Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Budidaya Jamur Shiitake, Peluang Bisnis yang Menjanjikan

Kompas.com, 19 Oktober 2022, 08:57 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak jenis jamur konsumsi yang mulai dikembangkan masyarakat Indonesia sebagai peluang usaha. Misalnya, jamur tiram, jamur kuping, jamur merang, jamur lingzhi, jamur champignon atau jamur kancing, jamur hiratake, dan jamur shiitake.

Dikutip dari laman Dinas Pertanian Provinsi Banten, Rabu (19/10/2022), jamur shiitake adalah salah satu jenis jamur kayu yang berasal dari Tiongkok. Meskipun begitu, jamur ini lebih terkenal sebagai jamur khas Jepang.

Nama shiitake memiliki arti jamur dari pohon shii, karena pada awalnya jenis jamur ini banyak ditemukan di batang pohon shii yang telah lapuk. Di kawasan Asia Timur, jamur shiitake banyak dibudidayakan di Tiongkok, Korea dan Jepang.

Baca juga: Mengenal Jamur Kuping, Banyak Manfaatnya untuk Kesehatan

Ilustrasi jamur shiitake. PIXABAY/SPIAGOL56 Ilustrasi jamur shiitake.

Adapun di Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil membudidayakan jamur shiitake sebagai peluang usaha.

Jamur shiitake dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan bahan obat. Jamur ini mengandung asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, meliputi thiamin, riboflavin, niacin, serta beberapa jenis serat dan enzim lainnya.

Jamur shiitake biasa diolah menjadi sup miso, digoreng sebagai tempura, campuran hidangan chawanmushi, udon, keripik jamur dan berbagai jenis olahan lainnya.

Adapun di Rusia, jamur shiitake biasanya dijadikan sebagai acar dan dijual dalam kemasan botol.

Baca juga: Cara Budidaya Jamur Merang, Nilai Ekonominya Tinggi

Pada dasarnya jamur shiitake termasuk jenis jamur yang mudah dibudidayakan. Biasanya jamur ini hidup di batang kayu yang sudah lapuk, dan bisa dipanen setelah 6 sampai 12 bulan.

Namun, kini jamur shiitake bisa dikembangkan menggunakan media buatan dengan masa panen yang lebih singkat, yaitu kurang lebih tiga bulan.

Jamur ShiitakeDok. Wikimedia / Peachyeung316 Jamur Shiitake

Berikut cara budidaya jamur shiitake.

1. Persiapan bibit jamur

Kebutuhan pertama yang perlu Anda siapkan adalah bibit jamur shiitake yang berkualitas. Apabila Anda tidak melakukan pembibitan dari awal, usahakan belilah bibit jamur di penjual yang terpercaya.

Baca juga: Faktor-faktor yang Menyebabkan Kegagalan Budidaya Jamur Tiram

2. Persiapan media tanam

Apabila bibit jamur shiitake telah siap, selanjutnya Anda bisa menyiapkan media tanam yang akan digunakan.

Jamur shiitake membutuhkan serbuk gergaji kayu (80 sampai 90 persen), bekatul (5 sampai 15 persen), kapur (1 persen), air secukupnya (hingga 65 persen), dan tambahan biji-bijian berupa sukrosa, mikroelemen, dan vitamin dengan persentase sekitar 1 sampai 2 persen.

3. Proses fermentasi

Tahapan yang ketiga yaitu proses fermentasi media dengan melakukan pengomposan atau pelapukan. Fermentasi media dilakukan selama empat sampai enam hari.

Lakukan pembalikan setiap harinya hingga media berubah warna menjadi cokelat sampai kehitaman. Proses ini dilakukan untuk mematikan jamur liar dan mempercepat pertumbuhan jamur.

Baca juga: Kenali, 4 Faktor yang Pengaruhi Pertumbuhan Jamur Tiram

4. Sterilisasi baglog jamur

Media yang sudah difermentasikan kemudian dimasukkan ke dalam kantong baglog dan disterilisasikan dalam wadah pengukus untuk menghindari kontaminasi pada media tanam.

Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan panas uap air dengan suhu 95 sampai 110 derajat celcius selama 8 sampai 10 jam. Bila suhu pengukusan mencapai 100 derajat celcius, suhu dipertahankan selama 5 jam agar proses sterilisasi bisa sempurna.

Setelah baglog disterilkan, diamkan selama 24 jam agar suhu baglog kembali normal.

Jamur ShiitakeDok. Unsplash / Kier In Sight Jamur Shiitake

5. Inokulasi

Anda bisa melakukan proses inokulasi atau penanaman pada ruangan steril dengan cara menyemprotkan botol bibit F3 dengan alkohol, dan memanaskan kapas penutup botol pada api spritus hingga sebagian kapas terbakar.

Baca juga: Tahapan Budidaya Jamur Tiram di Rumah, Mudah dan Menguntungkan

Lepaskan kapas penyumbat botol bibit F3, lalu aduk-aduk menggunakan kawat yang telah disterilkan dan penanaman bibit dilakukan di leher baglog hingga terisi penuh. Terakhir, tutup kembali baglog tersebut dengan kapas.

6. Inkubasi

Tahapan berikutnya adalah proses inkubasi. Proses ini dilakukan agar bibit yang telah ditanam segera ditumbuhi miselium.

Inkubasi dilakukan pada suhu ruangan 24 sampai 28 derajat celcius, kelembapan sekitar 95 sampai 100 persen, dan kapasitas cahaya sebesar 20 sampai 100 lux.

Proses ini memakan waktu 30 sampai 50 hari hingga miselium tumbuh hingga setengah permukaan baglog.

Baca juga: 4 Tahapan Budidaya Jamur Merang, Bisa Dilakukan di Rumah

Bila miselium mulai tumbuh memenuhi permukaan baglog, maka baglog jamur siap untuk dibudidayakan di ruang kumbung jamur. Lubangi baglog dengan menggunakan silet yang telah disterilkan.

Pastikan suhu ruangan kumbung sekitar 16 sampai 18 derajat celcius, tingkat kelembapan sekitar 60 sampai 80 persen, dan kapasitas cahaya sekitar 500 sampai 2.000 lux. Selama proses budidaya berlangsung, lakukan penyiraman rutin menggunakan sprayer.

Pasalnya, rangsangan berupa suhu yang dingin dan air yang berlimpah akan mempercepat pertumbuhan tubuh buah jamur shiitake.

Peluang usaha budidaya jamur shiitake dan hal yang harus diperhatikan

Jika dibandingkan dengan harga jamur konsumsi lainnya, jenis jamur shiitake memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Bahkan saat ini harga jamur shiitake segar di pasaran bisa mencapai Rp 30.000 sampai Rp 70.000 per kilogramnya.

Ilustrasi jamur shiitake. SHUTTERSTOCK/ALEXANDER PROKOPENKO Ilustrasi jamur shiitake.

Adapun jamur shiitake kering bisa dijual dengan harga diatas Rp 100.000 per kg. Sehingga tidak heran bila keuntungan yang didapatkan para pelaku usaha budidaya jamur shiitake bisa lebih besar daripada petani jamur lainnya.

Selain harga jualnya masih cukup tinggi, besarnya permintaan jamur shiitake juga menunjukkan peningkatan yang sangat positif. Padahal, jumlah petani jamur shiitake belum sebanyak petani jamur tiram atau jamur konsumsi lainnya.

Kondisi ini tentu bisa Anda manfaatkan sebagai sebuah peluang untuk meraih untung besar dari bisnis budidaya jamur.

Baca juga: Mengenal Baglog Jamur Tiram dan Cara Membuatnya

Dalam menjalankan bisnis budidaya jamur, tentunya dibutuhkan modal wawasan dan ketrampilan, yang didukung dengan ketekunan serta ketelitian dari para pelakunya.

Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mempelajari segala hal tentang teknik budidaya jamur shiitake melalui buku-buku, majalah, video tutorial, maupun mengikuti pelatihan budidaya jamur langsung dari para ahlinya.

Dengan bisnis yang Anda jalankan bisa berjalan lancar dan omzet yang Anda dapatkan bisa semakin besar.

Karena jumlah pelaku bisnis budidaya jamur shiitake masih terbatas, maka usahakan untuk melakukan penjadwalan dalam membudidayakannya.

Baca juga: Cara Budidaya Jamur Tiram Pakai Serbuk Gergaji, Sederhana dan Mudah

Strategi penjadwalan penting untuk dilakukan agar permintaan produk jamur shiitake bisa terus Anda penuhi setiap harinya.

Bila persediaan produk tercukupi, maka perputaran produk pun bisa berjalan lancar dan pastinya omzet yang Anda dapatkan akan semakin besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau