Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global

Kompas.com, 18 Maret 2026, 08:09 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI dapur dunia, kayu manis adalah aroma yang tak pernah absen. Ia hadir dalam roti, minuman, obat tradisional, hingga produk kosmetik. Namun ironi kerap terjadi, aroma yang harum di meja makan global itu sering tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan pekebun di negeri asalnya.

Indonesia adalah produsen kayu manis terbesar di dunia untuk jenis Cinnamomum burmannii. Komoditas ini bukan sekadar rempah, ia adalah sumber penghidupan puluhan ribu keluarga. Data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat bahwa pada 2022 luas kebun kayu manis rakyat mencapai sekitar 87 ribu hektare dengan produksi sekitar 60 ribu ton. Komoditas ini melibatkan sekitar 90 ribu keluarga petani yang tersebar terutama di Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan.

Dari sisi perdagangan, kontribusinya juga nyata. Ekspor kayu manis Indonesia pada 2024 disebut mencapai sekitar 29 ribu ton dengan nilai sekitar USD 112 juta (sekitar Rp1,9 triliun). Hingga Oktober 2025, ekspor tercatat sekitar 21 ribu ton senilai USD 80,8 juta (sekitar Rp1,37 triliun). Angka ini menegaskan satu hal, bahwa kayu manis bukan komoditas bernilai kecil.

Baca juga: Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup

Harum di Dunia, Nilai Rendah di Kebun

Selama ini Indonesia cenderung puas sebagai pemasok bahan mentah. Kayu manis dijual dalam bentuk kulit kering, kemudian diproses lebih lanjut di negara lain. Di sanalah nilai tambah terbesar tercipta, dari pengolahan, branding, hingga distribusi global. Akibatnya, rantai nilai rempah tidak seimbang.

Pekebun berada di ujung rantai dengan marjin yang paling rendah, sementara keuntungan terbesar dinikmati oleh pelaku yang menguasai pengolahan dan pasar.

Data perdagangan menunjukkan fenomena menarik. Pada periode 2018–2022 volume ekspor kayu manis Indonesia justru menurun dari sekitar 41 ribu ton menjadi sekitar 26 ribu ton. Namun nilai ekspornya tidak turun secara sebanding, bahkan sempat mencapai lebih dari USD 160 juta pada 2021.

Pesan dari pasar global sebenarnya jelas, dunia tidak lagi hanya membeli tonase. Dunia membeli mutu. Artinya, peluang Indonesia sebenarnya masih sangat besar—asal strategi pembangunan kayu manis tidak berhenti di kebun, tetapi meluas hingga ke hilir.

Keunggulan utama Indonesia terletak pada basis kebun rakyat yang luas. Sentra terbesar berada di Jambi dan Sumatera Barat, terutama wilayah Kerinci yang dikenal sebagai salah satu penghasil kayu manis terbaik dunia.

Namun budidaya kayu manis memiliki karakteristik unik. Ia bukan tanaman panen cepat. Pekebun harus menunggu beberapa tahun sebelum memperoleh hasil optimal. Panen pertama biasanya dilakukan melalui penjarangan pada umur 3–5 tahun dengan hasil relatif kecil. Produksi utama baru terjadi pada umur sekitar 6–9 tahun.

Artinya, siklus ekonomi tanaman ini bersifat jangka menengah. Di sinilah strategi kebun campuran menjadi sangat penting. Di Kerinci misalnya, banyak petani menanam kopi bersama kayu manis. Kopi memberikan pendapatan tahunan, sementara kayu manis menjadi tabungan jangka panjang. Sistem ini tidak hanya mengurangi risiko ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologis lahan.

Contoh serupa juga mulai terlihat di berbagai daerah lain, termasuk Temanggung di Jawa Tengah, di mana kayu manis ditanam sebagai tanaman kanopi di kebun kopi. Pendekatan agroforestri seperti ini membuka peluang pengembangan kayu manis di luar Sumatera tanpa harus mengorbankan keberlanjutan lahan.

Dengan kata lain, kekuatan Indonesia tidak hanya pada produksinya, tetapi juga pada model kebun rakyat yang adaptif.

Baca juga: Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Nilai Tambah Terbesar Ada di Hilir

Selama Indonesia hanya mengekspor bahan mentah kayu manis, kita akan terus berada dalam posisi tawar yang lemah. Negara lain membeli kulit kayu manis dari Indonesia, memprosesnya menjadi produk jadi, lalu menjualnya kembali dengan nilai berlipat. Karena itu, agenda hilirisasi bukan sekadar jargon industri. Ia adalah kunci untuk mengubah struktur ekonomi rempah.

Hilirisasi tidak selalu berarti pabrik besar. Langkah awal yang lebih realistis justru ada di tingkat sentra produksi, baik proses pengeringan higienis, sortasi mutu, standardisasi kadar air, hingga pengemasan yang lebih baik. Langkah sederhana ini dapat meningkatkan kualitas produk dan membuka akses pasar yang lebih luas.

Salah satu contoh penting datang dari Kayu Manis Koerintji yang telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis (IG). Sistem ini tidak hanya memberi label asal, tetapi juga membangun tata kelola mutu dari kebun hingga pemasaran.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau