
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Banyak kebun yang sudah tua, belum diremajakan, dan belum sepenuhnya menerapkan praktik budidaya baik (Good Agricultural Practices/GAP).
Pascapanen pun kerap menjadi titik lemah, di mana pengeringan tidak seragam, kadar air tinggi, dan sortasi belum standar.
Jika produktivitas stagnan dan kualitas tidak konsisten, maka lonjakan ekspor bisa bersifat sementara, bergantung pada siklus harga global, bukan pada kekuatan struktural daya saing.
Hilirisasi sering terdengar sebagai jargon besar. Namun, dalam konteks mete, hilirisasi bisa dimulai dari langkah yang sangat konkret dan realistis.
Tentunya hal pertama yang harus dilakukan adalah penguatan unit pascapanen di dekat sentra produksi. Perlu dipastikan ketersediaan rumah pengering bersama, fasilitas sortasi dan grading, serta penyimpanan yang memadai. Kualitas yang konsisten adalah tiket masuk pasar premium.
Selanjutnya, investasi bertahap dalam pengolahan seperti pemecahan kulit, produksi kernel, roasting, hingga pengemasan siap konsumsi.
Tidak semua sentra harus langsung memiliki pabrik besar. Model koperasi atau kemitraan dengan industri pengolahan dapat menjadi jembatan.
Kemudian standardisasi mutu dan keterlacakan. Di pasar global, pembeli tidak hanya melihat harga, tetapi juga keamanan pangan dan konsistensi grade. Sistem pencatatan lot produksi, pelabelan, dan sertifikasi dapat meningkatkan posisi tawar.
Konsentrasi ekspor ke satu atau dua negara utama memang efisien dalam jangka pendek, tetapi berisiko dalam jangka panjang.
Jika pasar utama mengalami perlambatan ekonomi, perubahan standar teknis, atau kebijakan perdagangan baru, dampaknya akan langsung terasa hingga tingkat petani.
Karena itu, diversifikasi pasar menjadi penting. Pemerintah, melalui diplomasi dagang dan promosi ekspor, perlu membuka akses yang lebih luas ke Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Utara, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai produsen mete olahan.
Agar kejayaan mete tidak semu, negara harus hadir secara utuh dari hulu hingga hilir. Di tingkat hulu, agenda peremajaan kebun, distribusi bibit unggul, penguatan penyuluhan Good Agricultural Practices (GAP), hingga adaptasi terhadap perubahan iklim tidak bisa ditunda.
Produktivitas yang stagnan dan mutu yang tidak seragam akan menjadi batu sandungan bagi ambisi hilirisasi.
Tanpa bahan baku yang stabil dan berkualitas, industri pengolahan dalam negeri hanya akan menjadi wacana.
Karena itu, investasi terbesar justru harus dimulai dari kebun-kebun rakyat, tempat nilai awal komoditas ini diciptakan.