
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Di tengah rantai nilai, pemerintah perlu mendorong transformasi struktural. Insentif fiskal untuk investasi pengolahan, kemudahan akses pembiayaan melalui KUR dan skema penjaminan, serta penguatan koperasi dan UMKM agar mampu memenuhi standar ekspor merupakan kunci agar nilai tambah tidak “bocor” ke luar negeri.
Hilirisasi mete tidak harus langsung melompat menjadi merek global, tapi bisa dimulai dari konsistensi grading, pengolahan kernel, hingga pengemasan yang memenuhi standar keamanan pangan internasional.
Bersamaan dengan itu, diplomasi perdagangan dan promosi merek nasional harus diperkuat agar mente Indonesia dikenal bukan sekadar sebagai bahan baku murah, melainkan produk berkualitas dengan cerita asal-usul yang kuat.
Tata kelola data perdagangan dan produksi pun perlu dibenahi, karena kebijakan yang presisi hanya mungkin lahir dari statistik yang akurat dan transparan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah angka ekspor semata, melainkan dampaknya pada kesejahteraan petani.
Lonjakan nilai dan volume ekspor memang membuktikan bahwa mete Indonesia masih kompetitif dan diminati pasar global.
Namun, kejayaan itu baru utuh jika peningkatan nilai per kilogram benar-benar diterjemahkan menjadi harga yang lebih baik di tingkat kebun, akses pembiayaan yang lebih adil, serta peluang kerja baru di sektor pengolahan lokal.
Kita mungkin belum sebesar negara-negara eksportir utama dunia, tetapi kita bukan pemain kecil. Kita sudah berada di radar global.
Kini saatnya memastikan bahwa kejayaan mete tidak berhenti di pelabuhan, melainkan mengalir hingga ke rumah tangga petani dan menjadi simbol bahwa pertanian rakyat Indonesia mampu naik kelas dan mengelola masa depannya sendiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang