Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Membuat Pupuk Tanaman Pakai Garam Dapur

Kompas.com, 23 Agustus 2022, 14:18 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu aspek penting dalam budidaya tanaman adalah pemberian pupuk. Jenis pupuk yang dapat diberikan ke tanaman adalah pupuk organik dan pupuk kimia.

Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat pupuk organik untuk tanaman adalah garam dapur. Selain murah dan mudah ditemukan, menggunakan garam sebagai pupuk juga memiliki banyak keunggulan.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Selasa (23/8/2022), disarankan untuk menggunakan garam Epsom atau garam inggris karena memiliki kandungan magnesium dan sulfur yang dibutuhkan tanaman.

Baca juga: Jenis Pupuk Bunga Mawar dan Aplikasinya yang Benar

Ilustrasi garam epsom. SHUTTERSTOCK/INEWSFOTO Ilustrasi garam epsom.

Banyak petani dan penggemar tanaman organik beralih ke garam dapur sebagai pupuk tanaman. Beberapa kalangan petani sawit, cengkeh, kakao, lada, ataupun padi seringkali menggunakan garam sebagai pupuk organik untuk membantu peningkatan produksi panen.

Tidak hanya itu, tanaman seperti semangka, wortel, cabe, kol, brokoli, kubis, buncis, tomat, bawang, kacangpanjang, polong-polongan juga dapat diberikan pupur garam dapur.

Selain itu, tanaman pohon seperti jeruk, alpukat, mangga, manggis, durian, apel, dan nangka juga sering dipupuk dengan pupuk garam agar buahnya lebih manis dan besar.

Berdasarkan penelitian dari Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, garam dengan kandungan kimiawi NaCl dapat menggantikan pupuk KCl dengan dosis tertentu.

Baca juga: Manfaat Pupuk NPK Mutiara untuk Tanaman Padi dan Cara Menggunakannya

Adapun salah satu pengajar di Insititut Pertanian Bogor (IPB) melakukan riset tentang pengaruh pemupukan garam pada tanaman melon pada tahun 1980-an dan hasilnya menunjukan adanya korelasi positif dengan tinkat kemanisan buah melon.

Para petani di Indonesia juga sudah menggunakan garam sebagai pupuk, seperti petani jeruk di Kalimantan Barat di mana tanaman jeruk yang ditanam dengan air garam menghasilkan buah dengan rasa yang lebih manis daripada biasanya. Kemudian, sekelompok petani di pulau Jawa menggunakan pupuk garam untuk tanaman.

Ilustrasi garam. FREEPIK/RACOOL_STUDIO Ilustrasi garam.

Ada juga petani yang menggunakan garam untuk memberantas hama yang merusak tanaman mereka seperti tanaman kacang-kacangan, polong-polongan, bayam, sawi, kubis, kangkong, tomat, dan brokoli.

Hama serangga yang biasanya menyerang tanaman-tanaman tersebut peka terhadap garam dan akan menjauhkan diri dari kebun jika ada kandungan garam.

Baca juga: Mengenal Jenis-jenis Pupuk Organik untuk Tanaman

Selain itu, pupuk garam juga pernah dipakai oleh petani cabai untuk mengembalikan daun cabai yang keriting dan petani padi untuk membuat bulir padinya menjadi lebih bernas.

Manfaat pupuk dari garam dapur

Salah satu manfaat garam untuk tanaman dalam bentuk pupuk adalah membantu penetralan tanah asam dan alkalis, di mana tanah yang pH-nya basa tergolong tanah alkali. Biasanya, tanah ini butuh pendinginan selama beberapa minggu, namun dengan memberikan larutan garam, tanah itu bisa dimanfaatkan langsung.

Garam juga memiliki kandungan unsur Natrium (Na) dan Chlor (Cl) yang dapat mensubstitusi unsur Kalium (K) dalam tanah. Kalium tersebut merupakan salah satu unsur makro yang sangat diperlukan tanaman pertanian.

Sodium (Na+) dan Klor (Cl-) adalah kandungan dari garam yang merupakan unsur mikro yang dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang.

Baca juga: Cara Membuat Pupuk Alami untuk Cabai Rawit agar Berbuah Lebat

NaCl adalah unsur kimiawi yang dapat perkaya kehadiran mikroorganisme tanah seperti cacing, bakteri, dan lainnya sehingga tanah pertanian lebih subur. NaCl dapat menghindari dehidrasi saat musim kemarau dengan cara mempertahankan kandungan air dalam tanah. 

Postasium klorida bisa menarik unsur hara yang diperlukan secara tidak langsung seperti makro dan mikronutrien. Bisa langsung dimanfaatkan melalui proses dekomposisi dan dekomposer.

Bisa digunakan untuk membunuh bakteri dan jamur yang membawa penyakit untuk tanaman supaya tidak mudah sakit atau memiliki daya tahan yang lebih tinggi. 

Ilustrasi garam.FREEPIK/8PHOTO Ilustrasi garam.

Membuat kemampuan mikroorganisme agar menghasilkan unsur hara esensial secara terus-menerus dan dapat bertahan lama dan tidak mudah hanyut karena hujan. 

Baca juga: Panduan Tepat Mengaplikasikan Pupuk untuk Jagung agar Buahnya Besar

Pupuk dari garam dapur juga bisa memperkuat daya tahan tubuh tumbuhan hijau karena mengandung senyawa ionik. Selain itu, pupuk ini juga dapat memperkuat batang dan akar tanaman

Dengan pupuk dari garam dapur, tanaman menjadi lebih subur dan memilik daun hijau sehat dan lebat. Risiko bunga rontok sebelum waktunya juga dapat dihindari.

Pupuk dari garam pun bisa membuat buah menjadi lebih manis serta mengobati penyakit busuk pada buah dan daun di tanaman sayuran dan buah.

Tidak hanya itu, pupuk dari garam juga bisa mengatasi klorosis dan nekrosis pada tanaman yang biasanya diikuti dengan menguningnya daun dan rontok, serta untuk mengantisipasi atau menanggulangi agar daun tidak mudah gugur.

Baca juga: Panduan Tepat Mengaplikasikan Pupuk untuk Jagung agar Buahnya Besar

Bisa mengusir hama seperti wereng yang sering menyerang padi. Yuk cekmengapa tanaman gulma harus dicabut.

Cara membuat pupuk dari garam dapur

Ada dua cara membuat pupuk dari garam dapur. Berikut penjelasannya.

1. Cara pertama

Larutkan 1 kilogram garam dapur ke dalam 5 liter air, lalu aduk hingga garam larut di air. Pengadukan selesai ketika air menjadi larutan pekat.

Untuk memakai pupuk ini, larutkan sebanyak 50 ml larutan pekat ini ke dalam 1 liter air. Aduk hingga merata dan setelah merata, larutan ini siap diberikan ke tanaman.

ilustrasi garam. Selain sebagai bumbu masakan, garam juga bermanfaat bagi tanaman. FREEPIK/Racool_studio ilustrasi garam. Selain sebagai bumbu masakan, garam juga bermanfaat bagi tanaman.

Jika diperlukan dalam jumlah lebih, Anda hanya perlu mengalikan dosis di atas saja.

2. Cara kedua

Cara kedua cenderung lebih sederhana, yaitu dengan cara mengambil 1 sendok teh garam dan dilarutkan ke dalam 1 liter air dengan cara dikocok sehingga garam hancur dan larut. Setelah larut dan hancur, larutan air sudah bisa digunakan ke tanaman.

Jika diperlukan lebih, maka takarannya hanya perlu dikalikan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
Varietas Tanaman
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Perawatan
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Varietas Tanaman
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau