Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pupuk Kaltim Akan Manfaatkan Emisi Pembuatan Urea Menjadi Soda Ash

Kompas.com - 06/06/2023, 20:02 WIB
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Pupuk Kaltim (PKT) adalah produsen urea terbesar di Asia Tenggara. Hingga kini, PKT terus berupaya untuk berinovasi dan menggali potensi yang bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Salah satu upaya yang dilakukan yaitu diversifikasi usaha yang berfokus pada produk bernilai tambah dan ramah lingkungan dalam bentuk pengembangan pabrik soda ash. Perlu diketahui bahwa soda ash adalah salah satu komponen bahan baku yang diperlukan untuk membuat kaca, keramik, tekstil, kertas, dan aki.

Pada tahun 2022, tercacat soda ash dalam negeri mencapai 916.828 metrik ton per tahun dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 1,2 juta metrik ton per tahun pada tahun 2030 mendatang.

Baca juga: Pupuk Kaltim Bantu Petani Kembangkan Usaha Pertanian lewat Program Ini

Sebagai produsen pupuk urea terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, PKT menjadikan hal tersebut sebagai peluang yang sejalan dengan tujuan pemerintah untuk membangun Indonesia lebih mandiri energi dan industri.

“PKT mengambil peran melalui diversifikasi usaha yang dilakukan untuk meningkatkan peluang usaha dalam negeri. Pembangunan soda ash ini menjadi salah satu program hilirisasi yang dilakukan oleh PKT. Selain itu, hal ini juga kami lakukan untuk dapat meningkatkan nilai jual komoditas, dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan kedepannya. Kami ingin menjadi salah satu pelopor untuk mengurangi impor dengan menyiapkan soda ash produksi dalam negeri,” ujar Hanggara Patrianta, Direktur Operasi dan Produksi PKT.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, PKT tengah bersiap membangun pabrik soda ash dengan kapasitas 300.000 MTPY di lahan seluas 16 hektare. Pabrik baru tersebut didirikan di Bontang, Kalimantan Timur.

Acara media briefing proyek soda ash PKTDok. Pupuk Kaltim Acara media briefing proyek soda ash PKT

Dengan adanya pabrik tersebut, harapannya bisa menyerap 1000 tenaga kerja lokal di Bontang selama proyek pembangunan pabrik berlangsung. Nantinya, hasil soda ash akan didistribusikan ke beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Riau, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Baca juga: Manfaat Pupuk TSP untuk Tanaman

Wildan Hamdani, Project Manager Soda Ash mengatakan bahwa, “Saat ini, proyek soda ash dalam proses prakualifikasi dan segera akan dilakukan tender. Izin lingkungan juga sudah diperoleh pada Desember 2022 yang lalu. Dalam proses pembangunan pabrik soda ash ini, kita juga melihat adanya potensi pelibatan industri lokal untuk pengadaan bahan baku soda ash seperti garam industri. Selain garam, bahan baku pembuatan soda ash yaitu CO2 dan amonia. Jika semua berjalan lancar, ditargetkan pabrik soda ash ini akan selesai dibangun pada akhir tahun 2026.”

CO2 merupakan hasil emisi pabrik, sedangkan amonia merupakan by product pembuatan pupuk urea. Pembangunan pabrik ini juga menjadi upaya PKT untuk menerapkan ekonomi sirkulasi yang memanfaatkan produk sampingan C02.

Awalia Noor Baroroh sekali VP Riset PKT menerangkan bahwa pembangunan soda ash akan mengurangi impor Indonesia dan menyerap CO2 sekitar 174.000 ton per tahun. Dengan demikian, beban emisi CO2 perusahaan berkurang dan dapat menjadi produk yang bermanfaat untuk industri maupun masyarakat.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Video rekomendasi
Video lainnya

Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com