
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Selain itu, ada juga program perlindungan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan bagi buruh tani. Komitmen daerah ini patut dijadikan teladan nasional.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, "Jawa Timur siap menjadi motor swasembada gula nasional. Lewat program bongkar ratoon, kami ingin petani sejahtera dan ketahanan pangan terwujud."
Namun, tantangan tetap ada. Mengubah kebiasaan petani bukan perkara mudah. Sosialisasi masif dan pendampingan intensif dibutuhkan.
Penyuluh dan petugas lapangan memegang peran sentral dalam memberi pemahaman bahwa tanam ulang bukan beban, melainkan investasi jangka panjang.
Perlu pula kepastian harga gula yang menguntungkan petani agar mereka termotivasi ikut program.
Di sisi lain, modernisasi pabrik gula dan efisiensi rantai pasok juga harus menyusul. Produktivitas tinggi dari lahan hanya akan berdampak maksimal jika ditunjang sistem hilir yang efisien.
Pemerintah dan pelaku industri perlu bersinergi untuk memastikan setiap tetes nira dari ladang benar-benar menjadi gula berkualitas.
Apakah ini cukup untuk swasembada? Belum tentu. Namun tanpa bongkar ratoon, mimpi itu nyaris mustahil.
Baca juga: Anomali Pasokan Kakao: Analisa dan Solusi untuk Industri
Bongkar ratoon adalah fondasi. Tanpa lahan produktif dan tanaman sehat, sebanyak apa pun pabrik gula dibangun, tidak akan berarti.
Maka, memulai dari hulu adalah keputusan bijak. Jika semua pihak konsisten, target swasembada gula konsumsi pada 2026-2027 bukan sekadar ambisi.
Jawa Timur memegang kunci. Dengan kontribusi lebih dari setengah produksi gula nasional, keberhasilan bongkar ratoon di provinsi ini akan menentukan nasib ketahanan gula Indonesia.
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, tapi langkah awal telah diambil. Tinggal memastikan bahwa kebijakan bagus ini tidak berhenti di seremoni.
Bila konsisten, hasilnya akan manis, se-manis cita-cita yang kita impikan, yaitu mandiri gula, pendapatan petani meningkat, dan berkelanjutan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.