Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Budidaya Ciplukan, Buah Kecil yang Harganya Mahal

Kompas.com, 27 Oktober 2022, 18:37 WIB
Add on Google
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Ciplukan adalah buah kecil, yang ketika masak tertutup oleh perbesaran kelopak bunga. Tanaman ciplukan kaya khasiat bagi kesehatan, namun jarang ditemui di pasar, baik di pasar tradisional maupun pasar modern.

Dilansir laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Kamis (27/10/2022), bagian tanaman ciplukan yang dapat dimanfaatkan mulai dari daun, batang hingga buahnya sebagai ramuan obat. Peluang bisnis budidaya buah ciplukan ini masih sangat terbuka lebar.

Ciplukan (Physallis peruviana L.) masuk dalam satu keluarga tanaman Solanaceae termasuk terong. Ciplukan banyak memiliki nama berbeda tiap daerah, yaitu keceplokan, ciciplukan, kopok-kopokan (Bali), cecendet, cecenet (Sunda), nyornyoran (Madura), Leletokan (Minahasa), Kenampok (sasak), dan lapunonat (Tanimbar, Seram).

Baca juga: Mengenal Ciplukan, Awalnya Tanaman Liar, Kini Harganya Mahal

Ilustrasi buah ciplukan.SHUTTERSTOCK/ALL-STOCK-PHOTOS Ilustrasi buah ciplukan.

Ciplukan merupakan tumbuhan semak semusim, dan tergolong sebagai tanaman liar. Ciplukan biasanya tumbuh begitu saja di lahan kosong yang bertanah lembap namun tidak becek.

Ketinggian tanah yang baik untuk ciplukan tumbuh adalah sekitar 0 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut. Tanaman ciplukan tumbuh tegak dengan tinggi tanaman antara sekitar 30 sampai 50 cm.

Batangnya berwarna hijau persegi, dan bercabang. Daun berseling dan berlekuk, bertangkai 7 sampai 25 mm, dengan bentuk bulat telur memanjang dan ujungnya lancip. Ukuran panjang 3,5 sampai 10 cm dan lebar 2,5 cm.

Pada permukaan daun bagian atas berwarna hijau, dan permukaan bawah berwarna hijau muda dan berambut halus. Bunga buah keluar dari pangkal, buahnya berbentuk seperti lampion atau lentera, bila sudah masak berwarna kuning, rasanya manis agak keasam-asaman.

Baca juga: Simak, Tahapan Budidaya Tanaman Sayur di Rumah

Berikut cara budidaya ciplukan.

1. Syarat tumbuh

Tanaman ciplukan cocok hidup di tanah yang subur, gembur, tidak tergenang air, dan memiliki pH mendekati netral. Tanaman ciplukan mampu hidup pada tanah yang kurus, agak padat, dan kurang terawat bersama tanaman liar yang lain.

Ilustrasi buah ciplukan.PIXABAY/MATTHIAS BOCKEL Ilustrasi buah ciplukan.

Kondisi lapisan olah tanah bagian atas sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanaman ciplukan. Ciplukan dapat hidup di dataran rendah hingga dataran dengan ketinggian sekitar 1.500 mdpl.

2. Persiapan benih

Benih ciplukan dapat diperoleh dari buah yang sudah berumur lebih dari 2,5 bulan. Buah yang sudah matang dan tua, bila dipijit dengan jari akan mengeluarkan daging buah yang lunak beserta bijinya.

Baca juga: Cara Budidaya Alpukat Aligator di Pekarangan, Bisa Panen Setiap Saat

Biji ini digunakan sebagai benih yang siap disemai.

3. Penyiapan media semai

Penyemaian dilakukan untuk proses pembentukan kecambah benih yang tumbuh menjadi tanaman ciplukan, Jika sudah tumbuh daun, bibit siap untuk dipindahkan ke lahan.

Tanah yang digunakan untuk melakan proses penyemaian harus mempunyai tekstur yang lembut dan mempunyai cukup kandungan nutrisinya selama proses persemaian.

4. Penyemaian benih

Pemeliharaan bibit benih ciplukan di bak relatif lebih mudah daripada pemeliharaan benih di bedengan. Menabur benih di bedengan secara langsung perlu ditutupi dengan tutup plastik untuk menekan penguapan air dari media bibit, menghindari paparan panas atau hujan, dan mencegah hama dan penyakit.

Baca juga: Cara Budidaya Jeruk Keprok, Varietas Lokal Unggulan Indonesia

Bibit berusia satu hingga 1,5 bulan siap ditanam dalam tanah.

5. Penanaman

Bibit ciplukan tumbuh di persemaian memiliki akar relatif sedikit, batang masih lunak, dan jumlah daun sekitar 8 lembar. Benih ini memiliki kelemahan akar dan batang yang mudah rusak, dan sekali rusak daun cepat layu.

Oleh karena itu, biji ciplukan perlu dipindahkan dengan hati-hati, dan setelah dicabut harus segera ditanam kembali.

Ilustrasi buah ciplukan, tanaman ciplukan. SHUTTERSTOCK/WAW.GALERY Ilustrasi buah ciplukan, tanaman ciplukan.

6. Perawatan

Perawatan tanaman ciplukan di daerah penanaman kurang lebih sama dengan budidaya ciplukan dalam pot. Penyuluhan tanaman harus segera dilakukan untuk menggati bibit tanaman yang mati.

Baca juga: Cara Budidaya Jamur Shiitake, Peluang Bisnis yang Menjanjikan

Menyiram tanaman ciplukan berlebihan juga tidak baik, mengingat kebutuhan air tidak jauh berbeda dari tanaman palawij, yang relatif sedikit. Pemupukan dapat dilakukan sebanyak dari dosis pupuk yang digunakan pada tanaman tomat.

Prinsip pemberian pupuk buatan pada tanaman ceplukan adalah sebagai berikut.

Seluruh dosis pupuk Fosfor dan Kalium, diberikan pada lubang-lubang pertanaman, sedalam penanaman bibit.

Pupuk susulan pertama berupa dosis dari pupuk Nitrogen, yang diberikan 14 hari setelah tanam. Pupuk ditaburkan pada alur yang dibuat di sekeliling tanaman, dengan jarak sekitar 10 cm dari lubang tanam.

Baca juga: Cara Budidaya Semangka agar Buahnya Besar dan Manis

Pupuk susulan kedua berupa dosis dari pupuk Nitrogen, yang diberikan 35 hari setelah tanam. Pupuk ditaburkan pada alur yang dibuat di sekeliling tanaman, dengan jarak sekitar 10 cm dari lubang tanam.

Apabila budidaya ciplukan ditujukan untuk dipungut brangkasnya, maka dosis pupuk Nitrogen dapat ditingkatkan, sedangkan dosis pupuk Fosfat dan Kalium dikurangi.

Penggunaan pupuk pada tanaman ciplukan yang ditanam dengan sistem tumpang sari disesuaikan dengan dosis pupuk yang digunakan bagi tanaman utamanya.

7. Panen

Buah ciplukan dapat dipanen dengan tenggang waktu setiap dua hingga tiga minggu. Jika budidaya berhasil dan berkualitas maka akan menghasilkan buah yang seragam dan matang sempurna ketika panen.

Satu batang pohon ciplukan mampu memproduksi 300 buah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau