Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Upaya ini, jika dipadukan dengan peningkatan kapasitas produksi, standar mutu ekspor, dan diversifikasi tujuan pasar, dapat memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai pengekspor volume, tetapi sebagai pemain utama produk kelapa bernilai tinggi di dunia.
Baca juga: Hasil Survei: Harga Kelapa Mahal Karena Diekspor, Perlu Aturan DMO
Pemerintah kian menyadari bahwa hilirisasi kelapa harus didorong secara lebih masif dan terstruktur. Kementerian Pertanian beserta seluruh jajaran pemerintah tentu menjadi motor penggerak utama. Direktorat Jenderal Perkebunan melalui program hilirisasi perkebunan dan kelapa sebagai salah satu komoditas utama juga bermaksud mengejar ketertinggalan sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Kementan bersama Kementerian Investasi/BKPM mendorong pembangunan fasilitas pengolahan skala besar di sentra-sentra produksi. Pada 2025–2026, sedikitnya tiga pabrik pengolahan dibangun di Maluku Utara, disusul rencana pabrik senilai sekitar US$100 juta di Morowali, Sulawesi Tengah, yang diproyeksikan menyerap hingga 10.000 tenaga kerja dan mengolah sekitar 500 juta butir kelapa per tahun.
Sejalan dengan arahan Presiden agar komoditas perkebunan tidak berhenti di hulu, Kementan juga menargetkan pengembangan 220 ribu hektare kawasan kelapa hingga 2027, penyiapan pabrik-pabrik pengolahan di berbagai daerah, serta program peremajaan varietas unggul untuk memperkuat fondasi industri hilir kelapa nasional. Transformasi ini mulai menarik minat investor, baik nasional maupun asing.
Di Maluku Utara, pelaku usaha lokal telah mengembangkan industri minyak kelapa murni (VCO) dan olahan air kelapa yang menembus pasar ekspor, termasuk ke China. Di Sulawesi Tengah, investasi besar dari China tengah membangun pabrik pengolahan kelapa bernilai ratusan juta dolar AS, menandai meningkatnya kepercayaan investor terhadap potensi industri kelapa Indonesia.
Tren global terhadap produk “superfood” seperti VCO, santan instan, dan produk berbasis sabut membuka peluang baru bagi pengolahan modern. Kementan mencatat ekspor VCO, arang tempurung, dan serat kelapa menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan, mengubah limbah menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Kehadiran jaringan industri hilir ini tidak hanya menciptakan ribuan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat rantai nilai kelapa dari kebun hingga pasar global. Namun, sektor kelapa tentu dihadapkan pada dinamika pasar global yang tidak ringan. Karena itu, hilirisasi dan penguatan rantai pasok menjadi keharusan strategis.
Dengan industri pengolahan yang kuat di dalam negeri, Indonesia tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, tetapi juga menstabilkan harga, memperbaiki posisi tawar petani, dan memastikan manfaat ekonomi kelapa terdistribusi lebih adil.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya