
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Meski potensinya besar, pengembangan gula aren berbasis agroforestri tidak lepas dari tantangan. Standarisasi mutu, konsistensi kualitas, dan akses pasar masih menjadi PR. Banyak produsen skala kecil belum memiliki sertifikasi yang dibutuhkan untuk menembus pasar modern atau ekspor.
Selain itu, proses produksi tradisional sering menghadapi keterbatasan teknologi. Tungku yang kurang efisien, pengemasan sederhana, dan minimnya akses pembiayaan dapat membatasi skala usaha.
Namun tantangan ini bukan hambatan permanen. Dengan pendampingan yang tepat, pelatihan, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha kecil, rantai nilai gula aren dapat diperkuat. Penguatan koperasi, kemitraan dengan pelaku industri pangan, serta promosi berbasis identitas geografis menjadi langkah strategis yang bisa ditempuh.
Di Desa Pasigitan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, aren bukan sekadar pohon pelengkap. Masyarakat desa mengelola nira aren menjadi gula aren curah melalui industri rumah tangga, yang produktivitasnya cukup menjanjikan dan potensial masuk ke pasar lebih luas.
Untuk membantu para pelaku usaha ini memenuhi standar pangan modern, pendampingan produksi diarahkan agar produk mereka mengantongi sertifikasi PIRT (Izin Produksi Industri Rumah Tangga) — sebuah langkah strategis agar produk gula aren dapat dipasarkan lebih luas, bahkan kepada pemasok gula untuk pasar ekspor.
Baca juga: Kisah Keluarga Karyanto, Turun Temurun Produksi Gula Aren di Desa Gunung Wangi
Yang membuat aren istimewa bukan hanya potensi ekonominya, tetapi juga kesesuaiannya dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Ia tidak menuntut pembukaan lahan besar-besaran. Ia tumbuh dalam sistem yang menjaga tutupan vegetasi. Ia menghasilkan produk bernilai tanpa harus mengorbankan lingkungan.
Di tengah dorongan hilirisasi dan penguatan UMKM berbasis desa, gula aren memberi contoh bahwa industrialisasi tidak selalu harus berskala besar, tetapi bisa berangkat dari kebun-kebun kecil yang dikelola dengan visi jangka panjang. Ketika dunia berbicara tentang ekonomi hijau dan pangan berkelanjutan, gula aren sesungguhnya telah lama mempraktikkannya dalam skala desa.
Asap tipis dari tungku itu mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, tersimpan cerita tentang ketekunan, adaptasi, dan harapan. Aren mengajarkan bahwa kebangkitan ekonomi tidak selalu datang dari sesuatu yang baru, melainkan dari cara baru memandang yang sudah lama ada.
Jika dikelola dengan visi yang tepat, gula aren bukan sekadar pemanis dalam secangkir minuman. Ia bisa menjadi penopang masa depan ekonomi desa, berakar kuat di tanahnya sendiri, dan tumbuh selaras dengan alam yang menjaganya.
Baca juga: Menyimak Pembuatan Gula Aren Organik oleh Produsen di Sukabumi
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang