Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyakit Busuk Daun Tanaman Kentang: Gejala dan Cara Mengendalikannya

Kompas.com, 17 Februari 2023, 14:58 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembangan budidaya kentang (Solanum tuberosum) memiliki prospek yang cukup menarik guna menunjang program diversifikasi pangan. Sebab, kentang adalah sumber karbohidrat, kalori, mineral, dan protein.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Jumat (17/2/2023), sebagai bahan pangan, kentang dapat diolah menjadi bermacam-macam hasil olahan, seperti kentang goreng, tepung kentang, keripik kentang, perkedel, dan lainnya.

Dalam budidaya kentang, salah satu faktor yang dapat menyebabkan rendahnya produksi adalah adanya serangan penyakit, apalagi jika penyakit itu merupakan penyakit yang membahayakan tanaman kentang.

Baca juga: Cara Menanam Kentang di Polybag, Mudah dan Hemat Tempat

Ilustrasi menanam kentang, budidaya kentang. SHUTTERSTOCK/MADLEN Ilustrasi menanam kentang, budidaya kentang.

Salah satu penyakit tanaman kentang adalah busuk daun atau hawar daun. Busuk daun tanaman kentang disebabkan oleh cendawan Phytopthora infestans.

Jika serangannya sudah parah, tanaman kentang akan mati. Dengan matinya tanaman kentang tentunya umbi yang ditunggu-tunggu hasilnya akan mengecewakan.

Bila umbi yang sakit ditanam, cendawan akan naik ke tunas muda dan membentuk konidium. Konidium dapat dipencarkan atau disebarkan oleh angin ke tanaman lain melalui tanaman kentang yang sakit atau pun tanaman lain yang merupakan inang penyakit tersebut.

Tananam inang atau tanaman yang dapat membantu penyebaran penyakit busuk daun, salah satunya tanaman tomat.

Baca juga: 6 Penyakit Pada Kentang dan Cara Mengendalikannya

Kelembapan dan suhu sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Kondisi suhu dan kelembaban yang cocok untuk berkembangnya penyakit.

Apabila kondisi pertanaman kentang mempunyai suhu udara antara 16 hingga 24 derajat celcius dan kelembapannya tinggi (musim hujan), penyakit akan berkembang hebat.

Ilustrasi kentang, menanam kentang.SHUTTERSTOCK/NEDNAPA Ilustrasi kentang, menanam kentang.

Adapun pertanaman kentang yang ditanam di dataran rendah, umumnya serangan penyakit tidak begitu berat karena di dataran rendah mempunyai suhu udara yang tinggi.

Pada suhu udara yang tinggi, cendawan Phytophthora infestans tidak berkembang dengan baik.

Baca juga: Catat, Begini Cara Panen dan Pasca Panen Kentang yang Benar

Pencaran atau penyebaran penyakit busuk daun umumnya terjadi pada pertanaman kentang yang dibudidayakan di Jawa, Sumatera, Bali, Lombok dan Sulawesi Selatan.

Oleh karena itu, bagi petani yang sedang mengusahakan tanaman kentang perlu waspada terhadap kehadiran penyakit busuk daun tersebut.

Ilustrasi kentang, menanam kentang. SHUTTERSTOCK/NEDNAPA Ilustrasi kentang, menanam kentang.

Gejala penyakit busuk daun

Penyakit ini dapat menyerang daun maupun umbi kentang. Jika penyakit menyerang daun, pada tingkat awal serangan timbul bercak nekrotik pada bagian tepi dan ujung daun.

Gejala ini bertahan atau berkembang lambat pada varietas kentang yang tahan penyakit, misalnya varietas Merbabu-17, Cosima, Segunung dan varietas Cipanas atau pada cuaca kering.

Baca juga: Simak, Cara Menanam Kentang di Musim Hujan

Pada gejala serangan tingkat lanjut, akan muncul bercak-bercak nekrotik yang berkembang ke seluruh daun tanaman dan menyebabkan matinya bagian tanaman yang ada di atas tanah.

Ilustrasi menanam kentang. PEXELS/PIXABAY Ilustrasi menanam kentang.

Gejala serangan pada daun umumnya muncul setelah tanaman berumur lebih dari satu bulan. Hal ini terutama terjadi pada varietas rentan (varietas yang tidak tahan serangan penyakit) dan kelembapan cukup tinggi pada suhu yang tidak terlalu rendah.

Jika penyakit menyerang umbinya, pada umbi kentang yang diserang penyakit tersebut terdapat bercak berwarna coklat atau hitam ungu, masuk ke dalam umbi sedalam 3 sampai 6 mm.

Gejala ini akan nampak waktu umbi kentang itu digali atau pun waktu umbi kentang tersebut dalam penyimpanan.

Baca juga: Cara Budidaya Kentang di Polybag, Bisa Panen dalam 10 Minggu

Gejala penyakit akan nampak lebih jelas setelah penyimpanan dan dapat menutup seluruh permukaan umbi sehingga umbi akan membusuk karena perkembangan penyakit dan adanya organisme sekunder.

Hal ini terjadi terutama apabila tidak ada upaya pengendalian terhadap penyakit tersebut.

Cara mengendalikan penyakit busuk daun tanaman kentang

Upaya untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, fisik atau mekanis, biologis, atau kimiawi.

1. Cara kultur teknis

Hindari menanam kentang berdekatan dengan tanaman inang seperti tomat, terutama yang lebih tua agar tidak terjadi penularan penyakit.

Baca juga: Cara Menanam Kentang Hitam, Tanaman Pangan yang Potensial

Upayakan lingkungan pertanaman kentang selalu bersih, misalnya membuang atau mengumpulkan sisa-sisa tanaman yang terserang kemudian dimusnahkan,misalnya dibakar agar tidak menyadi sumber penyebaran penyakit.

Bisa juga dengan menanam varietas yang tahan penyakit busuk daun maupun menggunakan benih kentang atau umbi yang sehat, tidak cacat dan benih tersebut bukan berasal dari pertanaman kentang yang diserang penyakit.

Ilustrasi kentang, menanam kentang.SHUTTERSTOCK Ilustrasi kentang, menanam kentang.

2. Cara fisik atau mekanis

Bagian tanaman yang terserang penyakit, terutama pada saat serangan awal dipetik, dimasukkan ke dalam kantong, kemudian dimusnahkan atau dibakar agar bagian tanaman yang sakit tersebut tidak menjadi sumber penyebaran penyakit.

3. Cara biologis

Cara pengendalian ini dapat menggunakan agens hayati, misalnya dengan cendawan Trichoderna atau Gliocladium dengan dosis penyemprotan 10 gram per liter air ditambah dengan zat perekat.

Baca juga: Mudah, Begini Cara Menanam Kentang untuk Pemula

4. Cara kimiawi

Cara ini baru dilakukan apabila cara-cara pengendalian sulit dilakukan atau serangannya sudah parah dengan fungisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleh pemerintah dengan bahan aktif mankozeb, propinep, klorotalonil, atau simoxanil.

Cara penggunanaan fungsida tersebut dapat dilihat pada kemasannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau