
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Dalam praktiknya, kelompok petani yang tergabung dalam organisasi pengelola IG menerapkan sistem kontrol internal terhadap proses budidaya dan pascapanen. Hasilnya bukan hanya peningkatan kualitas produk, tetapi juga perbaikan harga di tingkat petani.
Studi akademik menunjukkan bahwa penerapan IG di Kerinci memberikan kenaikan harga sekitar empat persen pada tahap awal penerapannya. Angka itu mungkin terlihat kecil, tetapi maknanya besar, premium pasar tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari organisasi petani, standar mutu, dan sistem kepercayaan pasar.
Jika model ini diperluas ke sentra lain, kayu manis Indonesia bisa memiliki posisi yang jauh lebih kuat di pasar global.
Baca juga: Apa Saja Khasiat Kayu Manis? Ini 10 Daftarnya...
Meski potensinya besar, ada beberapa tantangan yang masih membatasi kesejahteraan pekebun.
Pertama, asimetri informasi harga. Banyak petani tidak mengetahui standar mutu dan harga di tingkat ekspor. Tanpa transparansi grade dan harga, sulit bagi mereka untuk menangkap premium yang dibayar pasar.
Kedua, akses pembiayaan. Siklus produksi kayu manis yang panjang membuat banyak petani kesulitan memperoleh kredit yang sesuai dengan pola tanamnya.
Ketiga, standar mutu dan keamanan pangan. Pasar internasional semakin ketat dalam hal regulasi, pelabelan, dan uji produk. Tanpa kesiapan standar, komoditas kita bisa tersingkir oleh hambatan teknis.
Keempat, dominasi ekspor bahan mentah. Selama struktur ini tidak berubah, nilai tambah akan terus mengalir ke luar negeri.
Baca juga: Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Agar kayu manis benar-benar laris di pasar global dan menjadi sumber kesejahteraan, ada beberapa langkah yang perlu segera dilakukan.
Pertama, membangun infrastruktur mutu di sentra produksi. Rumah pengeringan higienis, fasilitas sortasi, dan laboratorium uji mutu harus tersedia di tingkat koperasi atau kelompok tani.
Kedua, memperkuat pembiayaan berbasis daur tanaman. Skema kredit perlu disesuaikan dengan siklus panen kayu manis yang mencapai bertahun-tahun.
Ketiga, mempercepat hilirisasi berbasis koperasi dan UMKM. Produk seperti bubuk kayu manis, potongan standar ekspor, hingga minyak atsiri dapat dikembangkan di tingkat daerah.
Keempat, memperluas sertifikasi dan Indikasi Geografis untuk meningkatkan reputasi produk Indonesia di pasar global.
Selama ini keberhasilan ekspor sering diukur dari volume dan nilai perdagangan. Namun bagi komoditas rakyat seperti kayu manis, ukuran yang lebih penting sebenarnya adalah kesejahteraan pekebun.
Jika Indonesia ingin menjadikan kayu manis sebagai ikon rempah modern, maka jawabannya harus terlihat di desa-desa penghasil kayu manis, seperti di Kerinci, Sumatera Barat, hingga sentra-sentra baru di berbagai daerah.
Baca juga: Cara Budidaya Kayu Manis dengan Benar agar Panennya Berkualitas
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang