Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Bongkar Ratoon Tebu, Jalan Cepat Swasembada Gula

Kompas.com, 31 Oktober 2025, 17:45 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

INDONESIA terus berambisi mewujudkan swasembada gula sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Namun, kenyataannya masih jauh dari harapan. Tahun 2024, produksi gula nasional diperkirakan hanya mencapai 2,46 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi rumah tangga dan industri diproyeksikan mencapai 6,5 juta ton.

Artinya, Indonesia masih menghadapi defisit lebih dari 4 juta ton setiap tahunnya. Kekurangan ini selama bertahun-tahun ditambal dengan impor, yang membuat harga gula sangat rentan terhadap fluktuasi pasar global dan berdampak pada stabilitas ekonomi nasional.

Di tengah krisis ketergantungan ini, Jawa Timur hadir sebagai provinsi penopang utama harapan swasembada.

Dengan luas areal tebu terbesar dan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap total produksi gula nasional, Jawa Timur memainkan peran krusial. Provinsi ini mencatat produksi gula mencapai lebih dari 1,2 juta ton per tahun.

Namun, satu persoalan klasik terus menjadi hambatan serius dalam peningkatan produktivitas, dominasi praktik ratoon atau keprasan tebu yang berlebihan.

Baca juga: Kawasan Tebu Nasional dalam Kekosongan Implementasi

Alih-alih menanam ulang dengan bibit baru, banyak petani mempertahankan tanaman lama hingga enam hingga delapan kali panen, yang pada akhirnya menurunkan hasil dan efisiensi lahan secara signifikan.

Program bongkar ratoon: Momentum yang harus dijaga

Ratoon adalah praktik menumbuhkan tunas baru dari tanaman tebu yang telah dipanen, tanpa menanam ulang.

Secara teknis, metode ini sah dan bahkan efisien dalam jangka pendek karena menghemat biaya tanam. Namun ada batas optimalnya.

Setelah tiga kali kepras, produktivitas tanaman biasanya mulai menurun tajam. Sayangnya, banyak petani di Jawa Timur melakukan ratoon hingga lima, bahkan delapan kali.

Alasannya sederhana, tanam ulang dianggap mahal, lambat, dan berisiko. Akibatnya, lahan kelelahan, tanaman makin kecil, dan hasil panen pun jeblok.

Data dari Jombang, salah satu sentra tebu Jatim, menunjukkan rata-rata produktivitas sekitar 73 ton per hektare, dengan rendemen 7,1 persen. Padahal, tanaman baru dari varietas unggul bisa mencapai 100 ton per hektare atau lebih.

Di Banyuwangi, misalnya, varietas Bululawang dan HMW yang ditanam ulang mampu menghasilkan hingga 106 ton per hektare. Artinya, selisih lebih dari 30 ton per hektare menjadi potensi hilang yang besar.

Jika skema bongkar ratoon diterapkan secara konsisten, lompatan produktivitas ini bisa menjadi kunci menuju swasembada.

Perbandingan antara tanaman baru dan ratoon menunjukkan perbedaan mencolok. Tanaman baru tumbuh dari bibit segar dengan akar kuat, menyerap unsur hara tanah secara optimal.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau