
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Tanpa intervensi yang serius dalam peremajaan tanaman dan peningkatan keterampilan teknologi, hasil karet Indonesia akan terus tertinggal dari potensi maksimalnya.
Hilirisasi karet adalah salah satu solusi strategis yang sering diangkat dalam diskursus publik. Indonesia memiliki kapasitas untuk memperluas industri pengolahan karet, seperti produksi bokar (bahan olah karet), ban, dan produk karet lain yang bernilai tambah tinggi.
Beberapa langkah positif sudah dijalankan, seperti pembentukan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB) di berbagai sentra produksi.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 450 UPPB tersebar di sentra utama seperti Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalbar, yang mampu mengolah sebagian produksi menjadi bokar dengan harga jual 10–15 persen lebih tinggi dibanding penjualan langsung ke tengkulak.
Namun, angka ini masih jauh dari ideal. Sebagian besar kebun rakyat tetap menjual getah karet mereka ke pasar lokal tanpa proses nilai tambah.
Masa depan karet Indonesia sangat ditentukan oleh keberhasilan membenahi ekosistem di hulu, bukan semata mengejar angka produksi nasional.
Sebagai komoditas strategis penyumbang devisa dan penyerap tenaga kerja, karet seharusnya menjadi penopang utama ekonomi pedesaan.
Namun, tanpa tata kelola yang berpihak pada petani, sektor ini justru berisiko mempertahankan lingkaran ketidakpastian pendapatan dan melemahkan minat generasi muda untuk bertahan di kebun karet.
Penguatan hulu perlu dimulai dari jaminan keberlanjutan pendapatan petani melalui perlindungan harga yang adil dan stabil.
Skema penyangga harga atau insentif produksi menjadi penting agar fluktuasi pasar global tidak langsung menekan kesejahteraan petani.
Upaya ini harus berjalan seiring dengan percepatan peremajaan kebun rakyat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas getah, sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah.
Di sisi lain, peningkatan kesejahteraan petani karet tidak akan berkelanjutan tanpa penguatan kelembagaan dan akses teknologi.
Koperasi produksi dan pemasaran, termasuk pembentukan unit usaha bersama seperti UPPB, dapat memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok.
Dukungan teknologi dan pelatihan agronomi modern juga krusial untuk menekan biaya, meningkatkan efisiensi, dan menjaga mutu hasil.
Dengan pendekatan yang terintegrasi antara kebijakan harga, peremajaan, kelembagaan, dan teknologi, karet berpeluang kembali menjadi penggerak ekonomi desa yang tangguh dan berkelanjutan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang