Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Menjaga Masa Depan Karet Indonesia

Kompas.com, 11 Januari 2026, 11:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SURIP Umar, petani karet tradisional di Sembawa, Musi Banyuasin, menggambarkan betapa sempitnya pilihan hidup yang kini dihadapi banyak petani karet.

Ketika harga karet jatuh di bawah Rp 10.000 per kilogram, menyadap pohon karet, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung nafkah keluarga, tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam kondisi seperti ini, beralih profesi menjadi buruh bangunan, ojek, atau pekerja serabutan bukan lagi pilihan, melainkan jalan bertahan hidup.

Jika gejala ini terjadi secara luas, Indonesia bukan hanya kehilangan salah satu komoditas ekspor pentingnya, tetapi juga kehilangan denyut ekonomi pedesaan yang selama ini menopang jutaan keluarga petani.

Sesungguhnya, masa depan karet Indonesia tidak ditentukan di bursa komoditas dunia semata, melainkan di kebun-kebun kecil milik petani seperti Surip Umar.

Ketika petani kehilangan harapan untuk hidup layak dari karet, bangsa ini kehilangan lebih dari sekadar devisa ekspor, kita kehilangan pilar sosial dan ekonomi desa.

Menjaga masa depan karet Indonesia berarti menjaga martabat petani dan memastikan mereka memperoleh bagian yang adil dari nilai besar yang mereka ciptakan.

Ini bukan semata pilihan kebijakan ekonomi, melainkan kewajiban moral bangsa yang menjadikan pertanian dan perkebunan sebagai fondasi kesejahteraan rakyatnya.

Komoditas strategis yang tergerus

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen karet alam terbesar di dunia, bersanding dengan Thailand sebagai penghasil utama.

Tahun 2024 Indonesia memproduksi sekitar 2,6 juta ton karet alam, dan nilai ekspor mencapai sekitar 5,51 miliar dollar AS (sekitar Rp 82,6 triliun) mencakup nilai seluruh ekspor karet (natural rubber & produk terkait).

Secara historis, produksi dan ekspor karet mengalami dinamika tajam, terutama dalam satu dekade terakhir di mana volume ekspor terus merosot dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Lebih dari 90 persen produksi karet Indonesia berasal dari petani kecil, yang luas lahannya tersebar di daerah seperti Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Kebanyakan petani memiliki lahan di bawah tiga hektare dan menggantungkan seluruh hidupnya dari rubber tapping, proses menyadap getah karet yang hasilnya sangat bergantung pada harga internasional.

Meski demikian, tekanan harga dunia dan dinamika pasar internasional sering kali menghadapkan petani kecil pada pilihan hidup yang sulit.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga karet di tingkat petani sempat terjun dari sekitar Rp13.500/kg menjadi sekitar Rp10.500/kg hanya dalam hitungan minggu.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau