Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Pelajaran Swasembada Gula Nasional

Kompas.com, 3 Desember 2025, 06:03 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Membangun Kembali Swasembada

Untuk mengatasi krisis gula yang semakin berat, pemerintah menetapkan Perpres No. 40 Tahun 2023 sebagai peta jalan swasembada gula nasional. Salah satu target utama dalam roadmap ini adalah memperluas areal tebu hingga 1,2 juta hektare sampai tahun 2030, terutama di luar Jawa dan lahan-lahan terlantar yang sesuai secara agroekologi.

Ekspansi ini diharapkan mampu mendongkrak produksi gula domestik sekaligus menekan ketergantungan pada impor yang selama ini menjadi penopang kebutuhan nasional.

Namun, perluasan lahan saja tidak cukup. Ketersediaan irigasi, kesesuaian tanah, serta tata ruang yang berkelanjutan harus menjadi dasar agar perluasan tersebut benar-benar produktif. Di sisi hulu dan tengah, pemerintah menempatkan modernisasi industri sebagai prioritas.

Revitalisasi pabrik gula tua dilakukan melalui penyertaan modal negara untuk mengganti mesin-mesin kuno dengan teknologi modern berkapasitas tinggi. Pabrik baru seperti PG Glenmore di Banyuwangi dijadikan model nasional dengan target rendemen di atas 10% dan  efisiensi ekstraksi mendekati standar internasional.

Sejalan dengan itu, hilirisasi berbasis tebu juga diperkuat, seperti tetes diolah menjadi bioetanol, ampas menjadi energi atau pulp, serta limbah lain menjadi pupuk organik.

Upaya lain yang tak kalah penting adalah intensifikasi pertanian, mulai dari pengembangan varietas unggul, peningkatan mekanisasi, hingga pendampingan. Seluruh strategi tersebut dipadukan dengan pengendalian impor dan stabilisasi pasar agar gula lokal mendapat ruang tumbuh.

Impor direncanakan dikurangi bertahap seiring peningkatan produksi, sementara lembaga seperti Bulog dan BUMN gula (SGN) diperkuat untuk menjaga stok penyangga dan menstabilkan harga di tingkat petani. Pemerintah juga mendorong pola kemitraan antara petani kecil dan perusahaan agar perluasan lahan berjalan adil dan berkelanjutan.

Pelajaran swasembada gula masa lalu menunjukkan swasembada dapat dicapai, tetapi harus diwujudkan melalui inovasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan petani, demi mandiri gula sekaligus mandiri energi berbasis bioetanol.

Baca juga: Peneliti: Perluasan Lahan Swasembada Gula Picu Konflik di Kawasan Hutan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau