Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Menanam Padi Organik agar Hasil Panen Optimal

Kompas.com, 28 September 2022, 19:56 WIB
Siti Nur Aeni ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Maka itu, upaya peningkatan produktivitas padi terus dilakukan.

Sejauh ini, petani menanam padi dengan menggunakan input bahan kimia, baik dalam bentuk pupuk maupun pestisida.

Baca juga: Cara Menanam Padi Sistem Jajar Legowo yang Efisien dan Menguntungkan

Padahal, penggunaan bahan kimia terus-menerus bisa menyebabkan dampak negatif bagi tanaman padi, lingkungan, sertamanusia.

Menyadari hal tersebut, membuat banyak pihak mulai mengenalkan dan mempraktikan pertanian organik. Sesuai dengan namanya, pertanian organik adalah kegiatan pertanian yang minim penggunaan bahan kimia. 

Pertanian organik dinilai lebih ramah lingkungan dan menguntungkan. Jenis tanaman apa pun bisa dibudidayakan dengan sistem pertanian organik, termasuk padi.

Dikutip dari buku Petunjuk Teknis Budidaya Padi Organik, Rabu (28/9/2022), berikut cara menanam padi secara organik agar hasil panennya melimpah dan berkualitas baik. 

Baca juga: Catat, 5 Manfaat Sekam Padi sebagai Media Tanam

Memilih varietas

tanaman padiPixabay/mufidpwt tanaman padi

Varietas padi yang cocok untuk pertanian organik adalah varietas alami serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit, antara lain Rojolele, Mentik, Pandan, dan Lestari.

Benih yang digunakan juga harus benih organik. Benih hasil rekayasa genetik tidak dapat digunakan untuk pertanian organik murni. Benih tersebut harus disemai terlebih dahulu sebelum ditanam di lahan budi daya.

Persiapan lahan

Langkah awal yang harus dilakukan sebelum mulai menanam padi organik adalah membebaskan lahan dari residu kimia.

Setelah itu, olah tanah dengan cara digemburkan hingga tekstur dan strukturnya sesuai dengan syarat tumbuh tanaman padi.

Baca juga: Panduan Seleksi Benih Padi Pakai Garam dan Telur

Pindah tanam

Bibit yang sudah memiliki tinggi sekitar 25 sentimeter dengan jumlah daun sekitar lima sampai enam helai daun sudah bisa dipindah ke lahan.

Cara menanam padi organik adalah menancapkan bibit pada lahan sesuai dengan jarak tanam yang sudah ditentukan.

Jarak tanam untuk sistem tanam tegel adalah 25 x 25 cm dan 30 x 30 cm. Sementara itu, untuk penanaman padi jajar legowo menggunakan jarak tanam 50 x 12,5 x 25 cm atau 50 x 15 x 25 cm.

Ilustrasi pemberian pupuk pada tanaman. SHUTTERSTOCK/SINGKHAM Ilustrasi pemberian pupuk pada tanaman.

Pemupukan

Budi daya padi organik menggunakan pupuk organik seperti kompos, pupuk kandang, atau sisa tanaman yang dibenamkan ke tanah. Pemberian pupuk dilakukan secara bertahap, dari sebelum tanam hingga pada tengah masa pertumbuhan.

Baca juga: Cara Pemupukan Berimbang pada Tanaman Padi agar Tumbuh Subur

Penyiangan

Pengendalian gulma juga diperlukan untuk menekan populasi gulma pada lahan budi daya padi. Pengendalian gulma bisa dilakukan secara mekanis atau menggunakan herbisida alami.

Pengairan

Dalam budi daya padi organik, pengairan perlu diperhatikan. Pastikan air tidak terkontaminasi bahan kimia. Untuk menetralisir bahan kimia yang masuk ke area budi daya, Anda bisa menanam eceng gondok di saluran drainase.

Pengairan diperlukan untuk menunjang pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Namun, saat tanaman mulai memasuki fase pembuahan dan pemasakan biji, lahan sawah harus kering.

Baca juga: Cara Menanam Padi Gogo di Lahan Kering

 

Ilustrasi tanaman padi. PIXABAY/ZCF428526 Ilustrasi tanaman padi.

Pengendalian hama dan penyakit

Pada budi daya padi organik, pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara pengendalian terpadu.

Penggunaan pestisida kimia sangat dihindari dan digantikan dengan penggunaan pestisida alami dan musuh alami. 

Baca juga: Mengenal Hama Penggerek Batang Padi dan Cara Mengendalikannya

Panen

Waktu pemanenan tanaman padi tergantung pada varietasnya. Secara umum, padi organik bisa dipanen saat butir gabah mulai menguning dan tangkainya sudah menunduk.

Panen dilakukan dengan memotong malai padi, kemudian gabah dirontokan dan dikeringkan. Setelah itu, digiling sampai menjadi beras yang siap untuk didistribusikan ke pasar. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
Varietas Tanaman
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Perawatan
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Varietas Tanaman
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau