Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Tanaman Sorgum yang Potensial Jadi Bahan Pangan

Kompas.com - 15/08/2022, 12:07 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Sorgum disebut sebagai tanaman serealia yang berpotensi menjadi bahan pangan alternatif. Sorgum memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan jagung dan beras.

Oleh karena itu, sorgum dapat dimanfaatkan sebagai penyangga pangan penduduk di Indonesia. Pengembangan sorgum diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan, diversifikasi pangan, dan ketahanan pangan.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Senin (15/8/2022), penggunaan sorgum mulai dari bagian biji, tangkai biji, daun, batang dan akar dapat dimanfaatkan sebagai produk utama langsung maupun turunannya.

Baca juga: Jokowi Harap RI Tak Bergantung pada Beras, Sedang Tingkatkan Produksi Jagung dan Sorgum

Pemerintah Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT melaksanakan Panen Raya Sorgum di wilayah, Selasa, (5/4/2022). Sorgum juga menunjang asupan gizi bagi keluarga di Kecamatan tersebut. (KOMPAS.com/CAMAT LAMBALEDA UTARA-AGUSTINUS SUPRATMAN)KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pemerintah Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT melaksanakan Panen Raya Sorgum di wilayah, Selasa, (5/4/2022). Sorgum juga menunjang asupan gizi bagi keluarga di Kecamatan tersebut. (KOMPAS.com/CAMAT LAMBALEDA UTARA-AGUSTINUS SUPRATMAN)

Produk utama sorgum adalah biji, daun dan batang. Biji sorgum memiliki kandungan tepung dan pati yang potensial. Daunnya dapat digunakan untuk pakan ternak, sementara batang sorgum sebagai bahan baku gula dan bioethanol.

Buah sorgum merupakan biji-biji yang tertutup oleh kulit yang liat dan berwarna kekuning-kuningan atau kecoklat-cokelatan. Warna bijinya bervariasi yaitu cokelat muda, putih dan putih buram.

Bentuknya juga bermacam-macam, ada yang agak bulat, ada juga yang agak pipih. Berat bijinya adalah 0,45 kg.

Biji sorgum sifatnya ada yang keras dan ada yang lunak dengan endosperm berwarna putih. Akar sorgum adalah akar serabut, akar lateral yang halus letaknya agak ke dalam dengan ruang lingkup akar sedalam 1,35 sampai 1,8 meter, panjang 10,8 meter.

Baca juga: Indofood Akan Buat Mi Instan dari Sorgum sebagai Pengganti Gandum, Apa Itu?

Akar tunjangannya cukup banyak dan keluar dari hampir setiap buku-buku atau ruas-ruas.

Karakteristik tanaman sorgum adalah sebagai berikut.

Ilustrasi sorgum. PIXABAY/VIJAYANARASIMHA Ilustrasi sorgum.

1. Adaptasi cukup luas

Sorgum dapat tumbuh pada lahan marginal dan toleran terhadap cekaman lingkungan. Daya adaptasi merupakan keunggulan utama sorgum.

Di Indonesia, sorgum cocok ditanam di lahan kering, karena kebutuhan airnya sedikit.

Baca juga: Gandum Mahal, Indofood Kembangkan Mi Instan Berbahan Sorgum

2. Keragaman genetik tinggi

Sorgum memiliki tingkat keragaman yang tinggi mulai dari umur, tinggi tanaman, warna biji, dan rasa biji sehingga memudahkan pemulia tanaman untuk menciptakan varietas baru untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan agroekologi.

3. Budidaya mudah

Budidaya sorgum mudah, tidak seperti padi dan jagung. Benih sorgum dapat tumbuh dengan baik pada berbagai lahan dan mampu beradaptasi pada kondisi kekeringan.

4. Risiko gagal panen kecil

Budidaya sorgum mudah dengan biaya yang relatif murah, dapat ditanam secara monokultur maupun tumpangsari dan produktivitasnya tinggi. Di samping itu, sorgum lebih tahan terhadap hama dan penyakit.

Dengan demikian, risiko kegagalan panen relatif kecil serta memiliki kemampuan tumbuh Kembali setelah panen (ratun) sehingga akan mengurangi biaya produksi. 

Baca juga: Harga Gandum Meningkat, Komisi IV Dukung Kementan Perluas Substitusi Pangan Lokal dengan Sorgum

5. Komoditas ekspor

Pengembangan sorgum diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor sebagai bahan baku pakan, industri makanan dan minuman.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau