TANAMAN serat alam di Indonesia sangat beragam, mencakup kapas, kapuk, rami, rosela, kenaf, dan lainnya.
Menurut laporan Global Fiber Consumption and Market Trends (2024), penggunaan serat alam dalam sektor tekstil diperkirakan tumbuh sebesar 8 persen per tahun selama lima tahun mendatang, terutama didorong meningkatnya permintaan terhadap bahan baku ramah lingkungan.
Meskipun demikian, industri tekstil Indonesia masih sangat bergantung pada kapas, walaupun produksi kapas domestik hanya memenuhi kurang dari 0,1 persen kebutuhan nasional.
Serat alam dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya menjadi tiga kelompok, yaitu:
Serat alam memiliki keunggulan signifikan dibandingkan bahan sintetis karena sifatnya yang mudah terurai secara alami, sehingga dapat mengurangi penumpukan limbah dan emisi karbon.
Selama beberapa dekade, bahan seperti kapas, kenaf, rami, sisal, kapuk, dan serat kelapa telah menjadi bagian integral dari berbagai industri.
Baca juga: Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia
Di sektor tekstil, kapas merupakan bahan utama di negara-negara produsen besar seperti India, China, dan Amerika Serikat.
Sementara itu, rami menawarkan kekuatan tarik jauh lebih tinggi dibandingkan kapas, serta memiliki daya serap air yang lebih tinggi.
Keunggulan tersebut menjadikan rami alternatif menarik untuk menggantikan kapas, terutama bagi negara seperti Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor.
Di tingkat global, peningkatan kesadaran akan keberlanjutan telah mendorong konsumen dan industri beralih ke bahan baku ramah lingkungan.
Permintaan tinggi untuk serat alam juga terlihat di sektor kertas dan kemasan, di mana upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai mendorong pengembangan produk berbasis serat alam.
Perusahaan otomotif terkemuka mulai memanfaatkan keunggulan serat alam dalam pembuatan komponen kendaraan.
Dengan mengganti bahan plastik sintetis dan serat gelas dengan serat kenaf atau rami, produsen mobil dapat menghasilkan komposit yang lebih ringan, meningkatkan efisiensi bahan bakar, dan mengurangi emisi gas rumah kaca, sehingga mendukung industri otomotif yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Di Indonesia, industri tekstil masih sangat bergantung pada kapas, yang menyumbang sekitar 29,7 persen total produksi serat tekstil dunia.
Sementara produksi kapas domestik hanya memenuhi kurang dari 0,1 persen kebutuhan nasional.
Baca juga: Kemandirian Obat Melalui Tanaman Biofarmaka