
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Tanaman cengkih memiliki sistem perakaran yang relatif peka terhadap kekurangan air sehingga sangat rentan terhadap cekaman iklim.
Sebaliknya, curah hujan yang terlalu tinggi pada fase pembungaan juga dapat mengganggu pembentukan bunga dan menurunkan hasil panen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan daya saing ekspor tidak cukup dilakukan melalui kebijakan perdagangan semata.
Daya saing harus dibangun sejak di tingkat kebun. Investasi pada benih unggul, peremajaan tanaman, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), konservasi tanah dan air, pengendalian hama terpadu, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pemantauan kebun menjadi kebutuhan yang mendesak.
Lebih jauh lagi, Indonesia perlu mempercepat agenda hilirisasi cengkih. Pengembangan industri minyak atsiri, eugenol, isoeugenol, vanilin sintetis, bahan baku kosmetik, aromaterapi, pangan fungsional, hingga biofarmasi akan menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan hanya mengekspor bunga cengkih kering.
Di tengah meningkatnya permintaan global akan bahan baku alami dan produk berbasis nabati, peluang ini sangat besar.
Selain itu, penguatan kelembagaan petani juga perlu menjadi prioritas. Koperasi modern, akses pembiayaan, sertifikasi mutu, sistem ketertelusuran (traceability), hingga penerapan standar keberlanjutan akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional yang kini semakin menuntut kualitas dan keberlanjutan.
Pada akhirnya, tantangan Indonesia bukan lagi bagaimana menjadi produsen terbesar atau bahkan eksportir terbesar cengkih dunia. Data menunjukkan bahwa posisi tersebut telah berhasil diraih.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengubah keunggulan produksi menjadi keunggulan nilai tambah.
Selama Indonesia masih lebih banyak mengekspor bahan mentah daripada inovasi, negara ini akan terus kehilangan sebagian besar manfaat ekonomi dari rempah yang dahulu menjadi rebutan dunia.
Sudah saatnya cengkih tidak lagi dipandang sekadar sebagai komoditas perkebunan atau bahan baku industri rokok.
Cengkih harus ditempatkan sebagai komoditas strategis berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan hilirisasi.
Jika transformasi ini dapat diwujudkan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan dikenang sebagai tanah kelahiran cengkih, tetapi juga sebagai pemimpin dunia dalam industri rempah bernilai tinggi yang berkelanjutan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang