
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Mayoritas kebun perkebunan Indonesia dikelola oleh petani kecil, mereka adalah tulang punggung produksi nasional. Lebih dari 80% karet, di atas 90% kopi dan kakao, serta hampir seluruh kelapa, lada, dan pala berasal dari pekebun rakyat; bahkan sekitar 40% kebun sawit dikelola smallholders. Ironisnya, justru kelompok inilah yang paling rentan.
Skala lahan sempit, akses modal terbatas, posisi tawar lemah, dan ketergantungan pada rantai pasok yang panjang membuat kesejahteraan petani mudah tergerus. Saat harga jatuh, petani menanggung dampak paling pahit, namun ketika harga melonjak, keuntungan sering berhenti di tengah rantai niaga.
Struktur pasar yang kurang berpihak membuat petani kerap hanya menerima bagian nilai terkecil dari kerja keras mereka sendiri. Padahal, transformasi rantai nilai agrifood membuka peluang memperbaiki keadaan. Kemitraan usaha, koperasi modern, dan kontrak dengan industri atau ritel terbukti dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus menurunkan risiko usaha. Sayangnya, petani terkecil justru sering tertinggal dari arus ini.
Di sinilah peran kebijakan menjadi krusial, memperkuat kelembagaan ekonomi pekebun, mempermudah akses kredit mikro yang terjangkau, dan mendampingi investasi jangka panjang seperti peremajaan tanaman.
Tantangan lain yang tak kalah serius adalah regenerasi petani. Usia pekebun yang menua dan minimnya minat generasi muda mengancam keberlanjutan sektor. Upaya pemerintah melibatkan petani milenial misalnya di subsektor kakao melalui pelatihan dan inkubasi wirausaha muda perlu diperluas agar perkebunan menjadi sektor yang modern, menguntungkan, dan relevan bagi generasi baru.
Di hilir, agenda hilirisasi menjadi kunci untuk memutus lingkaran ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Pemerintah mendorong pengolahan hasil perkebunan di dalam negeri, dari VCO dan gula kelapa, produk turunan sawit, olahan karet, hingga industri rempah dan kosmetik berbasis pala, lada, dan cengkih.
Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian bahkan tengah menjalankan program hilirisasi perkebunan berupa pengembangan kawasan kelapa, lada, pala, kopi, kakao, mete dan tebu hingga ratusan ribu hektare. Program ini akan juga mendorong industri pengolahan berbasis komoditas sebagai motor nilai tambah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kekuatan hulu, seperti benih unggul dan teknologi budidaya, harus berjalan seiring dengan hilirisasi dan kemitraan. Penguatan pertanian dan perkebunan Indonesia perlu dipercepat melalui lompatan produktivitas yang cerdas dan berkelanjutan, dengan fokus pada peremajaan tanaman varietas unggul, pembiayaan inovatif bagi petani kecil, penguatan riset, penyuluhan, serta adopsi teknologi dan praktik climate-smart agriculture.
Transformasi ini harus menempatkan petani kecil sebagai aktor utama melalui penguatan kelembagaan, kemitraan yang adil, dan percepatan hilirisasi berbasis wilayah agar nilai tambah dan lapangan kerja tumbuh di desa.
Diperlukan lompatan kebijakan dan inovasi yang didukung kolaborasi pentahelix agar sektor perkebunan beralih dari pola business as usual menuju sistem yang inklusif, berdaya saing, dan mampu menjadikan pertanian sebagai lokomotif pembangunan yang menyejahterakan petani, menjaga lingkungan, serta mengangkat daya saing Indonesia di tingkat global.
Baca juga: Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang