Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Begini Cara Panen dan Pasca-panen Tanaman Sagu

Kompas.com - 12/07/2023, 12:42 WIB
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Sagu termasuk tanaman pangan selain padi yang tumbuh di Indonesia. Tanaman ini sangat penting karena sebagian masyarakat Indonesia mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok.

Jika padi dipanen bagian bijinya, maka sagu dipanen bagian batangnya. Pemanenan sagu dilakukan saat tanaman ini sudah berumur 6 hingga 7 tahun.

Lantas, bagaimana cara panen tanaman sagu yang benar? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Baca juga: Cara Budidaya Sagu, Bisa Jadi Subsitusi Pangan

Cara panen tanaman sagu

Dikutip dari Cybext Kementerian Pertanian, Rabu (12/7/2023), panen sagu diawali dengan membersihkan jalan masuk ke rumpun tanaman tersebut. Kemudian, bersihkan juga batang yang akan dipotong untuk mempermudah proses penebangan dan pengangkutan.

Ilustrasi tanaman sagu.Shutterstock/ISEN STOCKER Ilustrasi tanaman sagu.

Sago dipotong sedekat mungkin dengan akar. Pemotongan batang sagu dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pemotong seperti gergaji mesin.

Batang yang sudah dipotong kemudian dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya akar pada bagian tersebut kandungan acinya rendah. Dengan demikian, hanya tersisa gelondongan batang sagu sepanjang 6 sampai 15 meter.

Gelondongan batang ini dipotong-potong hingga ukurannya menjadi 1 sampai 2 meter. Pemotongan ini dilakukan untuk mempermudah proses pengangkutan.

Baca juga: Ciri-ciri Tanaman Sagu Siap Panen, Apa Saja?

Pasca-panen tanaman sagu

Sagu yang sudah dipanen tidak bisa langsung dikonsumsi. Tanaman sagu perlu diolah terlebih dahulu hingga siap untuk dinikmati. Adapun tahapan pasca-panen tanaman sagu yang penting untuk dilakukan, seperti berikut:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau