
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
JAWA Timur dianugerahi beragam kondisi geografis, dari pegunungan sejuk, dataran tinggi vulkanis, hingga lereng berhawa hangat yang semuanya menyumbang karakter unik pada kopi yang dihasilkan.
Di Bondowoso, kopi arabika berlabel Kopi Arabika Java Ijen Raung menjadi primadona, tumbuh di tanah vulkanik subur dengan budidaya organik.
Kopi ini telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG) “Java Ijen-Raung”, menegaskan keaslian dan kualitasnya sebagai salah satu kopi spesialti terbaik Indonesia.
Tak heran Bondowoso semakin mantap menyandang julukan “Republik Kopi”, karena kopi tak sekadar komoditas di sana, melainkan sudah menjadi identitas daerah.
Beranjak ke barat daya, Kabupaten Jember juga menunjukkan potensi tinggi sebagai sentra kopi unggulan. Jember unik karena ditumbuhi tiga jenis kopi sekaligus, yaitu robusta, arabika, dan liberika.
Robusta Jember bahkan diklaim salah satu yang terbaik di Indonesia. Sementara liberika tumbuh di dataran rendah dan memiliki aroma buah nangka yang khas.
Selain itu, Jember kini memiliki dua sertifikat IG untuk kopi robusta, “Java Argopuro” dan “Java Raung-Gumitir”, yang semakin mengangkat citra kopi Jember di tingkat nasional maupun internasional.
Di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi menyimpan ladang robusta produktif yang juga tak kalah penting.
Baca juga: Kopi Toraja, Primadona di Negeri Sakura
Salah satu kebun terbaiknya terletak di Malangsari, kaki pegunungan Meru Betiri, dan diakui pasar Eropa sebagai sumber pasokan unggulan.
Kopi robusta Banyuwangi telah mendapatkan sertifikasi IG untuk “Kopi Robusta Java Banyuwangi”, mengukuhkan posisinya di peta kopi spesialti.
Empat daerah di atas hanyalah contoh utama, masih banyak wilayah Jawa Timur lain yang turut berkontribusi, seperti Pasuruan, Lumajang, Situbondo, Blitar, dan Kediri.
Keragaman ini membuat Jawa Timur kaya akan profil rasa kopi, dari keasaman floral arabika Bondowoso, kekayaan bodi robusta Malang, hingga aroma buah liberika Jember. Setiap cangkir menyimpan cerita geografis dan kearifan lokal masing-masing petani dan wilayah.
Provinsi Jawa Timur memainkan peran penting sebagai salah satu lumbung kopi nasional. Dengan areal perkebunan kopi sekitar 115.000–122.000 hektar, provinsi ini kini menempati posisi di empat besar produsen kopi di Indonesia.
Produksi tahunannya berkisar antara 72.000–78.000 ton biji kopi kering, atau hampir separuh dari total produksi Pulau Jawa.
Komoditas ini juga menjadi modal ekspor: pada periode Januari hingga April 2025 saja, nilai ekspor kopi Jawa Timur telah mencapai sekitar 99,5 juta dollar AS (sekitar Rp 1,64 triliun).