek dalam berbagai budaya daerah.

Secara simbolik, kluwek mengandung pesan kultural. Warna hitam legam yang dihasilkannya kerap dikaitkan dengan kekayaan rasa dan kedalaman makna. Dalam tradisi, hidangan berkuah hitam seperti rawon bisa hadir di meja acara adat atau pesta, melambangkan kehangatan dan kekayaan bumbu leluhur.

Ungkapan “mabok kepayang” pun mengajarkan kita tentang batas dan kehati-hatian, sesuatu yang nikmat bisa menjebak jika berlebihan atau tanpa ilmu.

Baca juga: Mudah, Cara Membuat Pestisida Nabati dari Kluwek

Ilustrasi kluwek atau keluak yang bahan bakunya mengandung sianida. DOK. SAJIAN SEDAP Ilustrasi kluwek atau keluak yang bahan bakunya mengandung sianida.

Gizi dan Keunikan Senyawa Kluwek

Jangan terkecoh oleh kelezatannya di piring, kluwek mentah aslinya mengandung racun yang berbahaya. Biji kepayang mengandung glikosida sianogenik, senyawa yang akan terurai menjadi asam sianida (racun sianida) saat dicerna. Itulah sebabnya orang bisa “mabuk” atau keracunan berat jika memakan buah kepayang tanpa olahan. Gejalanya mirip orang mabuk minuman keras, pusing, limbung, bahkan bisa berujung fatal bagi manusia.

Namun, nenek moyang kita sudah menemukan solusi jitu untuk menaklukkan racun ini: proses fermentasi dan perendaman tradisional. Biji kepayang biasanya direbus dulu, lalu direndam dalam air, dan selanjutnya dipendam dalam tanah berhari-hari (sering dibungkus daun pisang) hingga terjadi fermentasi. Teknik “mengeram” ini efektif menghilangkan racun sampai kadarnya tersisa sekitar 1% saja.

Menariknya, di balik wajah gelap kluwek tersimpan berbagai kandungan gizi dan senyawa unik. Bumbu tradisional ini mengandung mineral seperti zat besi, kalsium, fosfor, kalium, serta vitamin seperti Vitamin C dan B1 dalam jumlah yang berarti. Bahkan ada pula beta-karoten di dalamnya. Artinya, kluwek bukan sekadar penyedap rasa kosong belaka, tetapi turut menyumbang nutrisi.

Selain itu, penelitian mengungkap keberadaan senyawa-senyawa langka pada kluwek, misalnya asam hidnokarpat dan asam khaulmograt, dua jenis asam lemak siklik yang jarang ditemukan pada bahan pangan umum. Senyawa unik ini bersifat antibakteri dan telah digunakan sebagai terapi tambahan untuk penyakit kulit seperti kusta dan infeksi lain. Kluwek juga kaya akan tanin dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan, menjadikannya berpotensi baik bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Menariknya lagi, jejak racun yang tersisa dalam kluwek justru memberi manfaat tambahan. Kadar sianida yang sangat rendah setelah fermentasi berkontribusi sebagai pengawet alami dalam masaka. Tak heran rawon terkenal dapat tahan lama, konon kuah rawon yang mengandung kluwek bisa lebih awet karena terhambatnya pertumbuhan mikroba.

Baca juga: Mengandung Sianida, Ini 4 Tips Memilih Kluwek ala Pakar IPB

Tetap Lestari di Tengah Zaman Instan

Di era serba instan, kluwek, yang merupakan bumbu utama dalam masakan khas Nusantara, menghadapi ancaman kelestarian. Kemudahan bumbu instan membuat banyak orang melupakan bentuk asli dan proses tradisional kluwek. Generasi muda mungkin masih menikmati rawon, tetapi tak lagi tahu rupa biji kepayang atau cara mengolahnya. Padahal di balik proses fermentasi alami kluwek, tersimpan kearifan lingkungan dan filosofi hidup sederhana yang kini kian pudar.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Perawatan
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Varietas Tanaman
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau