Sebagai alternatif, serat rami (Boehmeria nivea S. Gaud) menawarkan solusi strategis dengan kandungan selulosa 72–97 persen, kekuatan tarik mencapai 95 kg/mm², dan daya serap air sebesar 12 persen.
Rami juga telah mulai dimanfaatkan sebagai serat penguat dalam industri komposit, dengan permintaan global mencapai 120.000 ton dan setiap kendaraan di Eropa menggunakan 5–10 kg serat alam sebagai bahan baku.
Industri pulp dan kertas di Indonesia terus berkembang, dengan negara ini menempati posisi produsen pulp terbesar ke-9 dan produsen kertas serta karton terbesar ke-8 (data FAO, 2016).
Walaupun sebagian besar produksi masih mengandalkan pulp serat pendek dari Hutan Tanaman Industri (HTI), Indonesia masih mengimpor pulp serat panjang untuk kertas khusus seperti kertas uang.
Pemanfaatan bahan baku lokal seperti abaca, rami, kenaf, kapuk, dan daun nanas menawarkan solusi menjanjikan. Misalnya serat kapuk memiliki sifat unggul setelah diolah melalui proses soda atau kraft, dan limbah daun nanas dapat menghasilkan pulp berkualitas tinggi.
Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan tanaman serat serbaguna yang digunakan untuk kemasan, pelapis dinding, interior mobil, geo-tekstil, dan bahan penguat dalam komposit.
Program intensifikasi kenaf di Indonesia, yang dimulai sejak 1979/1980, pernah mencapai puncak pada 1986/1987, namun menurun akibat perubahan penggunaan lahan dan persaingan dengan kemasan plastik.
Baca juga: Superfood Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan
Meski demikian, kenaf tetap vital karena tumbuh di lahan tergenang, tahan kekeringan, dan mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 36 persen.
Selain itu, tanaman sukulen seperti Agave sisalana dan A. cantala tumbuh optimal di daerah kering, sedangkan pisang abaca yang dibudidayakan di Sangihe dan Talaud menunjukkan potensi besar meskipun menghadapi tantangan pada kekuatan serat dan pembusukan, sehingga upaya konservasi dan pengembangan terus dilakukan untuk melestarikan warisan budaya lokal.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga riset merupakan kunci dalam mengoptimalkan potensi serat alam.
Upaya ini dimulai dengan peningkatan budidaya melalui pengembangan varietas unggul tanaman seperti kapas, rami, dan kenaf, yang mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas serat.
Selain itu, investasi dalam teknologi pengolahan modern sangat penting untuk menghasilkan produk serat alam yang lebih halus, kuat, dan efisien dari segi biaya produksi.
Selama ini, peran Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, yang kini telah berubah menjadi Balai Standarisasi Instrumen Pemanis dan Serat di bawah BSIP, sangat vital dalam penelitian dan pengembangan serat alam.
Dimulai sejak dekade 1980-an, riset ini berfokus pada peningkatan daya saing produk dan potensi komoditas serat, sehingga pada tahun 2016 Balittas mendapatkan pengakuan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Serat oleh Kemenristek.
Pencapaian ini menandai kemajuan signifikan dalam upaya mengembangkan serat alam untuk mendukung berbagai sektor industri.
Sebagai PUI Serat, Balittas kini tidak hanya berfokus pada sektor pertanian, melainkan juga industri tekstil, otomotif, konstruksi, dan kemasan.
Hasil penelitian yang menonjol, seperti pengembangan varietas unggul kenaf, rami, dan sisal, telah mengubah tanaman-tanaman yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi komoditas dengan potensi besar.
Lebih lanjut, diversifikasi produk melalui pengembangan produk turunan seperti komposit otomotif, kemasan, dan pulp kertas, membuka peluang pasar global yang semakin berkembang dan memperkuat daya saing produk berbasis serat alam di kancah internasional.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.