
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Walaupun sempat naik beberapa kali, fluktuasi yang tajam ini menciptakan ketidakpastian pendapatan bagi petani.
Masalah bagi petani tradisional bukan hanya sekadar harga rendah, tetapi juga ketidakadilan struktural dalam rantai nilai global.
Di pasar internasional, harga karet didorong oleh permintaan sektor otomotif dan industri ban yang mengonsumsi lebih dari 70 persen karet alam dunia serta oleh mekanisme perdagangan global yang tidak selalu berpihak pada produsen kecil.
Petani karet tradisional kerap menjadi penyuplai bahan mentah yang harga dan kualitasnya ditentukan oleh perantara atau pabrik pengolahan.
Sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati di hilir industri, dalam bentuk produk bernilai tinggi seperti ban, komponen kendaraan, dan peralatan industri lainnya.
Ketimpangan ini menciptakan situasi di mana petani terus bekerja keras tanpa menerima bagian keuntungan yang layak dari produk yang mereka hasilkan.
Selain itu, tantangan penelusuran dan sertifikasi untuk ekspor yang memenuhi standar global semakin menambah beban petani tradisional Indonesia.
Regulasi seperti Undang-Undang Bebas Produk Deforestasi Uni Eropa (EUDR) menuntut tingkat ketelusuran tinggi dalam rantai pasok komoditas.
Bagi petani kecil, memenuhi persyaratan administratif dan dokumentasi yang kompleks ini adalah beban berat di tengah harga komoditas yang masih rendah di tingkat hulu.
Peluang yang Belum Terealisasi Optimal
Salah satu problem struktural yang paling mendasar adalah rendahnya produktivitas tanaman karet di tingkat petani.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa luas lahan karet di Indonesia tetap besar, tetapi produktivitasnya menurun akibat banyak tanaman sudah tua, kurangnya peremajaan kebun, terbatasnya akses terhadap teknologi, serta minimnya modal untuk pemeliharaan intensif.
Misalnya, dibandingkan produktivitas di negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam, produktivitas karet Indonesia masih tertinggal.
Tantangan ini diperparah oleh serangan hama dan penyakit seperti walau belum sepenuhnya tertangani, yang berdampak pada hasil getah dan kualitas bahan baku.
Rendahnya produktivitas bukan hanya soal jumlah getah yang dihasilkan per hektare. Ini juga soal kapasitas petani mengakses teknologi modern, pemupukan, dan manajemen kebun yang efisien.