Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Hama Kelapa Hibrida yang Bisa Menyebabkan Kerugian

Kompas.com - 10/01/2023, 11:02 WIB
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kelapa hibrida adalah kelapa dari persilangan kelapa dalam dengan kelapa genjah. Hasil persilangan tersebut akan mendapatkan varietas baru yang memiliki sifat unggul.

Meskipun memiliki sifat unggul, budidaya kelapa hibrida tetap berisiko terserang hama tanaman. Dilansir dari Cybext Kementerian Pertanian, Selasa (10/1/2023), hama kelapa hibrida bisa menyerang pucuk tanaman, daun, bunga, hingga buah. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Baca juga: Cara Menanam Kelapa Hibrida yang Benar agar Berbuah Lebat

1. Kumbang nyiur

Kumbang nyiur atau Oryctes rhinoceros merupakan salah satu hama yang menyerang kelapa hibrida. Hama ini bisa menyerang pucuk tanaman kelapa hibrida.

Ilustrasi Oryctes rhinoceros atau kumbang nyiur pada kelapaShutterstock/pittaya Ilustrasi Oryctes rhinoceros atau kumbang nyiur pada kelapa

Saat tanaman kelapa berumur 0 hingga 1 tahun, kumbang nyiur akan melubangi pangkal batang dan menyebabkan titik tumbuh mati. Sementara itu, pada kelapa yang sudah dewasa akan terlihat lubang di bagian pelepah muda yang belum terbuka.

Selain itu, daun tanaman juga akan terlihat seperti tergunting berbentuk segitiga. Hama ini bisa dikendalikan dengan cara mengaplikasikan agensia hayati, membuang batang kelapa yang sudah ditebang, dan mengaplikasikan pestisida 2 bulan sekali.

Baca juga: Cara Budidaya Kelapa Hibrida, Bisa Ditanam di Lahan Gambut

2. Kumbang sagu

Jenis hama kelapa hibrida lainnya yang dapat menyerang pucuk tanaman kelapa yaitu kumbang sagu. Kumbang ini bisa menyebabkan akar tanaman kelapa yang masih muda rusak.

Sementara itu, saat tanaman sudah dewasa akan terlihat kerusakan pada bagian tajuk dan membuat pucuk tanaman patah. Untuk mengendalikan hama ini bisa dilakukan dengan memotong dan membakar bagian tanaman yang terserang, membersihkan kebun, dan mengaplikasikan insektisida.

Ilustrasi belalang.UNSPLASH/JULIUS JANSSON Ilustrasi belalang.

3. Belalang

Belalang juga termasuk hama yang menyerang tanaman kelapa. Belalang dapat merusak daun, kulit buah, maupun bunga. Serangan paling parah menyebabkan daun kelapa habis dan hanya tersisakan lidinya saja.

Cara mengendalikan belalang bisa dengan mekanis, kultur teknis, biologi, atau kimiawi. Pengendalian secara kimiawi dilakukan saat serangan mulai masif dan berisiko menyebabkan kerugian besar hingga tanaman mati.

Baca juga: Cara Mengendalikan Hama Belalang pada Tanaman Kelapa

4. Ngengat bunga kelapa

Hama kelapa hibrida lainnya yaitu ngengat bunga kelapa. Hama ini menyebabkan lubang pada seludang bunga yang belum terbuka.

Bunga jantan pada tanaman kelapa menjadi kehitaman dalam waktu singkat. Sedangkan bunga betinanya akan mengeluarkan getah dan rontok.

Pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan melapisi lubang pada seludang bunga dengan basudin 60 EC atau disemprot dengan BHC konsentrasi 0,1 persen. Pengendalian lainnya bisa dengan menggunakan parasit sylino.

5. Tikus pohon

Tak hanya menyerang tanaman padi, tikus juga bisa menyerang tanaman kelapa. Jenis tikus yang menyerang kelapa yaitu tikus pohon.

Baca juga: Cara Mengendalikan Hama Tikus dengan Burung Hantu Tyto Alba

Hama ini menyebabkan lubang pad alubang kelapa. Lubang pada sabut dan tempurung menjadi lebih besar.

Ciri lubang akibat serangan tikus pohon yaitu berbentuk tidak rata, terkadang bulat, dan terkadang melebar. Cara mengendalikan tikus pohon dengan memburu atau memasang perangkat. Selain itu, bisa juga dengan membersihkan mahkota daun agar tidak menjadi sarang hama ini.

Itulah sejumlah hama kelapa hibrida yang dapat menyerang pucuk, daun, bunga, dan buah. Lakukan pengendalian sedini mungkin agar serangan hama tersebut tidak menyebar dan mengakibatkan kerugian.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau