
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Data menunjukkan sebagian besar produk yang diekspor masih dalam bentuk green bean (biji mentah), yang menandakan potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah.
Selain sebagai daerah produksi, Jawa Timur juga berfungsi sebagai gerbang ekspor kopi dari seluruh Pulau Jawa.
Sekitar 86 persen ekspor kopi Pulau Jawa dikirim melalui pelabuhan di provinsi ini, dan provinsi ini menyumbang hampir 48 persen total produksi kopi Jawa.
Dengan demikian, pelabuhan di wilayah Surabaya dan sekitarnya menjadi titik tumpu pergerakan kopi ke pasar dunia, mencakup kopi robusta dari Lampung hingga arabika legendaris Jawa.
Catatan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, menunjukkan bahwa volume ekspor kopi Jawa Timur telah mencapai puluhan ribu ton, menunjukkan bahwa kopi bukan sekadar komoditas domestik, tetapi juga penghasil devisa signifikan.
Di tingkat lokal, dampak ekonomi kopi terasa hingga ke akar rumput. Rantai usaha kopi melibatkan ratusan ribu petani dan pekerja perkebunan di Jawa Timur.
Di banyak desa, lebih dari 80 peren penduduk hidup bergantung pada kopi, mulai sebagai petani, buruh petik, pengolah, hingga pelaku usaha kecil olahan.
Namun tantangan tetap ada, yaitu harga jual di tingkat petani sering berfluktuasi, dan mereka acap kali tidak memiliki posisi tawar yang kuat.
Untuk itu, pemerintah dan berbagai asosiasi mendorong penguatan kelembagaan petani seperti koperasi dan kelompok tani, agar petani memperoleh akses pasar yang lebih langsung dan nilai yang mereka terima lebih layak.
Baca juga: Kopi Lampung, dari Kebun ke Dunia
Potensi kopi Jawa Timur yang sangat besar harus terus dioptimalkan lewat pengembangan dari hulu hingga hilir.
Di sisi budidaya, peningkatan kualitas menjadi kunci, misalnya melalui praktik pertanian berkelanjutan, pemupukan organik, varietas unggul, dan peremajaan tanaman tua.
Di sisi hilir, upaya hilirisasi dan branding makin digalakkan melalui pelatihan bagi industri kecil menengah kopi, pengemasan premium, dan perlindungan merek berbasis asal daerah (IG).
Wisata kopi juga muncul sebagai ceruk peluang baru, dengan desa-tematik wisata kebun kopi yang menggabungkan edukasi, pengalaman wisata, dan peningkatan pendapatan komunitas lokal.
Dengan strategi tepat, kopi Jawa Timur bisa terus menjadi komoditas unggulan yang mendukung kesejahteraan petani sekaligus daya saing global.
Meski kilau kopi Jawa Timur tampak gemilang, di balik itu tersimpan tantangan sosial dan budaya yang tak bisa diabaikan. Salah satu yang paling mendesak adalah regenerasi petani.