
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Banyak pekerja kopi saat ini sudah berusia lanjut, sementara generasi muda enggan melanjutkan profesi di sektor pertanian yang dipandang kurang menarik.
Bersamaan dengan itu, inovasi teknologi diterapkan agar anak-muda melihat bertani kopi bukan sekadar memetik buah, tapi mengolah, memasarkan dan menjadi agropreneur modern.
Di sisi ekologis, perubahan iklim menjadi bayang-bayang nyata yang mengancam masa depan kopi di Jawa Timur.
Tanaman kopi sangat peka terhadap fluktuasi suhu, curah hujan, hingga musim kemarau panjang, menyebabkan kondisi cuaca yang semakin tak menentu.
Akibatnya, daerah yang dulu ideal untuk produksi arabika kini mengalami penurunan hasil, petani bahkan harus mencari area tanam baru di ketinggian yang lebih tinggi.
Di tengah situasi ini, langkah adaptasi seperti penggunaan varietas tahan iklim, sistem agroforestri dan kalender tanam yang disesuaikan menjadi syarat untuk menjaga keberlanjutan perkebunan kopi.
Baca juga: Liberika dan Excelsa: Jejak Eksotisme Kopi Nusantara
Di ranah budaya dan pasar, pergeseran konsumsi kopi di dalam negeri turut membuka peluang baru bagi kopi Jawa Timur sekaligus menuntut kualitas yang lebih tinggi.
Dulu, “kopi tubruk” sederhana mendominasi. Sementara sekarang, tren kopi spesialti dengan single-origin, manual brew, dan kedai kekinian makin populer.
Ini artinya petani lokal tidak hanya memasok biji mentah, tetapi juga punya kesempatan mengambil bagian dalam nilai tambah.
Dalam kondisi tersebut, regenerasi petani muda dan upgrade kualitas produksi menjadi dua sisi koin yang saling terkait.
Jika petani muda mampu memanfaatkan pasar spesialti dan teknologi modern, maka kopi Jawa Timur bukan hanya akan lestari, tapi juga makin dihargai dan berdaya saing.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang