Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Di Indonesia, jenis bahan pangan sangat beragam. Selain beras, ada juga beberapa hasil pertanian yang kaya karbohidrat seperti jagung, ubi, singkong, sorgum, dan lain sebagainya.
Bahan pangan tersebut bisa diolah menjadi beras analog. Menurut penjelasan di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, beras analog adalah beras dari bahan non padi.
Secara fisik, beras analog menyerupai butiran beras biasa. Beras analog dapat dimanfaatkan sebagai produk diversifikasi pangan pengganti beras.
Tak hanya itu, beras analog juga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi. Di Indonesia, jenis beras analog sebenarnya sangat beragam.
Baca juga: 6 Jenis Tanaman Pangan yang Ada di Indonesia
Beras analog yang cukup terkenal yaitu beras jagung dan sorgum. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Simak ulasannya berikut ini.
Jagung merupakan salah satu bahan pangan kaya karbohidrat. Jagung mengandung nutrisi yang baik untuk tubuh.
Jagung menjadi salah satu bahan pangan yang dapat diolah menjadi beras analogKomposisi nutrisi dalam jagung meliputi pati 54,1 sampai 71,7 persen, protein 11,1 hingga 26,6 persen, lemak 5,3 sampai 19,6 persen, serat 2,6 hingga 9,5 persen, dan abu 1.4 hingga 21 pesen. Komposisi tersebut mungkin akan berbeda tergantung pada faktor genetik, varietas, dan kondisi penanaman.
Akan tetapi, nutrisi tersebutlah yang membuat jagung berpotensi untuk diolah menjadi bahan pangan. Jagung bahkan mulai diolah menjadi beras jagung instan yang mudah diolah.
Baca juga: Cara Menanam Jagung Organik yang Mudah Diterapkan
Jenis beras analog lainnya yang cukup mudah dijumpai yaitu beras sorgum. Sesuai dengan namanya, bahan pangan ini terbuat dari sorgum.
Biji sorgum diketahui mengandung protein, vitamin B, dan zat B yang tinggi. Biji sorgum menghasilkan karbohidrat yang bebas gluten, sehingga lebih menyehatkan.
Kandungan pati dalam sorgum diketahui tidak mudah dicerna, sehingga membuat rasa kenyang lebih lama. Maka dari itu, sorgum sangat cocok dikonsumsi saat diet.
Selain itu, sorgum juga mengandung indeks glikemik antara 50 sampai 60. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan beras, sehingga tidak cepat menaikan gula darah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya