Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional

Kompas.com, 11 Februari 2026, 09:24 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Arah Penguatan Petani Kecil dan Nilai Tambah

Mayoritas kebun perkebunan Indonesia dikelola oleh petani kecil, mereka adalah tulang punggung produksi nasional. Lebih dari 80% karet, di atas 90% kopi dan kakao, serta hampir seluruh kelapa, lada, dan pala berasal dari pekebun rakyat; bahkan sekitar 40% kebun sawit dikelola smallholders. Ironisnya, justru kelompok inilah yang paling rentan.

Skala lahan sempit, akses modal terbatas, posisi tawar lemah, dan ketergantungan pada rantai pasok yang panjang membuat kesejahteraan petani mudah tergerus. Saat harga jatuh, petani menanggung dampak paling pahit, namun ketika harga melonjak, keuntungan sering berhenti di tengah rantai niaga.

Struktur pasar yang kurang berpihak membuat petani kerap hanya menerima bagian nilai terkecil dari kerja keras mereka sendiri. Padahal, transformasi rantai nilai agrifood membuka peluang memperbaiki keadaan. Kemitraan usaha, koperasi modern, dan kontrak dengan industri atau ritel terbukti dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus menurunkan risiko usaha. Sayangnya, petani terkecil justru sering tertinggal dari arus ini.

Di sinilah peran kebijakan menjadi krusial, memperkuat kelembagaan ekonomi pekebun, mempermudah akses kredit mikro yang terjangkau, dan mendampingi investasi jangka panjang seperti peremajaan tanaman.

Tantangan lain yang tak kalah serius adalah regenerasi petani. Usia pekebun yang menua dan minimnya minat generasi muda mengancam keberlanjutan sektor. Upaya pemerintah melibatkan petani milenial misalnya di subsektor kakao melalui pelatihan dan inkubasi wirausaha muda perlu diperluas agar perkebunan menjadi sektor yang modern, menguntungkan, dan relevan bagi generasi baru.

Di hilir, agenda hilirisasi menjadi kunci untuk memutus lingkaran ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Pemerintah mendorong pengolahan hasil perkebunan di dalam negeri, dari VCO dan gula kelapa, produk turunan sawit, olahan karet, hingga industri rempah dan kosmetik berbasis pala, lada, dan cengkih.

Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian bahkan tengah menjalankan program hilirisasi perkebunan berupa pengembangan kawasan kelapa, lada, pala, kopi, kakao, mete dan tebu hingga ratusan ribu hektare. Program ini akan juga mendorong industri pengolahan berbasis komoditas sebagai motor nilai tambah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kekuatan hulu, seperti benih unggul dan teknologi budidaya, harus berjalan seiring dengan hilirisasi dan kemitraan. Penguatan pertanian dan perkebunan Indonesia perlu dipercepat melalui lompatan produktivitas yang cerdas dan berkelanjutan, dengan fokus pada peremajaan tanaman varietas unggul, pembiayaan inovatif bagi petani kecil, penguatan riset, penyuluhan, serta adopsi teknologi dan praktik climate-smart agriculture.

Transformasi ini harus menempatkan petani kecil sebagai aktor utama melalui penguatan kelembagaan, kemitraan yang adil, dan percepatan hilirisasi berbasis wilayah agar nilai tambah dan lapangan kerja tumbuh di desa.

Diperlukan lompatan kebijakan dan inovasi yang didukung kolaborasi pentahelix agar sektor perkebunan beralih dari pola business as usual menuju sistem yang inklusif, berdaya saing, dan mampu menjadikan pertanian sebagai lokomotif pembangunan yang menyejahterakan petani, menjaga lingkungan, serta mengangkat daya saing Indonesia di tingkat global.

Baca juga: Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau