Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Patimah Anjelina
Dosen

Patimah Anjelina adalah akademisi di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya) dan penulis yang aktif mengulas isu pertanian, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam dari perspektif ilmiah yang aplikatif dan mudah dipahami publik

Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri

Kompas.com, 17 Februari 2026, 09:33 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Menembus Pasar, Menjaga Mutu

Meski potensinya besar, pengembangan gula aren berbasis agroforestri tidak lepas dari tantangan. Standarisasi mutu, konsistensi kualitas, dan akses pasar masih menjadi PR. Banyak produsen skala kecil belum memiliki sertifikasi yang dibutuhkan untuk menembus pasar modern atau ekspor.

Selain itu, proses produksi tradisional sering menghadapi keterbatasan teknologi. Tungku yang kurang efisien, pengemasan sederhana, dan minimnya akses pembiayaan dapat membatasi skala usaha.

Namun tantangan ini bukan hambatan permanen. Dengan pendampingan yang tepat, pelatihan, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha kecil, rantai nilai gula aren dapat diperkuat. Penguatan koperasi, kemitraan dengan pelaku industri pangan, serta promosi berbasis identitas geografis menjadi langkah strategis yang bisa ditempuh.

Di Desa Pasigitan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, aren bukan sekadar pohon pelengkap. Masyarakat desa mengelola nira aren menjadi gula aren curah melalui industri rumah tangga, yang produktivitasnya cukup menjanjikan dan potensial masuk ke pasar lebih luas.

Untuk membantu para pelaku usaha ini memenuhi standar pangan modern, pendampingan produksi diarahkan agar produk mereka mengantongi sertifikasi PIRT (Izin Produksi Industri Rumah Tangga) — sebuah langkah strategis agar produk gula aren dapat dipasarkan lebih luas, bahkan kepada pemasok gula untuk pasar ekspor.

Baca juga: Kisah Keluarga Karyanto, Turun Temurun Produksi Gula Aren di Desa Gunung Wangi

Aren dan Arah Masa Depan Pangan

Yang membuat aren istimewa bukan hanya potensi ekonominya, tetapi juga kesesuaiannya dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Ia tidak menuntut pembukaan lahan besar-besaran. Ia tumbuh dalam sistem yang menjaga tutupan vegetasi. Ia menghasilkan produk bernilai tanpa harus mengorbankan lingkungan.

Di tengah dorongan hilirisasi dan penguatan UMKM berbasis desa, gula aren memberi contoh bahwa industrialisasi tidak selalu harus berskala besar, tetapi bisa berangkat dari kebun-kebun kecil yang dikelola dengan visi jangka panjang. Ketika dunia berbicara tentang ekonomi hijau dan pangan berkelanjutan, gula aren sesungguhnya telah lama mempraktikkannya dalam skala desa.

Asap tipis dari tungku itu mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, tersimpan cerita tentang ketekunan, adaptasi, dan harapan. Aren mengajarkan bahwa kebangkitan ekonomi tidak selalu datang dari sesuatu yang baru, melainkan dari cara baru memandang yang sudah lama ada.

Jika dikelola dengan visi yang tepat, gula aren bukan sekadar pemanis dalam secangkir minuman. Ia bisa menjadi penopang masa depan ekonomi desa, berakar kuat di tanahnya sendiri, dan tumbuh selaras dengan alam yang menjaganya.

Baca juga: Menyimak Pembuatan Gula Aren Organik oleh Produsen di Sukabumi

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau