
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PERKEBUNAN memegang peran strategis dalam perekonomian Indonesia sekaligus menjadi tumpuan hidup jutaan petani. Namun, di tengah tekanan krisis iklim, gejolak harga global, dan perubahan rantai pasok dunia, sektor ini tak lagi dapat bertahan dengan pola lama.
Laporan IFPRI Agricultural Development: New Perspectives in a Changing World (2021), menegaskan bahwa pembangunan pertanian modern harus melampaui sekadar peningkatan produksi, dengan peran yang lebih luas dalam pengentasan kemiskinan, perbaikan gizi, penguatan rantai nilai, keberlanjutan lingkungan, ketahanan iklim, serta inklusivitas.
Dengan perspektif ini, pertanian masa kini bukan hanya soal seberapa banyak yang dihasilkan, tetapi tentang bagaimana membangun sistem pangan yang tangguh, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Sebagai negara agraris dan produsen utama komoditas perkebunan dunia, Indonesia berada di persimpangan antara tantangan struktural dan peluang besar. Produksi sawit yang mencapai 45,58 juta ton pada 2022 menempatkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir terbesar dunia, disusul karet, kelapa, tebu, kopi, kakao, serta komoditas rempah bernilai historis seperti lada dan pala. Kontribusi ekspor pun signifikan, dengan nilai ekspor sawit mencapai US$27,74 miliar atau sekitar Rp 469 triliun pada 2022.
Namun di balik angka-angka impresif tersebut, tersimpan sinyal produksi sejumlah komoditas stagnan, bahkan menurun akibat persoalan produktivitas, tanaman tua, cuaca ekstrem, dan regenerasi petani.
Penurunan tajam produksi karet dan kakao, serta fluktuasi kopi yang sangat dipengaruhi iklim, menegaskan bahwa sektor perkebunan Indonesia membutuhkan terobosan kebijakan dan inovasi yang lebih berani.
Baca juga: Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Jika ditelisik lebih dalam, akar masalah perkebunan Indonesia terletak pada produktivitas lahan dan tanaman yang stagnan, terutama di perkebunan rakyat. Banyak smallholders masih berproduksi jauh di bawah potensi optimal.
Pada kelapa, misalnya, Kementerian Pertanian mencatat produktivitas kebun rakyat hanya sekitar 1,1 ton kopra per hektare per tahun. Akar masalahnya berulang, dominasi tanaman tua dan rusak, keterbatasan benih unggul, serta rendahnya penerapan praktik budidaya yang baik.
Karet menghadapi nasib serupa, dimana pohon-pohon menua, produktivitas merosot, dan sebagian petani beralih ke komoditas lain seperti sawit yang dianggap lebih menguntungkan. Masalah peremajaan (replanting) menjadi pekerjaan rumah besar hampir di semua komoditas. Sawit rakyat telah memiliki program peremajaan nasional, namun realisasinya masih tertinggal dari target.
Kakao bahkan berada pada situasi yang lebih mengkhawatirkan. Sebagian besar tanaman ditanam pada era 1980–1990-an dan kini memasuki fase senja produksi. Tanpa peremajaan dan penggunaan klon unggul tahan hama, produksi kakao nasional terus meluncur turun sejak 2015. Produktivitas rata-rata hanya sekitar 500 kg per hectare, jauh tertinggal dibanding negara produsen utama lain.
Dampaknya terasa hingga ke hilir. Pada 2023 Indonesia terpaksa mengimpor sekitar 74 ribu ton biji kakao untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan, sebuah ironi bagi negara yang pernah menjadi produsen kakao nomor tiga dunia.
Tekanan kian berat ketika perubahan iklim dan tuntutan keberlanjutan global ikut masuk ke gelanggang. Di perkebunan kopi, serangan hama penyakit dan cuaca ekstrem seperti hujan berlebih saat panen atau kemarau panjang yang tak menentu, menekan produksi, meski harga internasional sedang tinggi.
Fenomena serupa terjadi pada karet, yang pada 2023 produksinya merosot tajam akibat tanaman tua, penyakit gugur daun, alih fungsi lahan, hingga krisis tenaga penyadap muda.
Di saat yang sama, pasar global memperketat standar keberlanjutan, termasuk kebijakan bebas deforestasi Uni Eropa yang berdampak pada sawit, kakao, kopi, dan karet. Bagi petani kecil, memenuhi tuntutan sertifikasi dan jejak lingkungan yang ketat jelas bukan perkara mudah tanpa dukungan kebijakan, teknologi, dan pendampingan yang serius.
Tanpa adaptasi menyeluruh, risiko penurunan produktivitas dan tersingkirnya petani rakyat dari rantai nilai global kian nyata.
Baca juga: Menjaga Denyut Kakao Sulawesi