
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SELAMA berabad-abad, cengkih menjadi salah satu komoditas yang mengubah arah sejarah dunia.
Rempah kecil berbentuk menyerupai paku ini mendorong bangsa-bangsa Eropa berlayar ribuan kilometer menuju Nusantara, memicu perebutan jalur perdagangan, bahkan melahirkan kolonialisme yang berlangsung selama ratusan tahun.
Tidak banyak komoditas pertanian yang memiliki pengaruh geopolitik sebesar cengkih. Ironisnya, ketika Indonesia kini kembali menjadi produsen sekaligus pengekspor cengkih terbesar di dunia, nilai ekonomi yang dinikmati bangsa ini masih jauh dari potensi sebenarnya.
Data perdagangan internasional tahun 2024 menunjukkan bahwa Indonesia mengekspor sekitar 51.4000 ton cengkih dengan nilai mencapai 319 juta dollar AS, atau menguasai sekitar 55 persen pangsa ekspor dunia.
Nilai tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir cengkih terbesar di antara 79 negara pengekspor, melampaui Madagaskar, Tanzania, Sri Lanka, dan Singapura.
Sekilas, angka tersebut tampak menggembirakan. Namun, jika dicermati lebih dalam, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah posisi sebagai eksportir terbesar sudah cukup? Jawabannya belum tentu.
Keunggulan Indonesia hingga kini masih didominasi oleh perdagangan bahan baku. Sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh negara atau industri yang mengolah cengkih menjadi produk farmasi, kosmetik, minyak atsiri, hingga bahan baku industri pangan.
Paradoks inilah yang perlu mendapat perhatian. Indonesia memang unggul secara komparatif karena memiliki kondisi agroklimat yang ideal dan merupakan pusat asal (center of origin) tanaman cengkih (Syzygium aromaticum).
Tanaman ini pada awalnya hanya tumbuh secara alami di lima pulau kecil di Maluku Utara, yakni Ternate, Tidore, Makian, Moti, dan Bacan.
Dari kawasan inilah cengkih menyebar ke berbagai penjuru dunia dan menjadi komoditas yang nilainya pernah melampaui emas pada abad ke-15.
Sejarah mencatat bahwa kelangkaan cengkih membuat bangsa Portugis, Spanyol, hingga Belanda rela mempertaruhkan armada laut dan kekuatan militer demi menguasai perdagangan rempah.
Bahkan jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, cengkih telah menjadi simbol prestise di Tiongkok.
Catatan Dinasti Han menyebutkan bahwa para pejabat diwajibkan mengunyah cengkih sebelum menghadap Kaisar sebagai bentuk penghormatan sekaligus untuk menyegarkan napas.
Namun, kebesaran sejarah tersebut belum sepenuhnya terjemahkan menjadi keunggulan ekonomi modern.
Salah satu persoalan utama terletak pada struktur pemanfaatan cengkih nasional. Hingga kini, sekitar 95 persen produksi cengkih Indonesia masih diserap oleh industri rokok kretek, sedangkan sisanya dimanfaatkan oleh industri pangan, farmasi, kosmetik, dan minyak atsiri.